Harus Optimis: Corona Bukan Azab, Tapi Ujian

74. M Dian Permana
Sesulit apa pun kondisinya, tidak ada anjuran bagi manusia untuk menyerah.

Seperti yang kita ketahui, sudah hampir tiga bulan kita, warga Negara Kesatuan Republik Indonesia berjibaku melawan Covid-19. Terhitung sejak awal Maret 2020 Covid-19 terdeteksi di Indonesia, tepatnya di wilayah Depok, Jawa Barat. Optimisme adalah yang hal yang dibutuhkan manusia dalam menghadapi pandemi wabah virus corona. Sesulit apa pun kondisinya, tidak ada anjuran bagi manusia untuk menyerah. Dengan optimisme dan keyakinan, situasi bisa terkendali, wabah akan berakhir, dan semua akan kembali pulih seperti sedia kala.

Banyak cara dilakukan untuk menjaga sikap optimisme tetap tumbuh di hati semua orang. Seperti di Eropa, pada akhir Maret lalu, secara serentak banyak stasiun radio di seluruh penjuru Eropa memperdengarkan lagu “You’ll Never Walk Alone”. Lagu dari grup musik Gerry and The Pacemakers itu memang memiliki makna lirik yang mendalam. Lirik dari lagu yang kini menjadi anthem dari tim Liverpool FC itu memang sarat dengan nilai-nilai optimisme yang tinggi, untuk tegar dalam melewati berbagai cobaan dalam kehidupan.

Virus Corona menjadi musuh terbesar dunia saat ini. Hampir semua negara ikut aktif terlibat dalam memeranginya. WHO sendiri sudah menaikkan statusnya dari epidemi menjadi pandemi. Corona adalah musibah dunia. Ia tidak kenal batas-batas negara, agama, umur, dan jenis kelamin. Laiknya sebagai musibah, kita harus menghadapinya. Kita tak boleh gegabah dan mengatakan bahwa ini adalah takdir Tuhan, dan hanya Tuhan sendiri yang mampu menghilangkannya. Paradigma dalam melihat virus Corona perlu digeser dari anggapan azab menjadi musibah. Corona bukanlah azab, ia adalah ujian yang bisa kita hadapi bersama. Gotong-royong, saling bahu-membahu, memperkuat solidaritas sosial, mengedepankan sabda ilmu pengetahuan dalam menanggulangi virus berbahaya ini. Kita perlu menjauhi cara-cara kolot yang justru membahayakan kita, membuang egoisme masing-masing, dan menghilangkan sikap saling menyalahkan. Dalam sejarahnya, manusia selalu menjadi pemenang dalam melawan wabah virus berbahaya. Alasan utamanya adalah manusia memfungsikan nalarnya. Selain itu, solidaritas sosial yang ditunjukkan oleh semua pihak turut memperkuat manusia dalam menghadapi virus berbahaya ini.

Tidak hanya itu, semangat optimisme dalam menghadapi situasi wabah virus corona pun terus disuarakan banyak pihak, dengan berbagai cara. Salah satu contoh yang bisa dilakukan misalnya, saya melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk melawan situasi pandemi saat ini. Saya suka main game dan berselancar di dunia maya di sela-sela kesibukan kuliah online. Saya memilih hal ini karena selain mudah juga bisa membuat saya bersemangat, alhasil hal-hal positif selalu terjaga dalam diri saya. Meskipun bagi sebagian orang beranggapan bahwa bermain game bisa membuat kita malas atau bodoh, namun bagi saya itu bukan suatu masalah yang besar. Yang penting kita juga harus tau waktu, tidak menghabiskan semua waktu yang kosong dengan hal ini. Saya biasanya menghabiskan waktu 4-5 jam secara intensif untuk melakukan hal ini. Dengan begitu, rasa optimisme saya untuk melawan Covid- 19 ini tetap terjaga.

Alasan mengapa kita harus optimis, saat ini masyarakat mulai terbiasa dengan informasi tentang pandemi ini, dan selanjutnya terus meningkatkan kesadaran untuk patuh pada program pencegahan dan bersikap tepat terhadap orang lain. Seperti halnya OTG, ODP, PDP, Kasus Positif Rapid Test & Kasus Positif PCR, tidak perlu ada perlakukan ekstrem, sehingga mereka cepat dapat memulihkan kondisi tubuhnya. Kita harusnya tidak sinis, tidak mengucilkan, tetapi cukup jaga jarak dan bantu mereka semampu kita. Sehingga masyarakat hendaknya untuk fokus menjaga imunitas, jaga kebersihan, dan jaga kekompakan. Selain itu juga memperkuat diri dengan rajin ibadah dan mencari info yg diperlukan saja. Tidak perlu menyebarkan berita yang justru menambah panik, apalagi berita hoax.

Corana adalah musibah yang seharus menjadi bahan muhasabah bagi kita bersama. Muhasabah itu termanipestasi dalam wujud solidaritas sosial. Kita semua sama-sama berjuang. Tak boleh ada yang menggunting dalam lipatan, dan mencari untung dalam kesempitan. Kita harus sama-sama menjaga. Sama-sama bekerja dalam memerangi virus ini. Kerja-kerja kolektif dengan kesadaran dan pendekatan partisipan semesta, kita bisa keluar sebagai pemenang. Mari kita menjadikan virus ini sebagai bahan introspeksi diri dan sebagai sarana untuk memperkuat solidaritas kita bersama. Hanya dengan bermuhasabah, menjadikan ini sebagai ujian dan pelajaran, kita bisa berdiri tegak, melihat ke dapan. Sikap optimisme harus dikedepankan. Kita akan menang melawan virus berbahaya ini.

Terakhir, sebagai manusia biasa, maka sudah sepatutnya untuk meminta pertolongan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang mana kekurangan pemerintah, keterbatasan rumah sakit dan petugas medis, serta kekurangan diri sendiri. Kita harus fokus pada solusinya bukan masalah, saling mendukung dan berdoa, terlebih melihat betapa sulitnya pandemi ini untuk dilewati.

(Visited 40 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020