Ditulis oleh 10:21 am COVID-19

Hubungan Manusia Dengan Alam

Di tangan manusialah kualitas alam ini akan tetap terjaga baik, sinambung dan lestari atau sebaliknya.

Oleh: Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM

Bencana yang datangnya terkadang beruntun seringkali dipahami dengan salah oleh manusia atau pemahamannya belum sampai kepada pemahaman bahwa semua itu merupakan peringatan dari Allah SWT tetapi dipahami sebagai ujian yang seolah-olah perbuatan kita sebagai manusia di dunia ini sudah baik dan benar.

Pemahaman seperti inilah yang menyebabkan manusia salah memahami tentang siapa diri manusia? Dan untuk apa diciptakan di muka bumi? Manusia diciptakan di muka bumi ini sebagai khalifatullah fiil ’ardh. Khalifah itu mengemban misi pengabdian yang mempunyai tugas mulia dan tidak ringan yaitu mengelola, mengatur, memelihara dan memimpin alam semesta ini. Karena itu, di tangan manusia lah kualitas alam ini akan tetap terjaga baik, sinambung dan lestari atau sebaliknya, menurunkan atau merusak/menghancurkan alam yang pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan manusia sendiri.

Apabila diperhatikan secara saksama terdapat 3 (tiga) bentuk hubungan manusia dengan alam, yakni:

  1. Alam semesta berfungsi sebagai sarana bagi manusia untuk mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah (beriman kepada Allah) melalui alam semesta, karena alam semesta adalah tanda atau ayat-ayat Allah. Manusia dilarang memperhamba alam dan dilarang menyembah kecuali hanya kepada Allah yang Menciptakan alam;
  2. Alam dengan segala sumberdayanya diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam memanfaatkan sumberdaya alam guna menunjang kehidupannya ini harus dilakukan secara wajar (tidak boleh berlebihan atau boros). Demikian pula tidak diperkenankan pemanfaatan sumberdaya alam yang hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi generasi saat ini sementara hak-hak pemanfaatan bagi generasi mendatang terabaikan. Manusia dilarang pula melakukan penyalahgunaan pemanfaatan dan atau perubahan alam dan sumberdaya alam  untuk kepentingan tertentu sehingga hak pemanfaatannya bagi semua kehidupan menjadi berkurang atau hilang;
  3. Manusia mempunyai kewajiban guna memelihara alam untuk keberlanjutan kehidupan, tidak hanya bagi manusia saja akan tetapi bagi semua makhluk hidup yang lainnya. Tindakan manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan dan mengabaikan asas pemeliharaan dan konservasi sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan, merupakan perbuatan yang dilarang (haram) dan akan mendapatkan hukuman. Sebaliknya manusia yang mampu menjalankan peran pemeliharaan dan konservasi alam dengan baik, maka baginya tersedia balasan ganjaran dari Allh SWT.

Manusia dalam hubungannya dengan Allah, berhubungan pula dengan alam sebagai sesama makhluk ciptaan Allah. Dalam berhubungan dengan Allah ini manusia memerlukan alam sebagai sarana untuk mengenal dan memahami Allah (yakni: alam adalah ayat-ayat al-kauniyah). Manusia juga memerlukan alam (misalnya: pangan, papan, sandang, alat transportasi dan sebagainya) sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Segala yang ada di muka bumi memang diperuntukkan untuk kemakmuran manusia (QS 2:29), namun demikian tetap harus memperhatikan keterbatasan daya dukung lingkungan. Pemanfaatan yang melebihi daya dukung lingkungan maka yang terjadi tentu kerusakan dan pada akhirnya manusia juga yang akan menanggung akibatnya (QS 30:41).

Para ahli fiqih telah sepakat bahwa dalam pembuatan kebijakan (hukum) pemanfaatan sumberdaya alam dengan tujuan kemashlahatan harus mendasarkan pada tiga asas (kaidah) utama, yaitu:

  1. Kepentingan masyarakat luas dan bangsa harus didahulukan daripada kepentingan pribadi maupun golongan;
  2. Menghindari atau menghilangkan penderitaan harus didahulukan daripada memperoleh keuntungan;
  3. Kehilangan/kerugian yang lebih besar tidak dapat digunakan untuk menghilangkan kerugian yang lebih kecil dan manfaat yang lebih besar untuk rakyat harus didahulukan daripada manfaat yang lebih kecil.

Seberapa baik hubungan antar manusia dan antara manusia dengan alam merupakan gambaran atau manifestasi dari seberapa baik juga hubungan manusia terhadap Al Khaliq. Seringkali hubungan manusia dengan Allah hanya dipahami terpisah dengan perilaku duniawinya sehingga hubungan itu tidak berdampak pada hubungannya terhadap sesama makhluk. Padahal Rasulullah SAW telah mencontohkan bahwa berbuat baik atau saling menyayangi antar sesama akan menyebabkan Allah sayang juga kepada kita (HR Thabrani).

Seberapa baik hubungan antar manusia dan antara manusia dengan alam merupakan gambaran atau manifestasi dari seberapa baik juga hubungan manusia terhadap Al Khaliq. 

Sayangnya, hubungan sesama yang dimaksud hanya dipahami sebagai hubungan antar manusia saja, sedangkan hubungannya dengan alam baik yang hidup maupun yang mati hanya pelengkap saja, mengingat makhluk selain manusia dianggap tidak dapat memberikan kompensasi (kebaikan balik) secara langsung atau seketika atas kebaikan yang diperbuatnya (pamrih). Inilah yang menyebabkan terjadinya bencana alam dan kecelakaan yang saat ini banyak melanda negeri ini atau bahkan bumi ini secara keseluruhan. Padahal, secara tegas Allah menyebutkan dalam Al Qurán surat Al Zalzalah (QS 99:7) bahwa barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Wallahu alam bisshawab

Penulis: PP Muhammadiyah Majelis Lingkungan Hidup

(Visited 4.026 times, 38 visits today)
Tag: Last modified: 13 April 2020
Close