Ditulis oleh 3:17 am KALAM

HOS Tjokroaminoto Sang Pelopor Moslem National Onderwijs*

Oleh: Taufik Nugroho**

I.  Pendahuluan   

Mengkaji  sebuah  buku yang berjudul Tjokroaminoto “Guru Para Pendiri Bangsa” adalah  sebuah kehormatan bagi saya. Buku tersebut adalah hasil investigasi para jurnalis Majalah Tempo. Di lihat dari penerbit dan para penulisnya, tak diragukan akan validitas dan akurasi tulisannya. Buku tersebut ditulis dengan bahasa Jurnalisme kontemporer yang   enak di baca dan perlu. Sejumlah sumber sejarah, baik primer maupun sekender berupa buku, monografi maupun dokumen-dokumen lain  terkait  HOS Tjokroaminoto lebih dari cukup untuk memotret kehidupan sang tokoh; gagasan dan sepak terjangnya dalam kancah perjuangan perlawana terhadap Pemerintah Hindia-Belanda.

Dalam tradisi penulisan  seorang tokoh, satu hal  yang harus  diperhatikan, apa yang disebut dengan pendekatan   Organisme. Pendekatan organisme adalah penulisan sejarah seorang tokoh sejak lahir, tumbuh berkembang dan mencapai puncak prestasinya sampai dengan meninggal dunia.   Karena itu, penulisan sejarah seorang tokoh  mesti bersifat  diakronik yakni  menggambarkan aktivitas panjang sang tokoh sejak kelahirannya, berkembang menuju puncak prestasi dan sampai dengan  paripurna menjalani tugas-tugas kehidupan. Dalam tulisan yang bersifat diakronik akan tergambar sosok sang tokoh, perubahan dan keberlanjutan dalam hidup dan kehidupannya. Perubahan tersebut berupa 1. Pencarian identitas  yang terwujud idealism dalam berbagai aspek kehidupan  dan capaian-capaian yang pernah diraihnya. 2. Sepak terjang sang Sang tokoh;  yakni menggambarkan upaya sang tokoh untuk survive di tengah gelombang kehidupan;  mengejar cita-cita, heroisme dalam gerak; harapan dan kekecewaan yang mewarnai sepanjang perjalanan hidupnya. Identitas dan cita-cita menggambarkan respon sang tokoh terhadap tentangan eksternal yang ada pada saat itu.  Identitas dan cita-cita adalah dua kata kunci yang menjelaskan apa yang mesti dilakukan oleh sang tokoh dalam merespon tantangan eksternal serta upaya mewujudkan cita-citanya.

Lalu ? langkah berikutnya adalah menempatkan sang tokoh secara proporsional  dalam dinamika kehidupan di berbagai aspek sesuai dengan prestasi yang telah dilakukan. Begitulah, paling tidak,  apa yang ada dalam pikiran saya, semoga kajian buku ini bermanfaat adanya. 

 II. Pembahasan

a.  Identitas Diri  dan Cita-citanya

Siapakah HOS Tjokroaminoto ? Ia lahir tgl. 16 Agustus 1882 di Bakur, Madiun. Ia lahir dari keluarga bangsawan. HOS   Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Ayahnya bernama R.M. Tjokroamiseno  sebagai pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah  menjabat sebagai Bupati Ponorogo. HOS Tjokroaminoto dilahirkan dari kalangan bangsawan Islam saleh, keluarga yang taat menjalankan ajaran Islam. Namun, tidak seperti umumnya keluarga religious saat itu, rata-rata mengirimkan anak-anaknya ke pondok pesantren dengan harapan akan menjadi ahli agama Islam. Ayahnya mengirimkan HOS Tjokroaminoto  ke sekolah Administrasi Pemerintahan di Magelang. Setelah tamat kemudian, HOS Tjokroaminoto  menjadi pegawai pemerintah sebagai juru tulis Patih Kab. Ngawi. Tak lama kemudian, ia diangkat sebagai patih.  Jadilah HOS Tjokroaminoto sebagai pribadi berlatar belakang budaya priyayi Jawa, beragama Islam saleh dengan memperoleh pendidikan Barat dan sebagai pegawai pangreh praja. Dengan demikian, HOS Tjokroaminoto tidak lahir sebagai ulama yang fasih bicara fiqh dan sunnah. Tetapi sebaliknya, berbekal pendidikan Administrasi Pemerintahan,  ia fasih bicara administrasi negara serta berkenalan dengan literature Barat baik klasik maupun kontemporer. Seiring dengan kematangannya dalam  ilmu secular, HOS Tjokoroaminoto muda tumbuh sebagai pribadi yang merdeka penuh dengan idealisme untuk menyadarkan bangsanya yang terjajah.

