Ditulis oleh 11:21 am COVID-19

Hikmah Covid-19

Di Yogyakarta, pengantisipasian Covid-19 dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Secara spontan, kampung, dusun, kampus mempersiapkan sendiri penyeprotan baik yang manual maupun yang otomatis tanpa banyak keluhan.

Oleh: Dr. Sobirin Malian, S,H., M.Hum.

Hingga hari ini di seluruh dunia, perjuangan melawan Covid-19 belum juga usai, dan entah sampai kapan akan berakhir, siapa pun tidak ada yang tahu. Wallahu’alam bissawab, hanya Allah SWT yang tahu. Celakanya, korban terus berjatuhan. Secara global, sudah hampir satu juta nyawa melayang. Berbagai upaya pun terus dilakukan terutama secara medis.

Kendati diberitakan telah ditemukan obatnya baik dari China, Amerika Serikat dan lain-lain dalam kenyataannya belum cukup untuk benar-benar menghentikan laju penyerangan Covid 19 ini.  Sejauh ini yang dapat dilakukan masyarakat dimana pun  hanyalah mengikuti protokol ketat diiringi menjaga kesehatan yang terus dilakukan oleh berbagai pihak.

Memang protokol itu bersifat pribadi yang memberi pedoman bagaimana agar setiap orang mulai dari akan bepergian hingga pulang lagi ke rumah menjaga kebersihan dan kesehatan. Mencuci tangan dengan sabun, semprot inspectan, berjemur, makan makan yang bergizi, dan vitamin terus dianjurkan. Selebihnya kita diminta bersabar dan terus berdoa semoga “pandemi Covid 19 ini segera berlalu”, apalagi menjelang bulan Ramadhan.

Masalah Kompleks

Covid 19 ternyata menghadirkan masalah yang kompleks luar biasa. Uniknya masalah-masalah itu sebagian sangat aneh. Seperti diluar akal sehat. Masalah ekonomi, misalnya, jelas mengakibatkan perekonomian negara termasuk didalamnya ekonomi masyarakat terjun bebas. Memang berbagai pemerintahan negara mengantisipasinya dengan cara masing-masing. Bagi negara kaya, seperti Saudi Arabia, Turkey segera me-Lockdown– berbagai kota guna memutus matarantai penyebaran dengan menginapkan warga (tak terkecuali orang asing) di hotel berbintang lengkap dengan berbagai fasilitasnya.

Namun, bagi negara miskin atau negara yang terbatas dananya, seperti Indonesia untuk me-lockdown saja berdebat gak habis-habisnya dan saling tunjuk hidung. Ujung-ujungnya keluar kebijakan “aneh” dimana masalahnya A dijawab dengan B…ya kayak Jaka sembung bawa golok gitu…

Kritik yang paling tajam yang dialamatkan ke pemerintah terutama di bidang ekonomi adalah, mengapa penyelamatan ekonomi yang lebih diutamakan ketimbang nyawa warga masyarakat.Di bidang politik, ini juga aneh. DPR tetap saja melanjutkan pembahasan RUU Omnibus Law yang kontroversi itu. Bahkan, proyek pemindahan ibukota tetap juga harus berjalan di tengah suasana keprihatinan seperti ini.  Kalangan akademis dan ilmuwan umumnya mengritik keras cara-cara DPR dan pemerintah ini. Sangat kuat terasa betapa dunia politik kita tuna moral, tidak memiliki sense of crisis sama sekali.

Kita hanya berharap semoga keanehan-keanehan seperti di atas tidak terus berulang. Kita tentu sudah muak dengan sikap-sikap yang kontraproduktif dengan kondisi yang dihadapi masyarakat saat ini.

Kemandirian Masyarakat

Yang menarik, khususnya di Yogyakarta, pengantisipasian Covid 19 dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Secara spontan, kampung, dusun, kampus mempersiapkan sendiri penyeprotan baik yang manual maupun yang otomatis tanpa banyak keluhan. Berbagai kampus secara bijak mengeluarkan aturan dengan me-lockdown kampus. Kuliah dan aktivitas lain dilakukan dengan cara on-line. Tampaknya, sikap mandiri masyarakat ini sebagai bentuk sikap dan “solusi” karena kalau berharap dari pihak yang berwenang mereka khawatir justru akan kecewa.

Hikmah

Umum bahwa setiap peristiwa ada hikmah dibaliknya. Saya teringat dengan 6 (enam) pertanyaan Imam al Ghazali; (1) Apa yang paling tajam di dunia ini ?…Jawabannya: lidah manusia. (2) Apa yang paling jauh di dunia ini ?…Jawabannya: masa lalu. (3) Apa yang paling besar di dunia ini ? Jawabannya: nafsu. (4) Apa yang paling berat di dunia ini ? Jawabannya: menunaikan janji, (5) Apa yang paling ringan di dunia ini ?  Jawabannya: melupakan Allah SWT. Dan (6) Apa yang paling dekat di dunia ini ? Jawabannya: kematian.

Akumulasi dari  enam pertanyaan itu kini tengah kita alami, betapa mudahnya kita menyakiti sesama melalui lidah kita. Betapa mudahnya kita melupakan masa lalu, padahal banyak pelajaran penting disitu untuk kita jadikan guru. Betapa besarnya nafsu (bejat) kita sehingga menghalalkan yang haram dan lain-lain. Betapa mudahnya kita melupakan janji, padahal mengingkari janji adalah sifat kemunafikan. Betapa mudahnya kita melupakan Sang Pencipta Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Padahal Dia-lah Sang Khaliq. Dan terakhir, saat ini kita alami betapa kematian itu ternyata begitu dekat. Pandemi Covid 19 menjadi ancaman sehingga kita tidak berani kemana-mana…bahkan di rumahpun sebenarnya kita tetap tidak tenang, khawatir. Kematian itu memang begitu dekat. Mampukah kita mengambil hikmah dari peristiwa ini. Semuanya telah terungkap melalui 6 (enam) pertanyaan ini.

Penulis: Dosen Fakultas Hukum UAD

(Visited 175 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 20 April 2020
Close