Hormon Untuk Mematikan Rasa Lapar, Jalan Mengatasi Obesitas?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Obesitas adalah suatu masalah yang masih berusaha ditangangi para ilmua, mengingat jumlah konsumsi oleh masyarakat yang kian hari kian bertambah. Kini dalam sebuah studi yang telah dipublikasi di eLife, mengatakan bahwa hormon yang dapat menekan asupan makanan dan meningkatkan perasaan kenyang pada tikus menunjukkan hasil yang sama pada manusia dan primata non-manusia.

Hormon tersebut, yang disebut Lipocalin-2 (LCN2), dapat digunakan sebagai pengobatan potensial pada orang-orang dengan obesitas yang sinyal alami untuk merasa kenyang tidak lagi berfungsi secara baik.

LCN2 utamanya diproduksi oleh sel tulang dan ditemukan secara alami pada tikus dan manusia. Studi pada tikus telah menunjukkan bahwa memberikan LCN2 kepada hewan dalam jangka panjang dapat mengurangi asupan makanan mereka dan mencegah bertambahnay berat badan, tanpa menyebabkan perlambatan metabolisme.

Penulis utama Peristera-Ioanna Petropoulou, yang merupakan Ilmuwan Riset Postdoctoral di Columbia University Irving Medical Center, New York, AS pada saat penelitian dilakukan, kini dirinya berada di Helmholtz Diabetes Center, Helmholtz Zentrum München, Munich, Jerman, menjelaskan bahwa LCN2 bertindak sebagai sinyal untuk rasa kenyang setelah makan, mengarahkan tikus untuk membatasi asupan makan mereka, dan ini dilakukan dengan melakukan tindakan di hipotalamus di dalam otak. Kini para peneliti ingin melihat apakah LCN2 memiliki efek serupa pada manusia, dan apakah dosisnya mampu menembus pembatas darah-otak.

Tim pertama kali menganalisis data dari empat studi berbeda tentang orang-orang di AS dan Eropa yang memiliki berat badan normal, kelebihan berat badan, atau hidup dengan obesitas. Orang-orang dalam setiap penelitian diberi makan setelah berpuasa semalaman, dan jumlah LCN2 dalam darah mereka sebelum dan sesudah makan dipelajari. Para peneliti menemukan bahwa pada mereka yang memiliki berat badan normal, terjadi peningkatan kadar LCN2 setelah makan, yang bertepatan dengan seberapa puas mereka setelah makan.

Sebaliknya, pada orang yang kelebihan berat badan atau mengalami obesitas, kadar LCN2 menurun setelah makan. Berdasarkan respon pasca makan tersebut, peneliti mengelompokkan orang-orang sebagai non-responders atau responders. Non-responders, yang tidak menunjukkan peningkatan LCN2 setelah makan, cenderung memiliki lingkar pinggang yang lebih besar dan penanda penyakit metabolik yang lebih tinggi, termasuk BMI, lemak tubuh, peningkatan tekanan darah dan peningkatan glukosa darah. Namun demikian, hal yang luarbiasa adalah orang yang mengalami penurunan berat badan setelah operasi bypass lambung ditemukan memiliki pemulihan sensitivitas terhadap LCN2, mengubah status mereka dari non-responders sebelum operasi, menjadi responders setelahnya.

Secara keseluruhan, hasil tersebut mencerminkan yang terlihat pada tikus, dan menunjukkan bahwa hilangnya regulasi LCN2 pasca makan ini adalah mekanisme baru yang berkontribusi terhadap obesitas dan dapat menjadi target potensial untuk perawatan penurunan berat badan.

Setelah memverifikasi bahwa LCN2 dapat masuk ke otak, para peneliti menyelidiki apakah pengobatan dengan hormon dapat mengurangi asupan makanan dan mencegah penambahan berat badan. Untuk melakukan hal ini, mereka merawat monyet dengan LCN2 selama seminggu. Mereka melihat penurunan 28% dalam asupan makanan dibandingkan dengan sebelum perawatan dalam waktu seminggu. Monyet tersebut juga makan 21% lebih sedikit daripada monyet lain yang hanya diobati dengan saline. Lebih jauh lagi, setelah hanya satu minggu perawatan, pengukuran berat badan, lemak tubuh dan kadar lemak darah menunjukkan tren penurunan pada hewan yang diberi perawatan.

Stavroula Kousteni, Profesor Fisiologi dan Biofisika Seluler di Columbia University Irving Medical Center yang merupakan penulis senior studi mengatakan bahwa mereka telah menunjukkan bahwa LCN2 melintasi ke otak, menuju hipotalamus dan menekan asupan makanan pada primata non-manusia. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hormon dapat mengekang nafsu makan dengan toksisitas yang dapat diabaikan dan meletakkan dasar untuk pengujian LCN2 tingkat berikutnya untuk penggunaan klinis.

Sumber:
Situs sciencedaily. Materi awal berasal dari eLife. Foto Pixabay.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti