Hidup Seimbang dan Tidak Berlebihan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sesuatu yang seimbang itu indah, karena terjadi equilibrium. Hidup menjadi tenang dan damai serta bisa memunculkan kebahagiaan yang penuh ridlo Allah swt.

Pada hakekatnya pendidikan Rasulullah saw itu orientasinya mementingkan keseimbangan antar kedua aspek yang senantias berkaitan. Antara dunia dan akhirat, juga antara kebahagiaan material dan rohaniah. Tidak ada yang dilebih-lebihkan antara satu dan lainnya.

Kita didorong untuk menjaga keseimbangan secara kontekstual, dengan tidak ada upaya melebihkan yang satu di atas lainnya. Dengan demikian melalui pendidikan Rasulullah saw, bahwa manusia yang diinginkan adalah manusia yang tumbuh dan berkembang secara utuh dan seimbang di samping bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat.

Allah swt berfirman: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (QS, Al Qashash: 77). Ayat ini dapat ditafsirkan, bahwa ibadah yang dianggap benar oleh Islam adalah ibadah yang tidak mengabaikan antara pekerjaan yang bersifat duniawiyah dengan kewajiban menunaikan Ibadah kepada Allah.

Islam memandang bahwa kehidupan dunia, adalah merupakan perjalanan menuju kehidupan akhirat yang lebih abadi. Dunia itu ladangnya akhirat (Ad-dun-ya mazra’atrul aakhirah), dan yang (hidup) di akhirat itu lebih baik dan lebih abadi (wal aakhiratu khairuw wa abqaa). Dengan kata lain bahwa Islam tidak menganjurkan kepada setiap insan untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya sama sekali tidak menghendaki hanya kebaikan dunia saja atau kebaikan akhirat saja dalam keseimbangan dan tidak melebih-lebihkan.

Sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya; juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Terlebih lagi dalam urusan agama.

Hal ini diperkuat oleh firman Allah swt yang artinya “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS Al Mâ`idah: 77). Walaupun Allah swt menyukai hamba-Nya rajin beribadah, namun tidak boleh berlebihan, sehingga melupakan tanggung jawab lainnya,

Untuk dapat memahami perilaku berlebih-lebihan dapat kita ikuti beberapa istilah, yang di antaranya :

1. Tanaththu’ (Sikap Ekstrem). `Abdullah bin Mas’ûd ra meriwayatkan dari Rasulullah saw, beliau bersabda: هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ “Celakalah orang-orang yang ekstrim!” Beliau mengucapkannya tiga kali.” (HR Imam Muslim).

2. Tasyaddud (Memberat-Beratkan Diri). Anas bin Malik ra meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

 “Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.” (HR Abu Dawud).

Dalam hadits lain pula Nabi saw berdabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ

 “Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).”(HR Bukhori).

3. I’tidâ’ (Melampaui Ketentuan Syariat). Allah swt berfirman:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُواۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

 “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-Baqarah : 190].

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla telah berfirman: تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا “Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya.” (QS al-Baqarah : 187)

4. Takalluf (Memaksa-Maksa Diri). Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakanlah (hai Muhammad“,

Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS, Shâd : 86)

Apapun alasannya bahwa berlebihan dalam beragama itu tidak dibenarkan oleh Allah swt dan Rasulullah saw. Karena itu perlu upaya terus untuk membangun keseimbangan (tawazzun). Sesuatu yang seimbang itu indah, karena terjadi equilibrium. Hidup menjadi tenang dan damai serta bisa memunculkan kebahagiaan yang penuh ridlo Allah swt.

Memang upaya untuk menuju keseimbangan dan terjauhkan dari sifat yang berlebihan tidaklah mudah. Sikap berlebihan setidak terjadi dapat diduga disebabkan oleh kurangnya ilmu agama, sikap taklid, dikendalikan nafsu, dan bersumber dari hadits yang lemah. Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya, sehingga bisa mewujudkan hidup yang seimbang dan tidak berlebihan.

Baca juga: Hidup Bahagia di Usia Tua

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA

Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti