Hari Kebangkitan Nasional Sebagai Titik Reformasi Pendidikan Pasca Covid 19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Upaya perbaikan pendidikan pasca pandemi menjadikan kita berfikir secara realistis bahwa Indonesia dapat berbenah dalam segi pendidikan. Pembenahan memang membutuhkan banyak perbaikan dari infrastruktur sampai ke sumber daya manusia.

Melihat dunia saat ini sedang terkapar terbengkalai bak semut yang diguyur air bah dari gayung. Terkaparnya manusia terlihat dari krisi ekonomi dan meninggalnya banyak nyawa dikarenakan coronavirus diseas 2019 (COVID 19). Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro mengungkapkan akibat covid 19 dunia diperkirakan akan mengalami resesi hingga -3. Resesi tersebut sangat berpengaruh kepada pertumbuhan banyak negar tak terkecuali Indonesia. Lebih jelas disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang memperkirakan kerugian akibat pandemi mencapai US$ 9 triliun atau setara Rp 134 ribu triliun (asumsi kurs Rp 14.900/US$) secara global, kerugian tersebut terhitung hingga 2021.

Hal tersebut masih diperparah dengan data dari (www.worldometers.info) yang menyatakan kasus covid 19 di dunia pada 10 Mei 2020 mencapai 4,117,095 jiwa dan terus akan bertambah diseluruh dunia. Hal tersebut juga terjadi di Indonesia, total kasus positif Covid-19 di Indonesia sendiri telah menembus angka 14 ribu, tepatnya 14.032. Pukulan demi-demi pukulan lambat-laun namun pasti menghantam garuda yang perkasa. Namun apakah itu semua akhir atau awal dari pembenahan Indonesia? Terlebih ketika melihat perkembangan dewasa ini kebijakan pendidikan yang sedikit banyak perlu adanya perubahan yang fundemental.

Momentum hari kebangkitan pada tahun ini merupakan momentum yang berkelanjutan ditengah pandemi, kita akan melakukan reformasi terhadap pendidikan bukan hanya sebuah kebijakan, namun langkah nyata dalam penerapan era digitalisasi dan marwah dari pendidikan itu sendiri. Hal tersebut sama halnya yang diucapan oleh Ridwan Kamil dalam peringatan Hari Pendidikan, Sabtu (2/5/2020) “Covid-19 telah membawa perubahan, termasuk dunia pendidikan. Pendidikan bukan lagi urusan persiapan mencari kerja, melainkan mengestafetkan peradaban lebih baik ke generasi selanjutnya”. Banyak yang berucap bahwa pendidikan saat ini mulai menjauh dari tujuan utamnnya, yaitu memanusiakan manusia. Hal tersebut membuat perlu adanya perubahan dalam pendidikan saat ini, orientasi pendidikan yang hanya pada lembar kertas akan diubah kepada pendidikan skill dan memulai digitalisasi pendidikan.

Digitalisasi pendidikan sendiri mengabungkan pendidikan konfensional dan IT dengan begitu kegiatan pembelajaran tidak hanya fokus pada pembelajaran dalam kelas, namun juga dialihkan pada kelas online atau virtual. Pembelajaran online diartikan sebagai suatu jaringan komputer yang saling terkoneksi dengan jaringan komputer lainnya ke seluruh penjuru dunia. Jaringan tersebut terintegerasi pada data base sehingga ada kemudahan akses pendidikan yang menjadikan pendidikan kembali ke skill orientide, bukan money orientide. Dampak penggunakan pembelajaran online sendiri sudah pernah diteliti oleh Cotton (1991:2). Beliau mengungkapkan telah melakukan kajian terhadap 59 hasil penelitian yang berkenaan pembelajaran berbantuan komputer dan hasil belajar. Kajian penelitian yang memfokuskan pada teknologi ini ternyata lebih baik daripada kajian yang membahas dampak teknologi terhadap lingkungan belajar secara keseluruhan dan hasil belajar pembelajar. Untuk itu dengan tuweb/bantuan teknologi yang mengikuti proses tutorial, akan menghasilkan prestasi mahasiswa yang meningkat, karena tidak hanya penguasaan materi melainkan juga menguasai teknologinya.

Melihat hasil penelitian tersebut harusnya kita berfikir secara fundemental bahwa pembelajaran saat ini terlalu konfensional, siswa duduk dikelas dan mendengarkan guru berbicara, hal tersebut mengakibatkan pemahaman siswa tentang pemanfaatan IT sangat kurang. Namun, pandemi ini menjadi sebuah awal dari reformasi pendidikan Indonesia, bagaimana tidak, guru dan siswa saat ini melakukan pembelajaran dengan sistem darling. Diawali dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan, dilanjutkan dan diperkuat dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID- 19).

Upaya perbaikan pendidikan pasca pandemi menjadikan kita berfikir secara realistis bahwa Indonesia dapat berbenah dalam segi pendidikan. Pembenahan memang membutuhkan banyak perbaikan dari infrastruktur sampai ke sumber daya manusia. Tantangan memang jelas terlihat seperti: pemerataan infrastruktur, kurikulum, dan persebaran guru yang tidak merata. Padahal guru merupakan faktor penentu apakah gebrakan reformasi pendidikan pasca covid 19 bisa berjalan dengan baik atau hanya stakeng dan kembali seperti semula.

Tantangan pendidikan bertumpu pada kemampuan guru untuk secara kreatif merancang proses pembelajaran yang tepat sesuai kebutuhan zaman. Hal tersebut ditekankan lebih empiris oleh penelitian dari Universitat Oberta de Catalunya, Spanyol, yang menyebutkan kemampuan pendidik dalam mendesain strategi belajar menjadi sangat penting karena merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pelaksanaan pembelajaran daring. Perkembangan kearah digitalisasi pendidikan merupakan tantangan bagi guru sebagai penentu pelaksanaan kebijakan yang akan diberikan. Peran tersebut dikarenakan guru secara fondemental memiliki tanggung jawab “Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Ketika perubahan datang guru menjadi cotoh dan suri tauladan sehingga ketika guru tidak bisa menerima tantangan digitalisasi pendidikan, maka pendidikan akan staken dan membeku sampai dititik ini saja.

Guru diharapkan dapat beradaptasi dengan baik dengan penguasaan tenaga pendidik terhadap teknologi pembelajaran, atau technological pedagogical knowledge (TPK) yang sesuai dengan strategi belajar dan fasilitas yang dimiliki instrumen pendidikan. Sehingga perlu adanya pelatihan tentang pengintegrasian teknologi dalam kegiatan belajar mengajar, terutama untuk calon guru, mulai dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) hingga program-program pelatihan Kemendikbud dan Dinas terkait lainnya.

Harapannya guru sebagai perubah dapat beradaptasi dengan baik setelah diadakannya pelatihan dan pengelaborasian digitalisasi pendidikan. Adaptasi tersebut juga membutuhkan dukungan infrastruktur digital yang baik, sehingga pembelajaran daring dapat mendistribusikan materi pembelajaran yang berkualitas kepada siswa dari berbagai daerah di Indonesia. Pembangunan infrakstruktur dapat dibangun dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dengan vendor yang bisa dan siap membantu pembuatan server sistem pembelajaran online dengan lingkup berbagai sekolah di kabupaten/kota serta memenuhi kebutuhan pembelajaran daring perguruan tinggi. Termasuk untuk mempersiapkan akses internet yang memadai untuk pelaksana dan pengguna pembelajaran daring tersebut.

Muhamad Asruri Faishal Alam

Muhamad Asruri Faishal Alam

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.