Ditulis oleh 11:02 am COVID-19

Hikmah Wabah Virus Corona

Virus corona telah memunculkan kembali semangat gotong royong yang saat ini dilakukan oleh kelompok masyarakat dengan memberikan bantuan bagi masyarakat rentan.

Wabah pes yang melanda seluruh Eropa tahun 1347 dan 1351 yang kemudian dikenal dengan Black Death sehingga menewaskan sekitar 25 juta orang, menimbulkan kepiluan bagi masyarakat kala itu.  Meskipun begitu, ada sisi positif dari wabah tersebut, yakni menjadi awal menurunnya perbudakan karena banyak budak yang mati.

Begitu pula dengan wabah cacar yang menimpa orang-orang Eropa ketika pertama kali tiba di benua Amerika pada tahun 1492 sehingga menewaskan sekitar 30 persen dari mereka yang terinfeksi, dan telah merenggut nyawa sekitar 20 juta orang atau hampir 90 persen dari populasi di Amerika saat itu.  Keadaan ini justru membantu orang Eropa untuk menjajah dan mengembangkan daerah-daerah baru yang dikosongkan di wilayah tersebut.

Lalu bagaimana dengan merebaknya covid-19 yang melanda dunia saat ini?

Wabah Corona secara langsung maupun tak langsung telah berpengaruh besar terhadap kondisi idiologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya di dunia. Suka-tidak suka, mau tidak mau masyarakat merasakan dampak itu. Di bidang idiologi wabah corona telah merubah perilaku beribadah yang tadinya bisa dilakukan secara berjama’ah di tempat ibadah, setelah pandemi orang kemudian beribadah di rumah masing-masing untuk menghindari penularan. Walaupun secara parsial masih saja ada yang melakukan ibadah secara bersama-sama di tempat ibadah.

Secara politik berkembangnya virus corona telah menunjukkan ketidak siapan pemerintah dalam menghadapi ancaman perkembangan virus ini. Hal ini terlihat dari berubah-ubahnya kebijakan dan ketidak sinkronan antara pejabat satu dengan yang lainnya. Akibat ketidakjelasan perintah ini akhirnya memunculkan persoalan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Jika dibiarkan berlarut-larut kondisi ini akan menimbulkan distrust masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Ini hampir sama dengan ketika pandemi black death menimpa dunia, dimana pada saat itu berbagai otoritas berwenang kehilangan kredibilitasnya, karena dianggap telah gagal dalam melindungi rakyatnya yang mengalami efek dari wabah ini. 

Akibat corona, masyarakat merasakan pelambatan ekonomi. Penyebabnya tak lain karena menurunnya daya beli masyarakat, terjadinya panic buying, penurunan ekspor akibat terjadinya penurunan kebutuhan pasar global, serta berkurangnya produktifitas usaha. Dampaknya terjadi kenaikan angka kemiskinan seiring dengan naiknya angka pengangguran. Efek karambolnya adalah meningkatnya angka kriminalitas.

Virus Corona telah menjauhkan rasa kemanusiaan kita. Ketakutan terhadap virus corona telah berpengaruh terhadap sikap di lingkungan masyarakat. Tempat duduk yang biasanya berdampingan tanpa jarak kemudian diatur dengan jarak, akibatnya mengurangi rasa keakraban dan kekeluargaan. Orang  menjadi gampang curiga terhadap pihak yang sedang batuk, bersin, atau terlihat pucat.

Ketakutan terhadap virus corona telah berpengaruh terhadap sikap di lingkungan masyarakat.

Celakanya lagi, ketakutan terhadap corona telah mematikan rasa kepedulian antar manusia. Orang cenderung berhati-hati dan tidak segera memberikan pertolongan manakala ada orang lain mengalami kecelakaan. Nasib tragis juga dialami orang yang meninggal dunia. Tradisi bertakziyah ketika ada saudara atau handai tolan yang meninggal, akibat merebaknya corona jumlah pelayat dibatasi. Mereka yang bersimpati hanya bisa  menyampaikan bela sungkawa melalui media telekomunikasi atau mengirim karangan bunga karena khawatir tertular oleh virus tersebut. Ketidakmampuan kita dalam mengelola rasa curiga, takut, sikap over-protektif dalam merespons isu corona ini akibatanya sangat dahsyat, karena telah merusak hubungan sosial kemasyarakatan.

Tradisi masyarakat Indonesia yang suka bergotong royong, bersilaturahmi, ramah tamah, dan kekeluargaan seolah hilang dalam sekejap akibat wabah corona.  Tradisi bersalam-salaman diganti dengan menangkupkan kedua belah tangan di depan dada. Tradisi mudik dan berlebaran diganti dengan komunikasi melalui media WA, Instagram, Facebook, dan sebagainya. Ngabuburit ketika Ramadhan pun juga musnah dengan adanya kebijakan social distancing.

Wabah virus corona selain mengganggu Kesehatan, ternyata juga berdampak pada kondisi Ipoleksosbud. Ketakutan terhadap virus menciptakan bencana baru berupa disfungsi sosial, sehingga  membuat seseorang atau kelompok masyarakat tertentu tidak mampu menjalankan fungsi sosialnya secara benar.

Namun dibalik itu semua, di tengah merebaknya virus corona telah memunculkan kembali semangat gotong royong yang saat ini dilakukan oleh kelompok masyarakat dengan memberikan bantuan-bantuan kebutuhan pokok bagi masyarakat rentan. Para pelaku ekonomi kelas menengah juga mulai kreatif dengan putar Haluan jenis usaha. Saat inilah sesungguhnya waktu yang tepat untuk menumbuhkan Kembali semangat kemandirian untuk bertahan dari efek resesi dunia.

Saat inilah sesungguhnya waktu yang tepat untuk menumbuhkan kembali semangat kemandirian untuk bertahan dari efek resesi dunia.

Masyarakat tentu memililki harapan, agar pemerintah dapat melakukan upaya yang terintegrasi serta lintas sektoral untuk memperbaiki keadan supaya semakin baik. Menghilangkan egosektoral yang selama ini menjadi penyakit di kalangan pemerintah adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Langkah nyata dan terencana harus dilakukan, untuk menghindari skeptisme dari masyarakat dengan memasang tagar SAK KAREPMU.

(Visited 248 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 19 Mei 2020
Close