HOS Tjokroaminoto muda sejak kelahirannya hingga dewasa dibesarkan dalam kebudayaan priyayi Jawa ketat, mengingat kakeknya RM. Adipati Tjokronegoro adalah Bupati Kabupaten Ponorogo dan bapaknya R.M. Tjokroamiseno adalah Wedono di Kab. Ponorogo. Dari tiga jenis latar belakang cultural  tersebut, dalam diri  HOS. Tjokroaminoto muda bersemai tiga warisan budaya;  priyayi Jawa,  agamis tradisional dan pendidikan secular Barat. Hal inilah yang kelak menjadi dasar identitas diri masa depan HOS Tjokroaminoto muda,  sebagaimana data yang ada, tidak pernah belajar agama Islam secara khusus di pesantren yang berbasis kitab kuning atau mengikuti pendidikan Islam terstruktur seperti di Pendidikan Tinggi Islam, namun ia belajar Islam secara outo-didak  dalam lingkungan keluarga priyayi Jawa dan masyarakatnya di Bakur dan  sekitarnya.  HOS. Tjokroaminoto muda menghayati Islam melalui interaksi dengan lingkungannya. Perlu dicatat bahwa interaksi informal dalam masyarakat Bakur, tak boleh pandang remeh. Interaksi ini mesti dilihat sebagai benih-benih persemaian nilai-nilai Islam dalam diri Tjokroaminto muda yang  bergejolak dan  bergelora. Apa bentuk interaksi  tersebut ? Interaksi tersebut adalah praktik-praktik keagamaan Islam yang diproduksi oleh mayarakat Bakur  secara terus menerus dan siapapun yang terlibat di dalamnya akan terbentuk alam bawah sadar tertanam nilai-nilai keIslaman yang menjadi world view /melihat dunia luar dikelak kemudian hari.  Dengan demikian, HOS. Tjokroaminoto muda memiliki  ikatan emosional dengan Islam berbasis kultur Jawa dan  juga mewarisi ilmu secular.

b. Sepak Terjang HOS Tjokroaminoto

Apa yang terjadi kemudian ? Setelah tamat dari pendidikan formal di Administrasi Pemerintahan, ia menjadi pegawai Pangreh Praja di Ngawi. Namun tak lama kemudian,  Ia keluar sebagai pegawai pangreh praja,  pindah ke Surabaya, bekerja pada perusahaan Belanda.  HOS Tjokroaminoto muda terkenal dengan sifat-sifatnya yang radikal. Idealismenya yang bergejolak dan menggelegak, ia menentang perilaku feudal (laku dodok)  dan memandang bahwa setiap manusia adalah  sederajat dihadapan siapapun. Suatu sikap yang tak umum di kalangan priyayi waktu itu.  Sikap HOS Tjokroaminoto kepada Pemerintah Hindia-Belanda  oposisi. Ia memandang bahwa pemerintah Hindia Belanda adalah penghisap darah rakyat Indonesia. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa tidak pada tempatnya menganggap negeri ini sebagai tempat di mana orang datang dengan maksud mengambil hasilnya. Lebih dari itu, HOS Tjokroaminoto berpendapat bahwa penduduk pribumi (Inlander) sama sekali tak memiliki hak berpartisipasi dalam masalah politik yang menyangkut nasib dirinya sendiri.

Sepak terjang HOS Tjokroaminoto sebagaimana di gambarkan dalam buku ini dilukiskan dengan sangat apik. Sepak terjang HOS Tjokroaminoto di kemas dengan  tulisan yang bersifat tematik;  induk semang para pejuang, revolusi dari Laweyan, diikuti dengan jejak langkah sang Guru, penghuni belakang rumah dan terakhir kolom-kolom. Di bawah judul Induk Semang Para Pejuang, buku ini mengatakan bahwa dalam diri HOS Tjokroaminoto tergambar pribadi yang memiliki unsure pemberontakan dan kelenturan. Digambarkan bahwa ia adalah tokoh pemberontak terhadap adat yang ada di masyarakat pada saat itu. Hal ini dibuktikan dengan menanggalkan atribut feudal; melepas atribut raden, memprotes laku dodok,  dan ia menuntut kesetaraan rakyat Hindia Belanda. Dalam Doenia Bergerak 1914, ia menulis sajak yang mengkritik penjajah Belanda.

c. Organisasi Perjuangan

HOS Tjokroaminoto muda, saat itu,   sebagaimana lazimnya anak-anak seusianya, rata-rata  dikirim ke pendidikan pesantren untuk memperoleh ilmu-ilmu aqidah, ibadah dan syari’ah sebagai persiapan hidup di dunia dan akhirat. Namun tidak demikian bagi HOS Tjokroaminoto muda. Ayahnya  memilih pendidikan anaknya ke Sekolah Administrasi Pemerintahan di Magelang hingg tamat. Kemudian, HOS Tjokroaminoto muda melanjutkan karirnya sebagai pegawai pangreh praja di Kab. Ngawi, lalu keluar dan menjadi  pegawai di perusahaan Belanda.  Ada apa gerangan ? Di sinilah  perubahan arah hidup HOS Tjokriaminoto muda yang kelak akan mewarnai kehidupan di usia matangnya. Resiko dari pilihan tersebut maka HOS Tjokroaminto muda tidaklah akan menjadi ahli fiqh atau fuqaha yang fasih bicara kitab kuning klasik yang kesohor, tetapi ia menjadi seorang aktivis  politik yang terikat secara emosional dengan Islam dengan artikulasi ke-Islaman  bergaya kontemporer.

Apa yang menjadi instink hidup HOS Tjokroaminoto muda ? Jawabannya terletak pada identitas diri dan idealisme Ke-Islaman. Dengan latar belakang cultural Jawa priyayi dan Islam saleh, ia merasa memiliki kewajiban untuk  mengawetkan nilai-nilai Islam dan mentransformasikanan   kepada  masyarakat Islam pada khususnya dan Nusantara pada um umumnya.  Pada era kematanganannya,  Ia memilih organisasi pergerakan Syarikat Islam, sebuah organisasi Islam modern yang pertama. Organisasi  Syarikat Islam dipilihnya sebagai  artikulasi semangat ke-Islamannya. Mengapa ia tidak memilih organisasi pergerakan yang lain ? Jawabannya adalah kembali pada identitas diri dan idealismenya. Identitas diri dan idealismenya memberikan sinyal dan menuntun dirinya  untuk mengartikulasikan Islam berorientasi ke masa depan.   

d.  HOS Tjokroaminoto dan Perjuangan Kemerdekaan

Semangat menggelora dan  bergejolak dalam diri HOS Tjokroaminoto  era muda dilanjutkan pada era kematangan pribadinya. Pada era ini, ia tidak memilih sebagai pegawai pangreh praja, hidup tenang dan enak  sebagaimana lazimnya sahabat-sahabatnya saat itu. Ruang public apa yang ia gunakan untuk mengaktualisasikan karir politik dan sosialnya ? Ternyata Ia memilih ruang publik partai politik Syarikat Islam sebagai tempat aktualisasi diri era dewasa. Data yang ada menunjukkan bahwa ia memililih partai politik Syarikat Islam adalah ciri khas era  HOS Tjokroaminoto dewasa. Hal ini artinya ia  telah bergerak menuju HOS Tjokroaminoto  yang matang. Ia tidak hanya menjadi orang yang pandai berteori dan bersemangat seperti era muda, tetapi lebih mapan berusaha mengimplementasikan idealismenya dalam dataran nyata; ia banyak menumpahkan gagasan-gagasan di partai politik Syarikat Islam.  Terdata dengan baik bahwa Ia  pernah bersama sahabat kentalnya H. Samanhudi, H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso dan Abdul Muis,  mengembangkan partai ini sampai  memperoleh  kemajuan yang signifikan.

HOS Tjokroaminoto juga seorang yang matang dan kritis terhadap pemerintah Hindia Belanda. Bentuk kekritisan  HOS Tjokroaminoto  terletak pada kesadarannya  memilih wilayah pengabdiannya daerah penduduk pribumi yang mayoritas Islam dan  merana di jajah Belanda.   Bentuk nyata dari idealisme tersebut yaitu  keberpihakannya pada rakyat dituangkan dalam kegiatannya di Partai Syarikat Islam dan ia menolak menjadi pegawai pangreh praja.   Bagi HOS Tjokaoaminto, ruang public yang ideal adalah terwujudnya kemerdekaan bagi penduduk inlander yang minus dalam segala hal; pendidikan, kesehatan, perekonomian dan kedasaran politik. Ia menginginkan agar  warga pribumi sejajar dengan bangsa-bangsa lain; kulit putih dan  Timur Asing (Cina, India dan Arab). Selain itu, ia juga meminta agar inlander yang jumlahnya kurang lebih 40 juta saat itu, harus memiliki perwakilan di Volkraad Nederland (Parlemen Belanda). Akhirnya, Ia menginginkan agar inlander memiliki rumah sendiri yang bernama Indonesia Merdeka.      

e. HOS Tjokroaminoto dan Moslem Onderwijs

Secara umum, Studi ke-Islaman memiliki dua aspek besar  : 1. Aspek Internal 2. Aspek Eksternal. Studi Islam aspek  interntal mencakup; aktivitas memperkaya sain-sain ke-Islaman dan meningkatkan komitmen melaksanakan ajaran Islam. Aspek internal mencakup; menempatkan Islam dalam kerangka nasionalisme Indonesia,  mengkomunikasikan Islam kepada masyarakat luas dalam bentuk mengemas ajaran Islam dalam bahasa popular; Islam dan keadilan social, Islam dan demokrasi, Islam dan hak azasi manusia.

Studi Islam pada dua aspek tersebut, hal  yang di rasa sering menjadi masalah adalah menempatkan Islam dalam kerangka nasionalisme Indonesia. Bahasa lugas studi ke-Islaman dan ke-Indonesiaan adalah hubungan Islam dan Negara Indonesia. Kajian ini sangat komplek dan sajauh ini, belum ada tanda-tanda memperoleh kesepakatan bersama di antara ummat Islam dan bangsa Indonesia secara umum. Bagaimana hubungan Islam dan negara secara ideal ? Sejauh kajian yang ada, ada 3 kelompok besar yang berbeda pendapat dalam menempatkan Islam dan negara. Pertama; kelompok ini menghendaki agar Indonesia menjadi negara Islam atau paling tidak Indonesia bersyari’ah Islam. Kajian para Indonesinist  menyebutkan kelompok ini disebut sebagai aliran strukturalis. Karena memperjuangkan aspirasi politiknya melalui jalur formal kenegaraan; Mereka berkehendak agar Islam menjadi Dasara Negara. Kedua, sarjana ahli Indonesia lain mengatakan bahwa kelompok kedua disebut dengan istilah aliran subtansialis yakni kelompok Islam yang menyalurkan aspirasi ke-Islaman secara substansial. Mereka berpendapat bahwa  UUD 45 dan Pancasila  sudah berkesuaian dengan  ajaran Islam. Aliran ini lebih jauh mengatakan bahwa tidak ada kewajiban ummat Islam mendirikan negara Islam. Ketiga yaitu kelompok secular yakni kelompok yang menghendaki Islam dan negara di pisahkan. Kelompok ini mengatakan bahwa Islam dan negara dua subtansi yang berbeda. Islam adalah agama yang mengandung unsur pribadi, sehingga agama jangan di bawa ke ranah public. Sementara itu,  negara adalah milik public yakni milik bersama dan diatur berdasar atas kesepakatan bersama.

Di manak letak sumbangan HOS Tjokroaminoto kepada Islam dan nasionalisme  Indonesia ? Sumbanganya terletak pada  ide “Integrasi ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan”. Hal ini dapat diartikan secara  substansial yakni menjadikan Islam terintegrtasi dengan nasionalisme Indonesia (Moslem Onderwijs) menjadi sejati dan nasionalis sejati.   Dalam perspektif ini dapat diartikan bahwa Islam bersifat   universal dan Indonesia bersifat local. Maka Indonesia adalah ladang amal shaleh bagi pemeluk Islam. Ajaran Islam  secara natural selalu mendesak pemeluknya agar  mewujudkan ajarannya dalam dunia nyata yakni di bumi Indonesia.  Lebih dari itu, HOS Tjokroaminoto telah menunjukkan bahwa Islam telah menjadi inspirasi bagi perjuangan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Para sarjana sejarah ahli Indonesia sepakat bahwa sangat sulit memisahkan Islam dan perjuangan  perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Islam telah menjadi identitas bagi anak-anak pribumi dalam melawan penjajahan Belanda.

III. Kesimpulan

Papatah klasik mengatakan tiada gading yang tak retak. Demikian pula dengan buku ini.  Banyak sisi yang mesti diperbaiki. Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa  kawan-kawan jurnalis di  Majalah Tempo telah bekerja keras dan menghasilkan karya  yang sangat bermanfaat.  Untuk itu,  hasil kerja keras mereka mesti  dihargai. Wallahu’alam bishawab.


*Makalah ini disampaikan pada Kajian Buku “Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa” kerja sama Yayasan AR. Baswedan dan UCY. 30 Agustus 2019.

** Taufik Nugroho adalah tenaga pengajar di FAI- Univ.Cokroaminoto Yogyakarta dan  pernah aktif di HMI (MPO) Cabang Yogyakarta 1987-1988.

(Visited 399 times, 2 visits today)
Tag: , Last modified: 31 Agustus 2019
Close