Hidup Dalam Keseimbangan

khamim 5
Dunia adalah ladang tempat bertanam, dan hasil yang dinikmatinya di dunia adalah sebagian kecil saja dari hasil yang sesungguhnya akan diperolehnya.

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

Bagi orang-orang  yang beriman, kehidupan yang seimbang dan keridhaan Allah SWT adalah sumber dari segala sumber dari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Firman Allah SWT : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS Al-Qasas, 28:77).  

Dunia adalah ladang tempat bertanam, dan hasil yang dinikmatinya di dunia adalah sebagian kecil saja dari hasil yang sesungguhnya akan diperolehnya. Bagian yang terbesar justru akan dinikmatinya kelak di akhirat yang penuh dengan kebahagiaan dan keabadian. Sang Maha Pencipta (Allah SWT), selain sebagai satu-satunya Zat yang patut disembah, juga sebagai satu-satunya pengatur seluruh alam beserta isinya. Manusia sebagai hamba-Nya wajib menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya dan rela diatur oleh-Nya.

Islam memandang bahwa kehidupan itu bukan hanya di dunia ini saja, tetapi berkelanjutan sampai kehidupan di akhirat. Hidup di dunia merupakan masa bakti yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, dan kehidupan paska kematian (kehidupan di akhirat) erat sekali hubungannya dengan kualitas hidup di dunia fana sekarang ini. Apa yang dipetik di akhirat adalah hasil dari tanaman di dunia. Amal baik akan dibalasi dengan kebaikan dan kenyamanan, demikian juga amal buruk akan dibalasi dengan keburukan dan derita tiada akhir.

Firman Allah SWT : ”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscara dia akan melihat (balasannya)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula”.  (QS Al-Zalzalah, 99 : 7-8).   Pemenuhan kehidupan dunia sebatas keperluan untuk mengabdikan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap usaha yan dilakukan dalam kehidupan di dunia, haruslah senantiasa disesuaikan dengan hukum dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh syariat agama.  

Sebagai ‘abdi Allah (hamba Allah), manusia harus pandai menempatkan dirinya sebagai pengabdi dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan keikhlasan. Kemampuan ini tergambar dari pola sikap dan perilakunya, yakni apakah manusia sanggup menjalankan kehidupan secara seimbang antara pemenuhan kehidupan dunianya dan persiapan hidup kekal di akhiratnya. Peran ini erat kaitannya dengan ridha Allah SWT, dalam arti apapun aktivitas manusia dalam hubungan antarmanusia maupun antarsesama makhluk Allah harus atas dasar keridhaan-Nya.

Gambaran ini sekaligus dapat dijadikan sebagai indikator tingkat kesungguhan manusia dalam memerankan dirinya selaku hamba Allah secara utuh. Tolok ukur hablum minannas (hubungan antar manusia) bukanlah berdasarkan nafsu kita, melainkan bagaimana Allah telah berbuat baik kepada manusia. “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (QS Al-Qasas, 28: 77).

Dalam mempertanggungjawabkan amal perbuatan, tidak seorang pun dapat memungkiri akan apa yang telah dilakukannya di dunia yang fana ini. Manusia akan memberikan kesaksian langsung yang tidak mungkin dibantah oleh mulut, sebab pada saat itu mulut telah dikunci, demikian pula kaki, tangan, serta anggota tubuh lainnya akan memberikan kesaksian apapun yang telah dikerjakan ketika hidup di dunia.

Allah SWT berfirman : “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (QS Yasin, 36 : 65).   Oleh karena itu, janganlah kesenangan duniawi menjadikan lupa (kekekalan) akhirat. Mempersiapkan akhirat yang baik, tanpa (harus) melupakan apa yang menjadi hak-haknya di dunia ini, itulah keseimbangan hidup dalam perspektif Islam.

Penulis: Dosen Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close