24.1 C
Yogyakarta
27 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Hidup Berdamai dengan Covid-19

Berdasarkan catatan sejarah, bukan pertama kalinya dunia diguncang pandemi seperti saat ini. Wabah TBC, DBD, malaria, tipus, cacar, ebola, Mers, dan SARS adalah beberapa contoh wabah yang mendahului Covid-19. Artinya, sejak keberadaan manusia di dunia, mikrobiota penyebab berbagai wabah itu sudah bergentayangan di sekitar kehidupan manusia. Dan, Alhamdulillah… manusia mampu beradaptasi dengan semua itu. Buktinya, sampai saat ini manusia masih tetap eksis di muka bumi. Jumlah populasinya mencapai lebih dari 7,7 milyar jiwa.

Para pakar memprediksi masih diperlukan waktu lama untuk kembali ke kehidupan normal seperti sebelum pandemi Covid-19. Oleh karena itu, benar juga jika Presiden Jokowi mengatakan bahwa masyarakat harus berdamai dengan virus corona. Kita tidak akan bisa mengatasi pandemi secara tuntas. Kita hanya bisa membatasi pandemi. Begitu penjelasan lebih lanjut Presiden Jokowi.

Kata berdamai di sini dapat dimaknai dengan hidup berdekatan. Mengapa demikian? Memang faktanya, pada kehidupan manusia sehari-hari dikelilingi berbagai mikrobiota, salah satunya virus. Tanpa disadari, pada tubuh orang sehat pun juga bertengger berbagai mikrobiota. Ada berbagai bakteri, jamur, dan virus yang hidup di tubuh manusia. Antara lain hidup di kulit, hidung, mulut, dan usus.

Keberadaan mikrobiota tersebut ada yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Tetapi ada juga yang tidak berdampak apa-apa. Bahkan memberi keuntungan pada proses metabolisme. Keberadaan Covid-19 termasuk virus yang sangat merugikan pada kesehatan manusia. Namun, orang akan bisa melawannya asalkan sehat dan bugar. Kuncinya terletak pada daya tahan tubuh orang tersebut. Jika kondisi tubuh seseorang sehat dan bugar, kemungkinan besar mampu menangkal virus jahat tersebut. Nah… jika demikian kondisinya, sudah saatnya kita juga melakukan pendekatan dari sisi personal, orang per orang. Caranya dengan tetap menjaga kebugaran. Karena, mau tidak mau, suka tidak suka virus corona itu berpeluang besar hinggap di tubuh kita. Masalahnya adalah tinggal tunggu waktu saja. Hal ini terbukti dari penyebaran virus tersebut yang demikian meluas. Sekarang sudah dikenal status OTG (orang tanpa gejala). Ada juga status ODR (orang dalam risiko). Mereka semua itu konon adalah orang-orang sehat. Kemungkinan besar di tubuh mereka sudah bersarang virus.

Dalam kondisi seperti ini, kita seperti diingatkan kembali pentingnya daya tahan tubuh dalam menangkal bibit penyakit. Termasuk menangkal virus sebagai salah satu sumber penyakit. Jika kondisi badan seseorang baik, hampir bisa dipastikan mampu menangkal virus masuk ke tubuh. Jadi, kita tidak terlalu mengkawatirkan virus datang dibawa oleh siapa pun. Karena sesungguhnya datangnya virus itu bisa dari siapapun. Termasuk orang yang paling dekat di rumah kita. Seketat-ketatnya kita menangkal secara fisik datangnya virus, akhirnya jebol juga. Buktinya, demikian cepat Covid-19 menyebar ke seantero jagat. Bahkan dalam waktu relatif singkat sudah menjangkau berbagai penjuru dunia. Hal ini terjadi karena penyebaran virus seiring dengan mobilitas orang. Ke mana orang pergi, ke situ pula si virus mendompleng.

Oleh karena itu, sudah saatnya dilakukan juga dengan pendekatan terbalik. Kita tidak perlu terlalu repot-repot menghindar bertemu seseorang. Tidak perlu melarang orang berkunjung ke lingkungan kita. Tetapi marilah kita perkuat daya tahan tubuh masing-masing. Kita siapkan benteng pertahanan di dalam tubuh kita. Dengan demikian, kita bisa kembali hidup normal. Bisa melakukan aktivitas sosial dan tetap produktif. Yang diperlukan sekarang adalah edukasi kepada masyarakat bagaimana caranya meningkatkan daya tahan tubuh. Edukasi ini diperlukan bagi seluruh lapisan masyarakat. Sebagai bahan pembelajaran seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari presiden, gubernur, bupati, lurah, sampai petani, pedagang, dan masyarakat awam memerlukan edukasi ini.

Secara praktis, edukasi bisa dibuat dalam bentuk cetak atau digital. Yang dibuat secara masif dan disebarluaskan kepada seluruh masyarakat secara gratis. Dan isinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Misalnya, panduan perilaku hidup sehat. Jenis-jenis makanan yang sehat dikonsumsi, termasuk cara mengolahnya. Konsumsi vitamin yang diperlukan tubuh. Olah raga yang disarankan. Bekerja yang produktif sekaligus menyehatkan. Tata-cara beribadah yang barokah dan sehat. Interaksi sosial yang humanis dan sehat. Tips bepergian yang aman dan sehat. Manajemen lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Kebiasaan-kebiasaan yang menunjang hidup sehat. Dan lain-lain yang semuanya mendidik masyarakat agar sadar hidup sehat. Disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat luas. Dengan gaya tutur yang edukatif.

PR selanjutnya adalah pemerintah melalui instansi terkait perlu segera mengeluarkan berbagai bahan edukasi tersebut. Jangan lupa, masyarakat juga perlu diberi pendampingan. Secara intensif para petugas yang berkompeten diterjunkan langsung untuk mengedukasi masyarakat. Targetnya adalah bersama-sama mengedukasi masyarakat agar menjaga daya tahan tubuh tetap sehat dan bugar. Kesehatan tubuh yang prima adalah hal yang terpenting. Sehat lahir dan bathin, sehat fisik dan psikis.

Tetapi jangan lupa, anjuran pihak terkait tentang protokol pencegahan virus yang selama ini sudah berjalan tetap dilakukan. Jika keluar rumah mengenakan masker. Sesering mungkin mencuci tangan menggunakan sabun. Selalu sedia hand sanitizer, untuk kondisi kepepet jika tidak ada air dan sabun. Membatasi diri ikut kerumunan orang banyak yang tidak jelas kepentingannya. Itu semua tujuannya untuk apa? Untuk meminimalisir jumlah virus yang mungkin bisa menempel di tubuh kita. Ibaratnya, jika jumlah musuh sedikit, maka tentara yang dikerahkan juga tidak perlu kerja terlalu keras. Maka, dengan mudah tubuh seseorang yang sehat dan bugar akan mampu menangkalnya. Sampai imun alami atau herd immunity terbentuk.

Selain meningkatkan daya tahan tubuh, masyarakat di-edukasi agar senantiasa:

Menjaga kebersihan

Kita paham bahwa pada lingkungan yang bersih berbagai jenis kuman, seperti: virus, bakteri, jamur, dan sejenisnya akan sulit berkembang biak. Untuk mencegah berbagai kuman tersebut berkembang biak, kita wajib menjaga kebersihan lingkungan hidup. Untuk ini masyarakat harus disiplin menerapkan perilaku hidup bersih.

Bersikap jujur

Jujur menjadi point penting. Kita perlu belajar dari munculnya klaster-klaster baru pendemi Covid-19 akibat ketidak-jujuran masyarakat. Masyarakat difahamkan bahwa terpapar Covid-19 bukanlah aib. Karena pada dasarnya yang terpapar itu juga korban. Jadi, mengapa harus berbohong? Oleh karena itu, untuk semuanya saja jangan menyepelekan Covid-19.

Tetap berkarya yang produktif

Pada situasi pandemi yang demikian, masyarakat tetap didorong untuk terus berkarya dan tetap produktif. Jangan sampai justru menciptakan mental “penerima”. Kita tidak boleh pasrah terhadap keadaan.

Berperilaku sopan santun dan sabar

Masyarakat harus maklum bahwa wabah yang berkepanjangan berdampak terhadap kondisi psikologis seseorang. Banyak orang yang stres, galau, bingung, dan sebagainya. Itu semua akan berdampak terhadap perilaku sosial. Jika kita tidak bisa saling memahami, berbagai urusan bisa menjadi runyam. Untuk itu diperlukan kerjasama dan saling pengertian bersama. Sabar dan saling pengertian menjadi kata kuncinya.

Mengendalikan diri

Kunci dari perilaku hidup sehat adalah pengendalian diri. Termasuk mengendalikan diri terhadap keinginan untuk mudik lebaran. Masyarakat terus disadarkan antara keinginan dan kebutuhan terkait keperluan hidup sehari-hari. Termasuk keinginan keluar rumah jika tidak ada keperluan penting harus dicegah. Begitu juga keinginan akan keperluan hidup sehari-hari. Mengingat di antara saudara kita masih banyak yang kesulitan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Untuk semua itu, dengan semangat disiplin pribadi dan keluarga menjadi kunci sukses penanganan pandemi Covid-19. Dimulai dari pribadi yang sehat dan bugar, tahun 2020 Indonesia Bangkit. Semoga.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA