Ditulis oleh 2:45 pm KABAR

Hijrah Peradaban

Hijrah Peradaban harus dijalani dengan semangat pantang menyerah, penuh keikhlasan dan harapan mendapatkan rahmat Alloh SWT.

Hijrah secara harfiah berarti meninggalkan. Dalam sejarah Islam ‘Hijrah’ selalu dikaitkan dengan peristiwa berpindahnya Rasululloh Muhammad SAW bersama para sahabatnya dari kota Mekah menuju Madinah.

Pejalanan heroik yang penuh dengan ancaman dan pengorbanan demi mendapatkan kebebasan dalam menjalankan syari’at Alloh SWT. Karena di kota Mekah, yang notabene tanah tumpah darahnya umat Islam selalu mendapatkan intimidasi baik ferbal maupun fisik bahkan sampai pembunuhan. Hal itu ditujukan untuk menghentikan da’wah Islamiyah yang berpotensi melahrkan perubahan dalam tata kehidupan kota Makkah dan menggeser hegemoni kaum elit Kuraisy baik secara sosial, politik maupun ekonomi.

Tetapi spirit perubahan yang menyala dan terus dikobarkan oleh motivasi murni ‘mendapatkan kenikmatan abadi’ menjadikan umat Islam tidak menyerah. Meskipun harus meninggalkan tanah tumpah darah yang sangat dicintai, harta, saudara bahkan nyawa sekalipun. Mereka kemudian hijrah menuju Madinah. Kota asing yang di dalamnya tidak ada saudara dan juga fasillitas hidup seperti tempat tinggal dan ladang ekonomi (pekerjaan) yang sudah jelas menjanjikan.

Besarnya keikhlasan dan semangat perubahan serta keyakinan akan pertolongan dan rahmat Alloh SWT, menjadikan syaraf ‘takut’ mereka putus dan siap menanggung segala resiko atas pilihannya berIslam.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah: 218).

Inilah spirit Hijrah. Semangat menjalankan syari’ah dan keyakinan akan mendapatkan rahmat Alloh SWT.

Hijrah Peradaban.

Seperti kehidupan Mekah di era Jahiliyyah, peradaban sekarang juga penuh kemaksiatan, penyimpangan dan pemaksaan.

Hegemoni kaum kufar sekulair, matrialist kapitalistik sangat kuat. Sehingga untuk mengubahnya diperlukan tekad, strategi, usaha dan pengorbanan yang luar biasa. Dan semunya bisa ada hanya jika motivasi yang menggerakkan semata untuk mendapatkan rahmatNya.

Sekarang HIJRAH PERADABAN telah kita jalankan.

Seperti perjalanan Mekah Madinah, hijrah peradaban juga berliku, menanjak dan berduri. Kufar kapitalis sekulair akan mengejar, menghalangi bahkan jika perlu mematikan Islamisasi.

Karena itu sebagaimana Rasululloh SWT menjaga fokus pengepungan Kuraisy dengan berganti posisi tidur dengan Ali Ra dan memakaikan selimutnya sehingga pengepung tetap yakin Rosululloh masih dalam kekuasaannya.

Tidak lanngsung ke Madinah tetapi mengambil jalan memutar. Naik ke bukit Tsur dan menunggu selama tiga hari untuk mempersiapkan perbekalan (dikirim oleh Asma’ binti Abu Bakar).

Menghapus jejak dengan tapak kaki kambing yang digembalakan Amir biin Fuhairih, sambil melihat perkembangan situasi hingga dipastikan sebagian pengejar telah berhenti (dilakukan oleh Abdullah bin Abu Bakar),

Kemudian berkolaborasi dengan penunjuk jalan profesional kafir Abdullah in Uraiqith, untuk melanjutkan perjalanan ke tanah harapan Madinah di bawah pimpinan Rasululloh SAW,

‘HIJRAH PERADABAN’ juga harus mengambil strategi:

1. Mejaga fokus kaum sekulair. Memastikan kaum sekulair percaya kita tetap dalam pengembangan kognisi, sains dan tekhnlogi yang mereka yakini muslim tidak mungkin akan bisa mengungguli dan tetap dalam pengawasan mereka.

2. Mengambil jalan tak terduga, sulit, melingkar dan naik ke bukit. Tidak ekstrim Islamisasi. Harus kerja keras dengan fasilitas serba terbatas.

3. Menyiapkan perbekalan. Bekerja sama dengan orang-orang yang expert untuk mengumpulkan/membangun sarana prasarana yang menunjang pengembangan.

4. Mencermati pergerakan pengejar kufar. Melalui orang-orang yang berada dalam sistem sekulair, mencermati perkembangan terkini peta politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan hankam.

5. Berkolaburasi dengan kafir professional. Membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga sekulair untuk kelancaran pengembangan peradaban, tetapi tetap dalam kontrol.

6. Bergerak sebagai Kafilah. Setiap ijtihad, gerak dan kebijakan harus dikoordinasikan dalam satu komando perjuangan umat.

7. Di atas semuanya, Hijrah Peradaban harus dijalani dengan semangat pantang menyerah, penuh keikhlasan dan harapan mendapatkan rahmat Alloh SWT.

InsyaaAlloh perjuangan akan selamat sampai di tanah harapan: PERADABAN BARU YANG PENUH RAHMAT, BALDATUN THOYIBATUN WA ROBBUN GHOFUR dan sekuruh mujahidnya mendapatkan rahmat Alloh SWT di surga. Amin ya Robb amiin.

Baca juga: Mengembangkan Sikap Kooperatif Anak

(Visited 37 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 22 Agustus 2020
Close