25.7 C
Yogyakarta
18 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Hewan Yang Rentan Pada Virus Corona

Dalam usaha untuk menyembuhkan virus corona yang hingga kini masih terus menambah jumlah korbannya. Kini para ilmuan mencari tahu apakah hanya manusia saja yang dapat terinfeksi oleh virus ini dan menyebarkannya. Setelah melakukan analisis, para peneliti di Center for Genomic Regulation (CRG), mengatakan bahwa tidak hanya manusia yang dapat juga terkena COVID-19, tapi hewan lain seperti cerpelai, musang, kucing, dan anjing merupakan hewan yang paling rentan terhadap infeksi virus ini. Analisa ini juga menemukan bahwa bebek, tikus, babi, dan ayam memiliki kerentanan yang lebih rendah hingga tidak ada terhadap infeksi virus corona bila dibandingkan dengan manusia.

Dengan mengetahui hewan apa saja yang juga rentan terhadap COVID-19, para peneliti dapat mencegah penularan dari hewan di masa depan. Temuan para memberikan petunjuk mengapa cerpelai, yang memiliki kaitan erat dengan musang, dapat juga terinfeksi oleh virus ini, yang mungkin juga diperburuk oleh kondisi hidup mereka yang padat dan kontak dekat dengan manusia.

Meskipun para peneliti juga menemukan potensi kerentanan terhadap infeksi dari kucing, namun mereka tidak hidup berdampingan dengan manusia dalam kondisi yang sama dengan hewan lain. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa sejauh ini tidak ada kasus orang yang terinfeksi oleh hewan peliharaan mereka.

Dalam studi tersebut, terdapat sepuluh spesies yang diteliti. Diantaranya, lima spesies, yakni manusia, kucing, cerpelai, musang, dan anjing, dianggap dan telah didokumentasikan terkena kasus infeksi oleh COVID-19. Sedangkan untuk lima spesies lainnya, tikus, babi, ayam, dan bebek, tidak ada laporan mengenai infeksi.

Untuk studi ini, para peneliti menggunakan pemodelan komputer untuk menguji bagaimana virus corona menggunakan protein lonjakannya, yang menonjol dari permukaan virus, untuk menyusup ke sel-sel hewan yang berbeda. Titik masuk utama pada permukaan sel adalah reseptor ACE2, yang mengikat protein lonjakan melalui mekanisme mengunci-dan-kunci. Ada banyak varian ACE2 yang berbeda dalam populasi manusia dan spesies yang berbeda.
Varian reseptor ACE2 pada manusia diikuti oleh cerpelai, kucing, anjing, dan musang memiliki ikatan pengikatan tertinggi dengan protein lonjakan virus. Sedangkan untuk spesies lainya memiliki energi pengikatan yang buruk.

Akan tetapi, afinitas pengikatan saja tidak cukup untuk mengukur kerentanan sel terhadap infeksi. Para peneliti juga menguji dengan apa yang disebut sebagai “indeks adaptasi kodon ” spesies yang berbeda, yakni seberapa efisien virus corona dalam menguasai mesin sel setelah masuk kedalam tubuh mereka. Semakin efisien prosesnya, semakin baik virus corona dapat membuat protein yang dibutuhkan untuk mereplikasi diri mereka. Dalam hal ini manusia, ayam dan bebek memiliki indeks adaptasi kodon tertinggi, sedangkan untuk spesies lainnya memiliki adaptasi yang lebih buruk.

Dengan mempertimbangkan afinitas pengikatan dan indeks adaptasi kodon, para peneliti menyimpulkan bahwa manusia, diikuti oleh cerpelai, kucing, musang, dan anjing adalah hewan yang paling rentan terhadap infeksi virus corona. Mereka juga menemukan bahwa varian ACE2 manusia yang berbeda menunjukkan perbedaan stabilitas dan pengikatan pada protein lonjakan, suatu kepekaan yang mungkin mendasari mengapa beberapa orang menderita gejala COVID-19 yang lebih parah.

Para peneliti kini telah mengidentifikasi mutasi pada S-protein yang secara dramatis mengurangi kapasitas virus corona untuk masuk ke dalam sel, melindungi inang dari tertular virus tersebut. Kini mereka tengah merekayasa protein mini dari protein ACE2 manusia untuk ‘mengalihkan’ perhatian virus dari memasuki sel dan memblokir infeksi. Jika mutasi baru dari protein lonjakan virus muncul, para peneliti dapat merekayasa varian baru untuk memblokirnya.

Memahami infektifitas virus corona di berbagai spesies dapat memberikan informasi yang lebih baik kepada tindakan kesehatan di masyarakat, dan membantu mengurangi kontak manusia dengan hewan rentan lainnya dan menghindari potensi perpanjangan pandemi COVID-19.

Sumber:
Situs sciencedaily. Materi awal berasal dari Center for Genomic Regulation. Foto: Pixabay.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA