Ditulis oleh 8:45 am KABAR

Harkitnas Untuk Kebangkitan Pendidikan

Apapun alasannya, kita semua berkeinginan keras untuk bangkit dari keterpurukan. Harkitnas kita jadikan suatu momentum untuk bangkit. Mutu kebangkitan nasional sangat dipengaruhi juga oleh mutu pendidikan nasional.

Sejak 1959, tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, disingkat Harkitnas. Yaitu hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 untuk memperingati peristiwa Kebangkitan Nasional Indonesia. Hari yang sangat penting dan bersejarah bagi bangsa Indonesia di awal abad ke-20.

Hari Kebangkitan Nasional sering disingkat Harkitnas yang jatuh pada 20 Mei tiap tahunnya bertujuan untuk memeringati berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Suatu organisasi yang memotivasi berdirinya organisasi sosial dan politik yang mampu mendorong perjuangan untuk melahirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Begitu penting dan strategisnya gerakan Boedi Oetomo itu, maka lahirlah Hari Kebangkitan Nasional pertama kali diperingati pada era pemerintahan Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 1948. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional pertama kali, kepanitiaannya diketuai oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam pidatonya Presiden Soekarno mengimbau pada seluruh rakyat Indonesia yang terpecah oleh kepentingan politik agar bersatu untuk melawan Belanda.

Hari Kebangkitan Nasional 2020 mengambil tema Bangkit dalam Optimisme Normal Baru. Dengan tema ini diharapkan Harkitnas menjadi momentum bangsa Indonesia untuk bersatu padu memutus mata rantai Covid-19. sekaligus memulihkan kondisi sosial-ekonomi. Dengan begitu kita perlu terus memelihara, menumbuhkan, dan menguatkan semangat gotong-royong. Hal ini sejalan dengan kecenderungan baru bahwa kecerdasan kolektif lebih relevan.daripada kecerdasan individual dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin komplek.

Indonesia bersama masyarakat dunia, kini dihadapkan persoalan serius, pandemi Covid-19 yang membuat kita tidak bisa tinggal diam. Persoalan ini tidak hanya bisa mengakibatkan terjadinya krisis kesehatan saja, melainkan juga bisa mengarah kepada krisis ekonomi dan kemanusiaan. Untuk menghadapi persoalan ini, Harkitnas seharusnya dijadikan momentum untuk bangkit dalam optimisme normal baru. Kita bangun paradigma baru dan gaya hidup normal baru yang diharapkan bisa mengeluarkan masyarakat dari keterpurukan.

Mari kita lihat perbandingan skor PISA tahun 2012, 2015 dan 2018. Perolehan skor Membaca pada tahun 2012.adalah 396, pada 2015 naik menjadi 397 (+1), dan pada 2018 turun menjadi 371 (-26). Perolehan skor sains pada tahun 2012 adalah 382, pada 2015 naik menjadi 403 (+21), dan pada 2018 turun menjadi 396 (-7). Perolehan skor Matematika pada tahun 2012 adalah 375, pada 2015 naik menjadi 386 (+11), dan pada 2018 turun menjadi 379 (-7)..Jika kita mencermati posisi ranking skor Indonesia di antara negara-negara lain tahun 2012 (64 dari 65), dan tahun.2015 (61 dari 70),.dan tahun 2018 (75 dari 79). Posisi ini menggambarkan bahwa Indonesia masih cukup memprihatinkan.

Kita juga bisa memperhatikan skor Indonesia untuk Global Competitiveness Indexes, tahun 2018 : Singapura ranking 2, Malaysia ranking 25, Thailand ranking 38, Indonesia ranking 45, Brunai Darussalam ranking 62, Filipina ramking 56, Vietnam ranking 77, Camboja ranking 110 dan Laos ranking 112. Adapun tahun 2019, Singapura ranking 1 (+1), Malaysia rangking 27 (-2), Thailand ranking 40 (-2), Indonesia ranking 50 (-5), Brunai Darussalam ranking 56 (+6), Filipina ramking 64 (-8), Vietnam ranking 67 (+10), Camboja ranking 106 (+4) dan Laos ranking 113 (-1). Indonesia mengalami penurunan 5 angka yang cukup berarti bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Laos. Apalagi ditambah dengan krisis akibat pandemi Covid-19 ini. Sulit diprediksi, apakah ranking Indonesia akan naik atau turun.

Apapun alasannya, kita semua berkeinginan keras untuk bangkit dari keterpurukan. Harkitnas kita jadikan suatu momentum untuk bangkit. Mutu kebangkitan nasional sangat dipengaruhi juga oleh mutu pendidikan nasional. Sementara itu posisi mutu pendidikan kita dalam percaturan dunia masih cukup memprihatinkan, baik yang bisa kita dilihat dari skor PISA tahun 2018 maupun DGI tahun 2019. Untuk itu kita harus bangkit dengan spirit baru memasuki RI 4.0 dan Society 5.0.

Kebangkitan pendidikan nasional harus dilakukan bersama-sama, institusi pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Pendidikan nasional dengan sistem pendidikan konvensional menjadi sistem pendidikan berbasis IT. Berbagai keterbatasan e-education dan e-Learning, terutama untuk transfer nilai perlu diantisipasi. Karena itu Blended Learning menjadi alternatif model pembelajaran di tengah-tengah masa transisi.

Di era Covid-19 ini kita memang perlu berhati-hati. Kita tidak boleh gegabah dalam menggelar kegiatan kolektif dalam layanan pendidikan. Keselamatan siswa/mahasiswa dan guru/dosen serta tenaga kependidikan harus menjadi concern utama. Kita harus bisa ambil pelajaran yang sangat berharga berkaitan adanya korban terpapar lagi Convid-19 di Finlandia dan Perancis. Dengan digelarnya aktivitas pendidikan di sekolah, ternyata berdampak negatif. Penyebaran dan penularan virus tidak bisa dihindari.

Menyadari akan kondisi tersebut, maka untuk bisa terjaga keselamatan semua dan terjadinya aktivitas akademik, maka saatnya semua fihak melakukan modifikasi sistem pembelajaran dan perubahan perilaku belajar di samping perlunya sikap dan perilaku mandiri dan komitmen terhadap tugas semua pihak. Dengan begitu pendidikan bisa dijamin erus bisa berjalan.

Rekonstruksi manajemen persekolahan dan manajemen universitas, terutama manajemen kegiatan akademik perlu dilakukan secara sistemik. Dengan tetap menyadari akan keterbatasan infrastruktur, sarana pembelajaran baik yang terkait dengan kebutuhan peserta dan pendidik. Modifikasi proses pembelajaran, modifikasi kegiatan praktek dan laboratorium, model tutorial atau bimbingan, dan sistem penilaian, sangat perlu dilakukan, sehingga proses pembelajaran dan pendidikan berjqlqn efektif.

Pembelajaran yang dilangsungkqn dengan daring, sebagai konsekuensi dari Physical and Social Distancing diyakini lebih banyak menjawab kepentingan dampak instruksional (instruksional effect). Sementara itu dampak pengiring (nurturant effect) kurang mendapat perhatian, baik terkait dengan aspek moral maupun emosi. Karena itu pendidik harus menyadari ini sepenuhnya. Jika tidak, maka akan kehilangan momentum. Sambil jalan pendidik perlu mengupayakan terus, bagaimana proses pembelajaran bisa bermakna dan efektif.

Perubahan modus pendidikan belakangan ini di semua jenjang dan satuan pendidikan, bukanlah sesuatu yang by-design, direncanakan dan disadari secara tulus, tetapi by chance, kebetulan dan terpaksa. Karena itu harapan keberhasilannya tidaklah maksimal. Semua akan menerima apa adanya, setelah berikhtiar dengan kekuatan dan kelemahanya. Walaupun demikian ada sisi lainnya yang positif, bahwa terjadi proses akselerasi penggunaan daring.

Berangkat dari pengalaman semester ini, semua pihak sudah seharusnya memanfaatkan waktu untuk saling sharing pengalaman masing-masing dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Best practices perlu di-sharingkan. Jika perlu juga membuat list kelemahan yang alami selama proses pembelajaran untuk bisa dilakukan perbaikan ke depan.

Kebangkitan pendidikan perlu diawali dengan pembuatan Normal Baru (New Norm). Setelah itu dibuat standar baru pendidikan, dengan melakukan adaptasi dari Standar Nasional Pendidikan, sehingga sesuai dengan perubahan yang terjadi akibat dari Pandemi Covid-19. Untuk kelancaran implementasi Normal Baru perlu didukung dengan sarana dan prasrana, terutama terkait implementasi digital, sehingga meningkatkan akses pendidikan secara fungsional. Di samping itu spirit kebangkitan pendidikan wajib dimulai dari masing-masing pelaku pendidikan, untuk siap berubah menuju yang lebih baik dan sesuai dengan kondisi dan tuntutan jaman. Karena itu perubahan fokus program dan kegiatan sangatlah perlu dilakukan, sehingga.program dan kegiatan separuh tahun memdatang dapat mendekati kebutuhan riil, sebagai konsekuensi perubahan yang terjadi. Spirit kebangkitan harus mewarnai kehidupan ke depan, baik pada tataran institusi, unit pengelolaan, kelompok, maupun individu. Di samping rekonstruksi program dan aktivitas, perlu komitmen moral semua untuk berubah dan maju, sehingga bisa meningkatkan prestasi dan GDI.

Demikianlah sedikit uraian yang patut direnungkan. Adalah disadari bahwa membuat rancangan dan implementasi Normal Baru tidaklah mudah. Kesulitan setinggi apapun tidak terlalu menjadi masalah, yang penting adanya political will pimpinan di semua level untuk membangun sistem pendidikan baru yang berorientasi masa depan. Sebagaimana yang selalu terngiang-ngiang di telinga kita tentang pendidikan itu secara sunnatullah berorientasi masa depan. Ingat kata.Ali Bin Abi Thalib, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.

(Rochmat Wahab, Yogyakarta, 21 Mei 2020 / 28 Ramadan 1441)

(Visited 42 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 22 Mei 2020
Close