Ditulis oleh 12:01 am KABAR

Ibu… Maaf Kami Tidak Mudik

Biasanya setiap hari ada saja tamu yang menyambangi ibuku, apalagi di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Sekarang keadaan terpaksa berubah, di pintu depan sudah dipasangi tulisan oleh cucunya, “Mohon maaf untuk sementara tidak menerima tamu.” Kondisi ini tidak mudah bagi ibuku yang suka bersosialisasi, tetapi demi kesehatan dan keselamatan bersama semuanya dijalani dengan penuh ketabahan.

Setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Pada hari itu biasa diisi membaca perjuangan para tokoh bangsa dan biografinya, antara lain: Dr. Soetomo; Ki Hajar Dewantoro; H.O.S. Tjokroaminoto; Douwes Dekker; dll, untuk mendapatkan keteladanan dan menghayati semangat perjuangannya. Kita sering terkagum-kagum kepada mereka meskipun belum pernah mengenal langsung, karena ketokohannya yang luar biasa dan diakui bangsa. Pernahkah kita menengok ke sekeliling kita sendiri? Apakah tidak ada orang hebat disitu, yang sangat berjasa dan mempengaruhi perjalanan hidup kita, sehingga sampai pada kondisi seperti sekarang?

Di tengah kegalauan dan kerinduan akibat tidak bisa mudik tahun ini, aku teringat ibuku, yah… ibuku yang mengandung; melahirkan; menyusui; merawat; membentuk karakter; merenda helai demi helai nilai-nilai kebaikan, dan mengukir jiwa ketabahan anak-anaknya, tidak hanya nasehat lisan tapi juga teladan dari perilaku hariannya. Sikap tegas dan ketabahan ibukulah yang menyebabkan kami anak-anak perempuan bisa pergi menuntut ilmu ke Tanah Jawa dengan segala problematikanya.

Putri pertamanya (kakak jenjang ketiga di atas saya) yang bersekolah di Sekolah Guru Atas (SGA) Bima NTB selalu menempati ranking tertinggi di sekolahnya, sehingga guru-gurunya yang berasal dari Jawa dalam program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), menyarankan melanjutkan kuliah di Malang. Maksud baik guru-guru tersebut disampaikan kepada ayah-ibuku. Waduh… bagai disambar petir di siang bolong… Bagaimana mungkin seorang anak perempuan dikirim jauh-jauh? Apa yang akan terjadi di tanah seberang? Dengan siapa disana? Bagaimana perilakunya kalau jauh dari keluarga? Bagaimana reaksi keluarga besar dan tokoh-tokoh di kampung? Kan sudah tamat SGA sudah bisa jadi guru, bisa jadi PNS, mau apalagi? Sebelum lanjut ingin kugambarkan terlebih dahulu apa dan siapa ibuku.

Nama asli ibuku Sitti Khadijah binti Abdul Muthalib, tetapi lebih dikenal masyarakat dengan panggilan ‘Ince Dadu’, panggilan sayang dari ibunya ‘Itam’ (karena berkulit agak gelap/ sawo matang), dan sebahagian keluarga sebaya memanggilnya ‘Incel Mah’ (Ince La Salmah = Ibunya Si Salmah, Salmah adalah anak pertama), kami memanggilnya ‘Ince’. Ince lahir pada tahun 1924, tanggal dan bulan tidak diketahui, karena waktu beliau lahir ayahnya yang berprofesi sebagai guru sudah wafat. Beralamat di Kampung Melayu, Bima, NTB. Ince tumbuh sebagai anak tanpa ayah tanpa saudara, dipelihara oleh ibunya yang masih sangat muda dan cantik. Selain ibunya, ada moyang putri, sebagai pusat kendali keluarga, qodarullah minim lelaki dalam keluarga ini karena banyak yang wafat di usia belum terlalu tua. Menurut cerita, moyang putrinya adalah wanita yang sangat mandiri; disiplin; dan sedikit keras. Mereka hidup tenang dalam kesederhanaan dengan mata pencaharian sebagai penenun sarung. Sarung produksinya kualitas terbaik di jamannya, dan untuk memperolehnya harus inden beberapa bulan, karena satu lembar sarung baru selesai lebih dari sepekan. Pelanggannya adalah orang-orang terpandang kala itu, salah satunya adalah keluarga besar ayahku.

Banyak lelaki yang melamar ibunya yang menjanda di usia 19 tahun, karena selain cantik dan muda juga terampil, tetapi beliau berniat kuat tidak akan kawin lagi karena sangat mencintai anak semata wayang dan almarhum suaminya (yang meninggal mendadak sebelum perkawinan mereka genap setahun), namun demikian anaknya tidak dibiarkan tumbuh menjadi anak manja. Ibuku tidak bersekolah formal, seperti umumnya anak gadis jaman itu, setelah baliq harus dipingit sambil menunggu ada pemuda baik-baik dan sekufu yang datang menyunting.

Pada jaman penjajahan Jepang anak-anak gadis harus segera dikawinkan, karena kuatir akan diambil oleh serdadu Jepang untuk dijadikan istri. Pengatur pernikahan adalah para tetua yang bermusyawarah: Siapa dapat siapa? Anak siapa dapat anak siapa? dstnya. Pada tahun 1943, ibuku dinikahkan dengan Syech Said bin Syech Muhammad bin Syech Mansyur bin Syech Abdul Ghani Al Bimawi. Yang disebut terakhir berprofesi sebagai guru di Madrasah Haramayn Makkah pada paruh abad ke-19.

Bapak ‘penghulu’ dan rombongan berkeliling kampung untuk menikahkan gadis-gadis yang sudah disiapkan jodohnya. Tidak ada pesta; tidak ada kebaya penganten; dan tidak ada Surat Nikah, yang penting sudah sah punya suami sehingga serdadu Jepang tidak akan berani mengganggu. Perkawinan seperti itu disebut ‘kawin berontak’ bukan kawin kontrak lho, dan kala itu belum dikenal nikah masal, karena gadis-gadis berada dalam pingitan, dan belum tentu pernah bertemu dengan calon suaminya. Ibu dan ayahku masih terhitung keluarga, tetapi dengan latar belakang kehidupan harian dan karakter yang berbeda. Ayahku dari keluarga besar sekali, cukup berada, dan terpandang di jamannya. Dari kombinasi seperti itulah kami lahir, tumbuh, dan berkembang.

Itu semua berdasar cerita ibuku, yang bisa kuingat sendiri adalah periode 1960-1970-an.

Sebagaimana yang kupaparkan di atas, pada tahun 1963 kakakku ingin melanjutkan kuliah di Malang (fasilitas pendidikan tertinggi di Bima pada jaman itu SLTA), mendapat tantangan yang luar biasa dari pini sepuh dan tetangga, sampai ada tetangga nyinyir memarahi ibuku, “apa kamu tega melepas anak gadismu pergi jauh, bisa-bisa nanti pulang hanya menggendong bayi bukannya membawa ijazah. Pikirkan baik-baik sebelum telanjur.” Entah kenapa sampai bicara seperti itu, apakah ada pengalaman pahit atau hanya rumors dari mulut ke mulut, betapa rentannya anak gadis yang berpisah dari orang tua bukan karena dibawa oleh sang suami.

Ibuku sedikit terpukul dan bimbang, tapi beliau adalah orang yang sudah terbiasa menghadapi masalah, dengan tegas beliau berjanji dan memantapkan para tetua, “Jangan kuatir, In Syaa Allah anakku akan sekolah dengan sungguh-sungguh, dan pulang bawa ijazah.” Tentu dengan konsekuensi beliau harus membuktikannya, kalau gagal maka risikonya akan berentet bagi anak-anak gadis berikutnya, tidak ada kesempatan lagi untuk menuntut ilmu keluar daerah, cukup menunggu jodoh di kampung; beranak pinak; menggantungkan hidup pada suami semata.

