Hedonisme Mengarah pada Kebahagiaan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Menikmati kegiatan jangka pendek yang menyenangkan yang tidak mengarah pada tujuan jangka panjang berkontribusi setidaknya untuk kehidupan yang bahagia layaknya pengendalian diri.

Banyak dari anda tentunya pernah melakukan hal-hal seperti bersantai di sofa atau menikmati hidangan lezat, dan berbagai kegiatan sederhana lainnya. Sebuah studi baru dari University of Zurich dan Universitas Radboud di Belanda mengatakan bahwa menikmati kegiatan jangka pendek yang menyenangkan yang tidak mengarah pada tujuan jangka panjang berkontribusi setidaknya untuk kehidupan yang bahagia layaknya pengendalian diri. Oleh sebab itu para peneliti berpendapat bahwa apresiasi yang lebih besar pada hedonisme dapat diberikan di dalam psikologi.

Sebagian besar dari kita menetapkan sasaran jangka panjang bagi diri kita sendiri dari waktu ke waktu, seperti menjadi lebih bugar, makan lebih sedikit gula atau belajar bahasa asing. Dalam penelitian baru ini, peneliti telah mencurahkan banyak waktu untuk mencari tahu bagaimana kita dapat mencapai tujuan-tujuan ini secara lebih efektif. Pandangan yang umum adalah bahwa pengendalian diri membantu kita untuk memprioritaskan tujuan jangka panjang daripada kesenangan sesaat dan bahwa jika anda pandai mengendalikan diri, hal tersebut biasanya akan menghasilkan kehidupan yang lebih bahagia dan lebih sukses.

Namun menurut Katharina Bernecker, peneliti psikologi motivasi di University of Zurich, saatnya untuk memikirkan kembali. Dia mengatakan bahwa tentu pengendalian diri merupakan hal yang penting, akan tetapi penelitian tentang pengaturan diri harus memperhatikan hedonisme, atau kesenangan jangka pendek. Hal ini karena penelitian baru Bernecker menunjukkan bahwa kapasitas orang untuk mengalami kesenangan atau kenikmatan berkontribusi setidaknya untuk kehidupan yang bahagia dan puas seperti pengendalian diri yang sukses.

Gangguan mengganggu kesenangan

Bernecker dan rekannya Daniela Becker dari Radboud University mengembangkan kuesioner untuk mengukur kapasitas responden untuk hedonisme, yakni kemampuan mereka untuk fokus pada kebutuhan mendesak mereka dan memanjakan diri dan menikmati kesenangan jangka pendek. Mereka menggunakan kuesioner untuk mencari tahu apakah orang yang memiliki kapasitas berbeda untuk mengejar tujuan hedonis dalam berbagai konteks, dan apakah kemampuan ini terkait dengan kesejahteraan.

Mereka menemukan hasil bahwa orang-orang tertentu terganggu oleh pikiran-pikiran yang mengganggu di saat-saat relaksasi atau kesenangan dengan memikirkan kegiatan atau tugas yang seharusnya mereka lakukan. Peneliti memberikan contoh: ketika berbaring di sofa, anda mungkin terus memikirkan olahraga yang tidak anda lakukan. Pikiran-pikiran tentang tujuan jangka panjang yang saling bertentangan itu merusak kebutuhan mendesak untuk bersantai. Sebaliknya, orang-orang yang dapat sepenuhnya menikmati diri mereka sendiri dalam situasi-situasi tersebut cenderung memiliki rasa kesejahteraan yang lebih tinggi secara umum, tidak hanya dalam jangka pendek, serta kecil kemungkinannya untuk menderita antara lain depresi dan kecemasan.

Lebih banyak tidak selalu lebih baik

Peneliti berpendapat bahwa mengejar tujuan hedonis dan jangka panjang tidak harus bertentangan satu sama lain. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keduanya penting dan dapat saling melengkapi dalam mencapai kesejahteraan dan kesehatan yang baik. Penting untuk menemukan keseimbangan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Namun sayangnya, hanya duduk lebih banyak di sofa, makan lebih banyak makanan enak dan pergi ke cafe bersama teman-teman lebih sering tidak secara otomatis membuat lebih banyak kebahagiaan. Peneliti mengatakan bahwa apa yang dianggap sebagai hedonisme, yang bertentangan dengan pengendalian diri, adalah pilihan yang lebih mudah. Tapi benar-benar menikmati pilihan hedonis sebenarnya tidak sesederhana itu bagi banyak orang oleh karena pikiran-pikiran yang mengganggunya.

Perencanaan downtime secara sadar

Hal ini merupakan masalah yang banyak dibicarakan, terlebih lagi dengan lebih banyak orang yang bekerja dari rumah, oleh karena lingkungan tempat mereka biasanya beristirahat tiba-tiba dikaitkan dengan pekerjaan. Memikirkan pekerjaan yang masih perlu dilakukan dapat menyebabkan pikiran yang lebih mengganggu di rumah, menyebabkan kurang bisanya beristirahat.

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk lebih menikmati waktu istirahat? Hal ini memerlukan lebih banyak penelitian, namun para peneliti menggaris bawahi bahwa perencanaan dan penetapan batas waktu kesenangan secara sadar dapat membantu untuk memisahkan dengan lebih jelas, sehingga memungkinkan kesenangan untuk dapat dilakukan tanpa gangguan, begitu pula sebaliknya. (Disadur dari situs sciencedaily)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora