Ditulis oleh 7:40 am COVID-19

Hikmah di Balik Pandemi Covid-19

Musibah ini menandakan begitu lemah dan kecilnya manusia ini, dan sebaliknya Maha Besar Allah dengan segala kekuasaannya.

Oleh: Dr. Miftahuddin, M.Hum

Dalam perspektif  Islam, Pandemi Covid-19 akan lebih tepat jika diterjemahkan sebagai musibah atau bencana yang merupakan teguran Tuhan. Jadi, Covid-19 adalah bencana yang dijatuhkan oleh Allah, dan bencana tersebut tidak hanya mengenai pada orang-orang yang bersalah saja, melainkan orang yang tidak bersalah pun memiliki peluang untuk terkena bencana, Musibah ini pada kenyataannya melanda semua manusia dan tidak kenal agama, suku, kaya-miskin, negara, dan lainnya, semua bisa saja terpapar Virus Corona ini.

Virus ini diketahui sangat mudah sekali menular. Konsekuensi dari usaha manusia untuk menangkal dan mencegah agar tidak terpapar virus ini sangatlah besar dan menyulitkan. Pertama, karena belum ditemukan obat dan vaksinya, Virus Corona ini dapat menyebabkan kematian seseorang. Kematian itu disebabkan terutama karena daya tahan tubuh atau imunitas tubuh yang lemah. Korban dan kematian manusia juga akan menjadi semakin banyak jika semakin banyak pula orang yang positif terpapar Virus Corona ini. Kematian bisa juga terjadi karena faktor tidak segera tertanganinya pasien positif Corona.

Kedua, dampak ekonomi dan sosial sangat dapat dirasakan. Karena penularan Virus Corona adalah dari manusia ke manusia, maka untuk memutus rantai penularan tersebut manusia satu dengan lainnya harus menjaga jarak. Interaksi manusia harus dibatasi, dan tidak boleh adanya kerumunan banyak orang. Akhirnya, kegiatan ekonomi pun lumpuh, dan banyak orang yang kehilangan pendapatan dan pekerjaan. Demikian pula, banyak orang yang dicurigai membawa virus yang disebut dengan ODP (Orang dalam Pengawasan) yang terkadang mengakibatkan hubungan sosial menjadi tidak harmonis, dan masih banyak kasus-kasus lain akibat virus ini.

Musibah ini menandakan begitu lemah dan kecilnya manusia ini, dan sebaliknya Maha Besar Allah dengan segala kekuasaannya. Dalam kondisi Covid-19 semacam ini, orang tidak bisa sombong lagi dan orang tidak bisa membanggakan kekayaan serta kekuasannya. Kini yang diperlukan adalah kebersaman, kedermawanan, ketaatan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini, sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama. Misalnya, dalam agama diajarkan melalui firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 155-157, yang artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innaa lillahi wa inna ilaihi raji’uun, sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan kepadaNya-lah kami kembali. Meraka itulah yang bendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Ayat ini menunjukkan bahwa musibah ini harus dihadapi dengan kesabaran dan dikembalikan kepada Allah SWT. Sabar bukan berarti pasrah, akan tetapi berusaha untuk menghilangkan musibah ini dengan jalan yang baik dan diridhoi Allah yang dibarengi dengan instrospeksi atau muhasabah mengapa Allah menimpakan musibah ini.

Sabar bukan berarti pasrah, akan tetapi berusaha untuk menghilangkan musibah ini dengan jalan yang baik dan diridhoi Allah

Tentu saja manusia harus dapat mengambil hikmah dari musibah Pandemi Covid-19 ini. Hikmah dapat berarti mencari kebenaran yang terdalam dengan menjawab pertanyaan mengapa musibah ini terjadi. Apa tujuan Tuhan memberi cobaan bencana wabah Covid-19 kepada seluruh umat manusia di seluruh dunia ini dan tidak terkecuali manusia yang ada di bumi Indonesia. Bisa jadi ini adalah peringatan Allah kepada manusia karena keserakahannya, keangkuhannya, kesombongannya, dan kecongkakannya. Siapa manusia itu, tentu kita sudah tahu jawabannya. Sekarang akibat ujian Covid-19 ini semua manusia menjadi tidak berdaya. Bagi orang-orang yang beriman, ini adalah ujian akan keimanannya. Siapa yang akan selamat dan lulus ujian ini, yaitu orang-orang yang bersabar dan yang semakin dekat dengan Allah.

Oleh karena itu, bulan Ramadhan yang dalam waktu dekat akan datang semestinya harus disambut dengan suka cita. Ramadhan inilah momen yang baik bagi orang-orang yang beriman agar semakin dekat dengat Allah. Dengan puasa orang akan mengatahui betapa firman dan ayat-ayat Allah adalah benar. Puasa akan mengajarkan kepada umat manusia, bahwa kejujuran adalah segalanya. Puasa akan melatih manusia untuk tidak berbohong jika ingin mendapat kebaikan. Puasa mengjarkan kepada manusia akan kesederhanaan dan bukan keserakahan, karena orang akan tahu batasan-batasan  kapan harus makan dan apa yang harus dimakan. Puasa juga mengajarkan kepada manusia akan kedermawanan. Orang yang puasa akan tahu betapa tidak enak dan tidak nyamannya perut yang lapar, dan hal ini dirasakan dan dialami oleh orang-orang yang miskin dan tidak punya dalam waktu yang tidak tahu kapan berakirnya. Insya Allah, momentum Rhamadhan ini akan mengantarkan keselamatan bagi orang-orang yang menjalankan puasa dari bencana Covid-19. Demikian pula, dapat diyakinin orang-orang yang senang dengan datangnya Rhamadhan dan menjalankan puasa dengan rasa iman dan keikhlasan adalah orang-orang yang akan lulus dalam menghadapi ujian bencana Covid-19.

Penulis: Dosen Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNY

(Visited 1.833 times, 5 visits today)
Tag: Last modified: 12 April 2020
Close