Ditulis oleh 10:20 am KALAM

Hidup Berkemajuan Berpanduan Al-Quran

Manusia bebas memilih. Jika salah pilih ia akan jatuh, bahkan lebih rendah dari binatang. Banyak orang yang begitu tinggi dan berkuasa di dunia. Mereka akan jatuh oleh kesalahan mereka. Ada pula orang yang rendah, tapi hidup saleh. Mereka akan diangkat ke tingkat dan derajat yang lebih tinggi.

Manusia dirancang oleh Sang Pencipta Allah Swt untuk menjadi khalifah di bumi. Khalifah bermakna pengganti, pemimpin, penguasa. Tugasnya memakmurkan bumi; merawat, meramaikan, dan melestarikannya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menempatkan makhluk yang akan merusak dan membuat pertumpah darah di sana, padahal kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia menjawab, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(Al-Baqarah/2:30).

Manusia diciptakan dalam sebaik-baik pola acuan; simetris bentuk, kodrat, dan postur tubuhnya. Allah Swt memberikan sifat terbaik dan paling murni kepada manusia. Kewajibannya menjaga polanya itu. Dengan menempatkan manusia sebagai khalifah, Allah memuliakannya lebih tinggi dari malaikat. Para malaikat pun disuruh memberikan penghormatan kepadanya.

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (At-Tin/95:4-6).

Manusia tampil menerima amanat itu, karena ia tidak tahu ukuran kemampuan dan pengetahuannya. (Al-Ahzab/33:72). Ia terlalu berani dan bodoh untuk dapat memahami tugasnya. Orang yang jahat mengkhianati amanat itu dan membawa bencana kepada diri sendiri, sedangkan yang baik mampu menempatkan diri menjadi orang-orang yang dekat kepada Allah Swt.

Manusia bebas memilih. Jika salah pilih ia akan jatuh, bahkan lebih rendah dari binatang. Banyak orang yang begitu tinggi dan berkuasa di dunia. Mereka akan jatuh oleh kesalahan mereka. Ada pula orang yang rendah, tapi hidup saleh. Mereka akan diangkat ke tingkat dan derajat yang lebih tinggi.

Manusia datang ke dunia dalam keadaan polos, telanjang, dan buta ilmu pengetahuan. Ia pun dibekali dengan kekuatan sebagai persiapan untuk belajar dan mengetahui alam yang luas kemudian memanfaatkannya demi kemakmuran, kebahagiaan, dan kelestarian hidupnya. (Al-A’raf/7:179-180)

Manusia memiliki kesadaran akan kemuliaan dan harga diri. Ia pantang dihina, direndahkan, dan dizalimi. Kesadaran itu menuntun pada kebaikan dan menjauhi kejahatan, berpegang pada sifat-sifat kesatria, cita-cita tinggi dan luhur, serta tidak terbelenggu oleh syahwat duniawi, tidak silau oleh kemegahan dan pangkat kosong. Di antara tanda-tanda orang yang tahu harga diri ialah semangat membela kebenaran, menolak kezaliman, dan menegakkan keadilan. (Ali Imran/3:110)

Untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya manusia niscaya memperluas cakrawala hidup dengan belajar dan terus belajar. Seruan untuk belajar diturunkan dengan perintah membaca (Al-‘Alaq/96:1-5). Membaca sama dengan membuka jendela dunia. Betapa berharga, bernilai, dan bergunanya ilmu pengetahuan. Tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. (Ghafir/40:58).

Orang beriman didukung perilaku baik, punya pandangan jernih, dan melihat segalanya dalam perspektif yang benar, serta melangkah tegap di jalan Allah. Orang jahat seperti orang buta. Cahaya Tuhan ada di sekelilingnya, tapi karena membuta, ia tak dapat melihat apa-apa. Ia tak mau beriman, bahkan tak belajar dari peringatan orang lain.

Nabi Muhammad saw bersabda, ”Siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, ia dipandaikan dalam agama;” ”Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, Allah akan memudahkannya jalan ke surga;” ”Jika seorang manusia mati, terputuslah amal usahanya kecuali tiga: sadaqah jariyah, ilmu yang berguna, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim).

Allah Swt mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan luas. (Al-Mujadilah/58:11). Dalam kerajaan Allah semua orang sama. Tetapi ada kepemimpinan, tingkat, dan pangkat, serta tanggung jawab yang lebih besar atau lebih kecil, tergantung pada ilmu sejati, iman hakiki, dan hati nurani. Dalam rangka belajar, manusia niscaya memperhatikan apa saja yang di langit, di bumi, dan mengambil pelajaran dari pengalaman umat-umat terdahulu.

Sebagian manusia tidak melihat apa yang terbentang pada kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang diciptakan Allah. Mereka tidak memikirkan dengan rasa takut bahwa waktu kebinasaan sebagai suatu rezim boleh jadi telah dekat. Mereka tidak dapat berpura-pura Tuhan merintangi mereka atau tiada peduli terhadap apa yang mereka lakukan.

Sekalipun tanda-tanda kebesaran Allah ada di mana-mana, namun Dia mengutus rasul kepada setiap umat, meminta perhatian mereka akan segala hal yang baik, dan meninggalkan segala yang buruk. Karunia-Nya selalu mengajak mereka memilih yang benar.

Orang-orang tak beriman enggan mengambil pelajaran rohani apa pun. Mereka melihat hanya apa yang benar-benar terjadi di bumi ini. Mereka akan menyaksikan bahwa yang buruk selalu berakhir dengan buruk, dan kebenaran akhirnya mendapat kemenangan.

Manusia niscaya bekerja keras mengaktualisasikan diri di muka bumi. Mukmin bekerja dengan amal saleh dan bermanfaat, untuk diri sendiri maupun masyarakat umum, demi karena Allah semata. Mereka akan dikembalikan kepada Allah lalu diberitakan sanksi dan/atau ganjaran atas apa yang telah dikerjakan. (At-Taubah/9:105).

Allah Swt menjanjikan tiga hal kepada orang-orang beriman yang menaati-Nya: (1) mereka akan mewarisi kekuasaan di bumi; (2) agama yang benar akan terus diperkuat dan menghapuskan segala kezaliman dan penindasan; (3) orang yang mengerjakan amal kebaikan akan hidup tenteram dan damai.

Hidup manusia niscaya berorientasi ke masa depan dan memikirkan generasi penerusnya. Betapa cemas bila kita meninggalkan keluarga yang lemah. Kemajuan itu tidak akan datang tiba-tiba, melainkan harus diusahakan. Masing-masing orang akan memperoleh hasil sesuai dengan kadar kesungguhannya.

Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat sedikit atau banyak yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, dan tidak juga sebaliknya, mengubah kesengsaraan yang dialami menjadi kebahagiaan, hingga kaum itu sendiri berusaha mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Al-Anfal/8:53)

Manusia niscaya berpacu dalam meraih prestasi, keuntungan, kesuksesan, dan kebahagiaan duniawi maupun dan ukhrawi. Tiap-tiap umat manusia ada kiblat arah menghadap kepadanya, sesuai dengan kecenderungan atau keyakinannya. Muslim niscaya berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan. Dalam kehidupan dunia manusia senantiasa berselisih, tetapi semua akan mati, dan dikumpulkan pada hari kiamat untuk diberi kuputusan.

Manusia niscaya tekun, sabar, dan menghindari sikap lemah; bergotong-royong, serta bertawakal kepada Allah Swt.

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, dan kuatkanlah kesabaranmu, serta tetaplah bersiap-siaga, dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung. (Ali Imran/3:200).

Manusia niscaya bekerja keras berlandaskan iman kepada Allah Swt, cermat dalam pengamatan, kritis, dan selektif dalam menyaring informasi yang datang kepadanya, serta tidak terpancing untuk ikut-ikutan. Manusia diliputi kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali jika mereka berpegang teguh pada ajaran Allah, dan memperoleh pembelaan, serta perlindungan dari-Nya, dan pembelaan dari kelompok manusia.

Manusia niscaya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, mengingat-Nya, dan memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya. Tuhan membimbing mereka yang beriman dan berbuat baik sesuai dengan iman mereka.

“Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api.” (Al-Baqarah/2:201).

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam!” (Yunus/10:10).

(Visited 234 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 28 Mei 2020
Close