Had Kifayah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Begitu juga bila dilihat dari sudut pandang Islam, angka kemiskinan mungkin saja berbeda karena menggunakan pendekatan yang berbeda. Adapun pendekatan yang digunakan dalam Islam adalah berdasarkan Maqasid Syari’ah dalam rangka menjaga agama (Hifz al-Din), hidup/jiwa (Hifz al-Naf), intelektual (Hifz al-‘Aql), keluarga/keturunan (Hifz al-Nasl) dan harta (Hifz al-Mal).

Badan Pusat Statistik bulan September 2017 merilis, bahwa lebih dari sepuluh persen penduduk Indonesia atau sekitar 26,58 juta orang merupakan penduduk miskin. Penduduk miskin, menurut BPS adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per-kapita per-bulan di bawah garis kemiskinan Indonesia yakni Rp.387.160.

Dalam mengukur kemiskinan, BPS menggunakan pendekatan dasar atau basic need approach, dimana kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluarannya. Sementara itu, Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan internasional sebesar USD 1,90 per hari pada tahun 2015 sebagai standard internasional yang bisa diterapkan di seluruh negara. Dengan besaran USD 1,90 atau sekitar Rp 25.000 per-hari atau Rp 750.000 per-bulan, maka jumlah penduduk Indonesia yang dianggap miskin akan jauh lebih tinggi jika dibandingkan menggunakan garis kemiskinan BPS.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2012 menyebutkan, bahwa Kebutuhan Hidup Layak sebagai standard kebutuhan seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup secara fisik untuk kebutuhan satu bulan yang didasarkan pada komponen: 1)Makanan dan minuman, 2) Sandang, 3) Perumahan, 4) Pendidikan, 5) Kesehatan, 6) Transportasi, dan 7) Rekreasi dan Tabungan.

Begitu juga bila dilihat dari sudut pandang Islam, angka kemiskinan mungkin saja berbeda karena menggunakan pendekatan yang berbeda. Adapun pendekatan yang digunakan dalam Islam adalah berdasarkan Maqasid Syari’ah dalam rangka menjaga agama (Hifz al-Din), hidup/jiwa (Hifz al-Naf), intelektual (Hifz al-‘Aql), keluarga/keturunan (Hifz al-Nasl) dan harta (Hifz al-Mal). Pendekatan dari sudut pandang Islam menjadi penting karena Islam pun mengatur masalah kemiskinan. Salah satu ajaran Islam yang berkaitan dengan penanganan kemiskinan adalah zakat.

B. Pengertian Had Kifayah

Kifayah dalam bahasa Arab berasal dari kata Kafaa-Yakfii-Kifaayah, yang berarti cukup, mencukupi suatu hal yang penting atau mencukupi keperluan untuk hidup dan tidak perlu bantuan orang lain. Selain itu Kifayah juga bisa berarti tidak berkurang dan tidak berlebih, sesuai dengan keperluan. Dalam terminologi Arab, perkataan Kifayah merujuk kepada dua hal utama yaitu makanan dan kemandirian tidak perlu bantuan orang lain.

C. Landasan Syariah Dimensi Had Kifayah

Merujuk pada pengertian Had Kifayah, maka Had Kifayah merupakan batas kecukupan atau standard dasar kebutuhan seseorang/keluarga ditambah dengan kecukupan tanggungan yang ada sebagai upaya menetapkan kelayakan penerima zakat sesuai dengan kondisi wilayah dan sosio-ekonomi setempat. Sabda Rasulullah SAW yang mendorong dirumuskannnya Had Kifayah antara lain: Artinya: ”Bukanlah dikatakan miskin seseorang yang mendatangi manusia, lalu diberikan kepadanya sesuap dua suap makanan dan sebutir dua butir kurma, tapi yang dikatan miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan harta untuk memenuhi kebutuhan layak dan tidak melakukan sesuatu yang membuat orang bersedekah kepadanya, tidak juga meminta-minta dihadapan manusia” (HR. Bukhari Muslim).

Hadis tersebut memberi pamahaman bahwa secara singkat Had Kifayah adalah sebuah kondisi layak hidup seseorang serta mereka yang berada dalam tanggungannya. Had Kifayah juga merupakan level yang lebih tinggi dari sekedar Had Kafaf (batas minimum) dan sifat Had Kifayah bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perubahan tempat dan waktu.

D. Dimensi Had Kifayah

Had Kifayah berangkat dari sebuah epistimologi.Maqasid Syari’ah yang meliputi menjaga lima hal yakni agama (Hifz al-Din), hidup/jiwa (Hifz al-Naf), intelektual (Hifz al-‘Aql), keluarga/keturunan (Hifz al-Nasl) dan harta (Hifz al-Mal). Kelima hal ini kemudian dapat diterjemahkan kedalam tujuh dimensi yaitu: 1) makanan, 2) ibadah, 3) pakaian, 4) tempat tinggal beserta sarananya, 5) pendidikan, 6) kesehatan, dan 7) transportasi. 1 s/d 4 masuk kategori Dharuriyat Adsasiyat (Kebutuhan Primer) dan 5 s/d 7 masuk kategori Hajjiyat Asasiyat (Kebutuhan Sekender).

  1. Makan danMinum

Makan dan minum termasuk hal yang sangat fundamental dalam kehidupan. Salah satu mu’jizat Al Qur’an ialah perhatiannya terhadap persoalan pangan sebagai unsur penting dalam kehidupan manusia. Terdapat sejumlah besar ayat dalam Al Quran yang secara spesifik berbicara tentang pangan dan kaidah-kaidah yang sangat jelas dan tegas, misal: QS. ‘Abasa: 24, Al Maidah: 3 dan.Al Maidah: 88.

  • Pakaian

QS. Al A’raf: 26 secara tersirat menjelaskan tujuan Allah dalam menurunkan pakaian, kewajiban manusia menutup auratnya dan menjelaskan pakaian yang paling baik adalah taqwa. Menggunakan pakaian yang baik dalam aktivitas sehari-hari termasuk dalam implementasi Maqasid Syari’ah yaitu menjaga agama dan jiwa.

  • Tempat tinggal

Tidak dapat diragukan lagi bahwa siapapun menjadikan tempat tinggal sebagai kebutuhan primer. Dengan adanya rumah seseorang dapat menjaga diri dan keluarganya dari bahaya siang dan malam, sebagaimana firman Allah dalam surat An Nahl ayat 80.

  • Ibadah

Ibadah secara etimologis bermakna al-Khudhu’ (ketundukan) dan at-Tadzallul (merendahkan diri). Ibadah merupakan tujuan utama diciptakan masnusia dan jin (QS. Adz Dzariyat: 56)

  • Pendidikan

Pendidian menjadi hal yang sangat penting bagi eksistensi manusia. Bahkan agama dibangun atas dasar pendidikan dan keilmuan. Hal ini dapat dilihat dari wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi SAW dalam QS. A-‘Alaq: 1-5.

  • Kesehatan

Menjaga kesehatan termasuk dalam upaya menjaga jiwa yang merupakan persoalan primer. Doa yang selalu kita mohonkan kepada Allah “Ya Allah aku mohon pertolongan kepada Mu keselamatan agama dan mohon kepada Mu kesehatan jazad”. Sabda Nabi SAW nikmat terbesar dari Allah ada 5 yakni: iman, islam, sehat, berkemampuan dan panjang umur.

  • Transportasi

Salah satu ciri manusia adalah memiliki kemauan dan kemampuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Zaman dulu kendaraan yang paling populer adalah unta dan kuda, sabda Rasul SAW: “Bagi peminta-minta ada hak untuk diberi, meski ia datang dengan menunggang unta”. Al Qur’an secara jelas menyebutkan tentang sarana transportasi diantaranya pada surat Al Baqarah ayat: 164.

E. Perbedaan Had Kifayah Dengan Standar Yang Lain

Dari penjelasan tentang Had Kifayah, Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Hidup Layak dapat disimpulkan bahwa besaran Had Kifayah lebih tinggi dibandingkan dengan Standar Garis Kemiskinan dan lebih rendah dibandingka dengan Standar Kebutuhan Hidup Layak yang dijadikan sebagai dasar penetapan upah minimum.

Perhitungan Had Kifayah mengacu pada standard tersebut namun dengan beberapa penyesuaian kebutuhan-kebutuhan dasar berdasar prinsip Islam. Sedangkan dalam menetapkan Nishab Zakat mengacu pada Keputusan Ketua BAZNAS Nomor 73 tahun 2017 yang menetapkan bahwa Nilai Nishab Zakat Pendapatan Tahun 2017 dengan nishab setara 85 gram emas rata-rata setara Rp 49.895.000 per-tahun atau Rp 4.160.000 per bulan.

F. Hasil Perhitungan Had Kifayah Tahun 2018

Pusat Kajian Strategis (PUSKAS) BAZNAS RI telah melakukan kajian Had Kifayah tahun 2018. Hasil kajian yang didasarkan pada ketentuan syar’i dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, telah menetapkan hasil perhitungan Had Kifayah setiap provinsi dalam tahun 2018, sebagai berikut:

1.    Rata-rata Had Kifayah di Indonesia mencapai Rp 3.011.142 per keluarga (suami, istri dan 2 anak masing-masing usia MI/SD dan MTs/SMP) per bulan. Sedangkan Had Kifayah perorangan mencapai Rp 772.088 per kapita per bulan. Jawa Tengah memiliki nilai Had Kifayah terendah dengan nilai Rp 2.791.147/keluarga/bulan atau Rp 715.679/kapita/bulan. Daerah Istimewa Yogyakarta menduduki nomor urut dua (2) yaitu Rp 2.857.505 atau Rp 732.694. Nilai Had Kifayah tertinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 3.363.105/keluarga/bulan atau Rp 862.335/kapita/bulan.

2.    Keluarga dengan pendapatan dibawah Rp.1.003.714 per keluarga per bulan menjadi prioritas utama untuk dibantu. Keluarga dengan penghasilan antara Rp 1.003.714 s/d Rp 2.007.428 menjadi prioritas kedua dan prioritas ketiga keluarga yang berpenghasilan Rp 2.007.428 s/d Rp 3.011.142. Sedangkan keluarga dengan penghasilan di atas Had Kifayah tetapi dibawah nishab zakat menjadi prioritas ke empat untuk dibantu.

Drs. Syamsul Azhari

Drs. Syamsul Azhari

Ketua Baznas Kota Yogyakarta

Terbaru

Ikuti