Hikmah Nuzulul Qur’an

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar/kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar, 97 : 1-3).

Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. Keberkahan terbesar yang dimilikinya dan bermanfaat sepanjang masa adalah peristiwa diturunkannya Kitab Suci Al-Qur’an atau Malam Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah, 2 : 185). Firman-Nya dalam ayat yang lain : “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan, 44 : 3-4). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar/kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar, 97 : 1-3).

Maka, jelaslah bahwa peristiwa awal turunnya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan sehingga dijuluki dengan Syahrul Quran (Bulan Alquran). Apa sajakah hikmah yang bisa diambil dengan turunnya Kitab Suci Al-Qur’an itu?

 Salah satu hikmah dari turunnya Kitab Suci Al-Qu’an adalah kita umat Islam dapat senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Banyak hal yang dapat dilakukan seorang muslim untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, di antaranya: Pertama, memperbanyak membaca atau tadarus Al-Qu’ran. Hendaklah seorang muslim membaca Al-Qur’an setiap harinya di bulan Ramadhan secara rutin, syukur tiap hari bisa membaca satu juz atau lebih.  Ironisnya, kita mampu bersosmed ria, membaca novel, komik, koran dan majalah selama berjam-jam dalam sehari, bahkan dapat menghabiskan bacaannya itu selama dua atau tiga hari, namun tidak  mampu menyisihkan sebagian waktunya untuk membaca  Al-Qur’an. Padahal membaca Al-Qur’an merupakan ibadah dan mendapat pahala, berbeda dengan bacaan-bacaan yang lain.

Kedua, memahami makna dan men-tadabburi ayat-ayat Al-Qur’an, dengan cara membaca terjemahan dan tafsir Al-Qur’an, baik secara perkata maupun ayat-per-ayat. Mentadabburi kisah-kisah dalam Al-Qur’an agar menjadi ibrah dan dapat diambil manfaatnya sebagai cermin kehidupan kita saat ini, dan untuk masa-masa yang akan datang.

Ketiga, menghafal Al-Qur’an. Minimal surat-surat pendek dan surat-surat penting lainnya yang sering dibaca dalam shalat tiap hari. Para ulama shalafus shalih mampu menghafal Al-Qur’an dalam usia anak-anak. Misal, Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an pada umur 7 tahun. Itulah modal kesuksesan mereka di dunia dan di akhirat, sehingga mengantarkan mereka menjadi seorang ulama dan menjadi hamba Allah yang bertakwa. Sangat disayangkan, jika kita mampu menghafal lagu-lagu, namun kita tidak mampu menghafal Al-Qur’an, walaupun beberapa surat. Bahkan kita merasa tenang dan terhibur dengan lagu dan musik, namun kita tidak merasa tenang dengan membaca dan mendengar Al-Qur’an, padahal Allah berfirman : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d, 13 : 28).

Keempat, mempelajari Al-Qur’an untk dijadikan petunjuk hidup. Sebagai petunjuk hidup manusia, Al-Qur’an (dan Hadits Nabi) mengajarkan kepada kita berbagai aturan hukum dalam segala aspek kehidupan. Begitu pula Al-Qur’an mengajarkan berbagai disiplin ilmu dan adab yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, orang lain, lingkunganya, dan Tuhannya. Tujuannya, agar mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan bagi kehidupan manusia. Oleh karenanya, orang yang beriman untuk bisa hidup yang selamat dunia akhiratnya, harus berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi, sebagaimana Sabda Rasulullah Muhammad SAW:

‟Wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim dan  Al-Baihaqi).

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.

Terbaru

Ikuti