Haruskah Sekolah Dibuka Kembali di Tengah Pandemi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tidak sedikit pendidik yang dengan gugup menunggu tahun ajaran baru, terlebih lagi ketika jumlah kasus di seluruh negara meningkat.

Salah satu pertanyaan yang kerap kali ditanyakan beberapa waktu ini: apakah aman untuk kembali membuka sekolah? Dalam keadaan dimana virus corona masih bergerak ke sana kemari, menambah jumlah orang yang membawa virus, keselamatan seharusnya tetap menjadi prioritas utama. Sehingga pembatasan sosial tetap menjadi strategi yang dipilih oleh masyarakat dunia, untuk mengatasi penyebaran yang lebih besar. Hal ini mempengaruhi cara hidup kita, utamanya dalam menyampaikan pelajaran pada anak-anak taktala ruangan belajar kini berpindah pada dunia maya.

Guru-guru yang biasanya menyapa siswa-siswi mereka secara langsung, kini mereka melakukannya secara online dan mulai mengajar juga secara online – layaknya guru-guru di seluruh dunia. Namun tampaknya tidak semua siswa sekolah dapat belajar dengan baik menggunakan cara ini.

Sebagai contoh terdapat sebuah kelas dimana mayoritas anak-anaknya tidak muncul di sesi kelas online. Dan mereka yang hadir berjuang untuk memperhatikan layar komputer selama lebih dari 5 menit. Di AS, jutaan anak-anak, bergantung pada sekolah tidak hanya untuk pendidikannya, namun juga untuk makan di sekolah serta tempat yang terjaga ketika orang tua mereka bekerja, menurut National School Lunch Program. Namun, meski dengan kendala tersebut, banyak guru yang berpendapat bahwa sekolah tidak siap dan tidak aman untuk dibuka lagi.

Tidak sedikit pendidik yang dengan gugup menunggu tahun ajaran baru, terlebih lagi ketika jumlah kasus di seluruh negara meningkat, khususnya di AS, dimana pemerintahan Trump mendorong sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran langsung atau membuka kembali sekolah. Hal ini mengingatkan pada pertanyaan awal: apakah sekolah telah siap untuk dibuka kembali dengan aman?

Banyak ahli sepakat bahwa sebagian wilayah, utamanya di mana kasus virus corona meningkat, jawabannya adalah belum siap. Namun demikian di tempat-tempat dengan transmisi masyarakat yang rendah dan pengujian intensif serta pelacakan kontak, sekolah dapat dibuka kembali dengan aman jika terdapat langkah-langkah tertentu serta diberikan pendanaan yang tepat.

Bagaimana virus corona berdampak pada anak-anak

Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak tidak terinfeksi semudah orang dewasa, dan bahkan ketika terinfeksi mereka tidak mengalami infeksi yang parah. Di AS, lebih dari 200.000 anak-anak telah dites positif virus corona sejak awal pandemi, yang merupakan 7,6% dari total kasus AS, berdasarkan American Academy of Pediatrics (AAP). (Rentang usia bervariasi berdasarkan negara; beberapa negara menghitung anak-anak sebagai mereka yang berusia 14 dan lebih muda, sementara yang lain mengklasifikasikan siapapun 17, 18, 19 atau bahkan di bawah 24 tahun dianggap sebagai seorang anak.)

Dari kasus-kasus ini, 63 telah meninggal, dan menurut dua penelitian yang diterbitkan pada bulan Juni hampir 300 anak-anak telah mengembangkan sindrom multi-sistem inflamasi, dimana sistem kekebalan tubuh menyerang tubuh, biasanya setelah terkena COVID-19. Tidak jelas mengapa anak-anak tidak rentan seperti orang dewasa terhadap infeksi dan penyakit parah, menurut peneliti.

Tetapi anak-anak dengan kasus ringan atau kasus tanpa gejala dapat menyebarkan virus tersebut kepada sesama anak, guru mereka, atau anggota keluarga mereka. Namun, dalam kasus COVID-19, anak-anak mungkin bukanlah vektor penyakit kecil seperti halnya kasus flu.

Laporan kasus dari sekolah-sekolah di Eropa dan Australia, bersama dengan beberapa studi pelacakan kontak di Swiss, Cina dan Prancis, mengisyaratkan bahwa anak-anak mungkin lebih kecil untuk menularkan virus daripada orang dewasa, menurut komentar yang diterbitkan dalam edisi Juli jurnal Pediatrics.

Sebagai contoh, di Perancis, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun yang terinfeksi bersamaan dengan flu, picornavirus (keluarga virus yang menyebabkan berbagai macam penyakit) dan SARS-CoV-2 mengekspos 80 teman sekelas di tiga sekolah, tetapi tidak ada yang terinfeksi dengan virus corona, meskipun banyak orang yang terserang flu, menurut komentar tersebut.

Dalam beberapa investigasi pelacakan kontak yang melibatkan anak-anak, tercatat bahwa mereka jarang menjadi kasus “indeks” dan sering mendapatkan virus dari anggota keluarga dewasa. Peneliti mengatakan bahwa berdasarkan data ini, penularan SARS-CoV-2 di sekolah mungkin tidaklah berbahaya untuk penularan massal di masyarakat seperti yang ditakutkan pada awalnya. Juga ditambahkan bahwa diperlukan pertimbangan serius untuk sebuah strategi yang memungkinkan sekolah tetap terbuka, bahkan selama periode COVID-19.

Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak memiliki lebih sedikit reseptor hidung ACE2, yang berfungsi sebagai titik masuk virus ke dalam sel, menurut artikel 20 Mei dalam Journal of American Medical Association. Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa anak-anak lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan dan mentransmisikan COVID-19, Naomi Bardach, seorang profesor pediatri di University of California, San Francisco, mengatakan dalam presentasi UCSF Medical Grand Rounds pada 9 Juli. (Data untuk siswa sekolah menengah kurang jelas, dan kemungkinan remaja lebih seperti orang dewasa dalam hal risiko mereka mendapatkan dan mentransmisikan COVID-19, Bardach mengatakan dalam presentasinya.) Juga, survei di Spanyol, Prancis dan Inggris menunjukkan bahwa anak-anak memiliki setengah kemungkinan memiliki antibodi terhadap COVID-19, yang merupakan penanda infeksi sebelumnya, kata Bardach. Secara keseluruhan, penutupan sekolah memperlambat penularan virus dan mengurangi kematian hanya 2% hingga 4%, sebuah studi pada bulan Mei dalam jurnal Lancet Child and Adolescent Health menemukan.

Namun, anak-anak mungkin tidak terkena COVID-19 lebih mudah daripada orang dewasa karena 90% dari anak-anak sekolah di dunia itu berada di rumah selama lockdown, sementara orang tua terus keluar rumah untuk mendapatkan bahan makanan atau pergi bekerja.

Dengan kata lain, begitu mereka lebih sering keluar dari rumah mereka, anak-anak berpotensi mendapatkan dan menularkan COVID-19 lebih mudah daripada sebelumnya. Hal ini disarankan oleh sebuah studi yang diterbitkan 9 Juli di The New England Journal of Medicine, yang menemukan bahwa lebih dari separuh anak dirawat di ruang gawat darurat selama wabah Italia memperoleh virus dari sumber yang tidak diketahui. Italia saat itu bergerak lambat dalam melakukan lockdown dan memiliki transmisi yang luas sebelum sekolah ditutup; sehingga ini mungkin lebih representatif dari risiko penularan pada anak-anak dalam lingkungan penyebaran komunitas yang luas, seperti yang terjadi di sebagian besar Amerika Serikat.

Anak-anak tampaknya tidak menjadi sumber penularan utama satu sama lain atau ke orang dewasa, namun staf dan guru (sebagai orang dewasa) lebih mungkin untuk menularkan virus antar satu sama lain, ujar Bardach dalam presentasinya. Tiga guru Arizona yang berbagi ruang kelas untuk mengajar sekolah musim panas virtual semuanya terjangkit virus corona pada bulan Juni dan salah satu dari mereka meninggal, menurut CNN. Ketiga guru mengenakan masker dan sarung tangan, hand sanitizer dan menerapkan pembatasan jarak, menurut CNN.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora