Ditulis oleh 2:11 pm COVID-19

Hormat, Terima Kasih dan Doa Kepada Para Pejuang Medis

Mereka semua adalah pribadi pilih tanding, yakni mereka bersedia mengambil resiko yang paling buruk, karena sifat wabah yang sangat berbahaya.

Oleh: Dr. H. Khamim Zarkasi Putro, M.Si[1], Dr. Untoro Hariadi, M.Si[2] dan Syamsudin, S.Pd., MA[3]

Wabah Covid-19 belum lagi memberi tanda kapan akan berhenti. Segala upaya yang telah dilakukan, selama 50 hari ini (terhitung sejak 2 Maret, kali pertama diumumkan 2 orang yang dinyatakan positif Covid-19), belum mampu memberi gambaran tentang kapan wabah sepenuhnya dapat dikendalikan penyebarannya.

Himbauan untuk tetap di rumah, senantiasa menjaga jarak fisik di tempat umum, selalu cuci tangan dengan sabun, pakai masker, dan seterusnya, masih bergaung di hampir semua lini dan tingkatan. Makin gencar himbauan tersebut pada satu sisi menunjukkan sikap peduli dan aktif, namun di sisi yang lain justru menunjukkan “belum berjalannya” apa yang diharapkan.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah diberlakukan di berapa daerah yang telah dinyatakan sebagai “zona merah”. Namun, dari rekaman media massa, ataupun media lainnya, nampak bahwa praktek di lapangan, belum sepenuhnya seperti apa yang dimaksudkan dengan PSBB. Entah apa sebabnya. Apakah masalah pada sebagian masih belum dianggap “biasa”, apakah karena ada masalah lain yang dipandang lebih prioritas, ataukah ada masalah-masalah lain.

Padahal, secara teoritik, pengendalian penyebaran wabah, sangat bergantung pada penyelenggaraan PSBB. Makin disiplin, atau makin sadar setiap elemen masyarakat, tentang pentingnya menjalankan PSBB, maka akan makin cepat putusnya mata rantai penyebaran wabah Covid-19. Jumlah korban yang terus bertambah, baik yang tertular maupun korban jiwa, rupanya belum mampu menjadi kekuatan utama yang menggerakkan kesediaan untuk menjadi bagian inti dari pemutusan mata rantai penyebaran wabah Covid-19.

Apa yang mungkin sangat jarang disadari, bahwa meningkatkannya jumlah korban Covid-19, akan membawa masalah yang sangat besar, yakni makin kecilnya peluang untuk menyelenggarakan layanan medis yang memadai dan optimal. Dan lebih dari itu, mungkin amat jarang disadari bahwa dalam hal penyelengaraan layanan kesehatan, kinerjanya akan sangat bergantung pada mereka yang ada di garis depan, yakni para dokter (medis), perawat (para medis), dan seluruh elemen, termasuk di dalamnya cleaning service yang secara langsung terlibat dalam penyelenggaraan rumah sakit dan pusat-pusat layanan sejenis.

Mereka semua adalah pribadi pilih tanding, yakni mereka bersedia mengambil resiko yang paling buruk, karena sifat wabah yang sangat berbahaya. Makin sedikit pasien yang pergi ke rumah sakit, bukan hanya meningkatkan peluang untuk mendapatkan layanan yang optimal, tetapi juga memperkecil resiko bagi para petugas medis. Makin sedikit pasien tentu akan membuat suasana layanan dapat terkendali dan tidak nampak kedaruratannya. Rumah sakit akan nampak seperti hari-hari biasa. Namun jika jumlah pasien besar, maka suasana kedaruratan akan nampak nyata. Bahkan besar kemungkinan pasien lain, di luar pasien Covid-19, akan mengalami kesulitan layanan.

Mereka semua adalah pribadi pilih tanding, yakni mereka bersedia mengambil resiko yang paling buruk, karena sifat wabah yang sangat berbahaya.

Pada sisi yang lain, jumlah pasien yang besar, pada dasarnya juga meningkatkan resiko bagi para tenaga medis. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mencatat hingga 5 April, sebanyak 24 dokter meninggal dunia akibat COVID-19. Sehingga, Ketua Umum PB IDI, Daeng Mohammad Faqih Minggu (19/04) meminta penunjukan rumah sakit khusus dan pendistribusian alat pelindung diri (APD) lebih banyak lagi (lihat Antaranews.com). Perawat yang meninggal dunia diberbagai daerah juga besar jumlahnya (lihat Tribunnews.com). Kejadian tersebut tentu membawa keprihatinan tersendiri.

Oleh sebab itulah, kita mengirimkan rasa hormat, terima kasih yang tak bertepi, dan sekaligus rasa duka mendalam serta doa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, semoga mereka yang berpulang kehadirat Allah SWT, yakni para dokter, perawat semua mereka yang ada di garis depan dalam perawatan pasien akibat wabah Covid-19, mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT. Dan keluarga yang ditinggalkannya senantiasa mendapatkan kekuatan, ketabahan dan keikhlasan.

Kepada mereka yang kini masih berjuang memberikan layanan kesehatan pada para pasien, kita mengirim pesan hormat, apresiasi dan terima kasih yang tiada terkira. Sebagai warga bangsa kita bangga dengan kerja dan pengabdian seluruh tenaga medis yang saat ini masih terus memberikan layanan, tanpa memperdulikan resiko yang bakal dialaminya. Kita percaya bahwa kerja keras terus pada waktunya akan berbuah kebaikan. Kita percaya bahwa perjuangan para tenaga medis akan menggerakkan seluruh elemen bangsa untuk secara sungguh-sungguh menjadi bagian inti dari upaya memutus mata rantai penyebaran wabah.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dan semoga wabah segera berakhir.

Penulis: [1] Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan; [2] Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra/Ketua Dewan Pengurus Yayasan Abdurrahman Baswedan; dan [3] Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) UP 45/Direktur Pelaksana Yayasan Abdurrahman Baswedan


Kepada mereka yang kini masih berjuang memberikan layanan kesehatan pada para pasien, kita mengirim pesan hormat, apresiasi dan terima kasih yang tiada terkira.


(Visited 107 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 20 April 2020
Close