Sikap tegas ibuku didukung oleh ayahku yang punya prinsip ”sebanyak apapun harta orang tua akan habis kalau hanya dibagi, tetapi kalau anak-anak berilmu maka mereka akan bisa mencari nafkah/harta sendiri.” Kebetulan kami keluarga besar (generasi baby boomers), ada sembilan anak saat itu yang mana dua-pertiganya adalah perempuan, dan kakakku adalah perempuan pertama dalam keluarga besar kami yang melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi. Bagi anak laki-laki tidak ada hambatan pergi keluar daerah sesuai cita-cita dan harapannya.

Kesuksesan kakakku yang didukung doa ayah ibu dan nenekku membuka jalan terang bagi kami berikutnya, meskipun sebetulnya terlambat satu generasi. Memperhatikan bahwa ayah dari ibuku adalah seorang guru pada jaman itu, andai beliau berumur panjang mungkin saja ibuku akan disekolahkan setinggi mungkin, mengingat ibuku sangat cerdas. Iseng aku menghayal, andai beliau sekolah di Jawa Timur misalnya, tidak menutup kemungkinan berteman dengan Bung Tomo dll, dan terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan…bisa-bisa aku tidak lahir ya …he…he…

Dulu belum ada siaran Televisi di Bima, belum banyak sarana hiburan kecuali siaran radio. Yang sangat kami sukai adalah kebiasaan ibuku mendongeng. Selepas solat isya biasanya kami tiduran mengelilingi ibu (rumah kami rumah panggung, jadi bisa menggeletak bebas di sebuah ruangan), kami pilih posisi tiduran terkait dengan efek yang akan terjadi di akhir cerita. Tema-tema yang dipilih biasanya yang berhubungan dengan kebaikan atau kenakalan anak; perjuangan ortu membesarkan anak, dll. Cerita favorit kami sehingga minta diulang-ulang, adalah kisah seorang ibu yang punya anak nakal-nakal, sampai ibunya tidak tahan dan pergi ke pantai. Di pantai ibunya memanggil-manggil ombak dengan suara mendayu-dayu (dinarasikan dengan baik oleh ibuku), “Oo…ombak datanglah, jemputlah aku yang tidak disukai anakku”… hooowww… datanglah ombak sampai semata kaki… begitu seterusnya ibu memanggil lagi, air sampai sebetis – selutut – sepaha – dstnya sampai menutup kepala. Tetapi biasanya dongeng tidak sampai selesai karena kami sudah terisak-isak dan ramai-ramai memeluk ibu supaya tidak pergi.

Ibuku seorang yang sangat disiplin dan melatih anak-anaknya supaya demikian. Misalnya kalau bepergian bukan pada jam sekolah, kami harus meminta ijin terlebih dahulu dengan mengajukan sejenis proposal tak tertulis. Andaikan pada jam yang dijanjikan belum kembali ke rumah maka akan dicari sampai ketemu, dan siap-siap untuk menerima kuliah yang cukup panjang (meliputi filosofi; logika; hukum sebab-akibat; dsbnya), tetapi dari mulutnya tidak pernah keluar kata-kata negatif apalagi caci-maki meskipun beliau sangat kesal. Kami juga dilatih untuk berlaku adil, misalnya hanya punya sepotong roti sementara banyak yang berhak, maka seorang anak ditugaskan menjadi pembagi (tugas ini diberikan secara bergantian), dan yang bertugas memiliki urutan terakhir untuk mengambil haknya. Dengan adanya ketentuan ini, maka kami akan berusaha semaksimal mungkin memotong roti dengan hasil yang sama besarnya, karena kuatir kebagian yang ukurannya kecil.

Pada umumnya anak-anak kalau cekcok/ berkelahi dengan temannya dan kalah, maka akan pulang mengadu pada orang tuanya dan minta bantuan. Kalau itu dilakukan anak-anak ibuku maka siap-siap saja untuk diinvestigasi dan bisa saja ditemukan bahwa yang salah adalah anak ibu, dan harus minta maaf pada temannya. Wah.. daripada repot mending diselesaikan sendiri saja di lapangan atau berusaha untuk tidak terlibat perkelahian. Andai hasil analisis ibuku, yang salah adalah temannya, maka beliau akan menasehati kami untuk memaafkan dan harus lebih hati-hati terhadap teman tersebut, dan tidak boleh membalas atau mendendam. Gondok juga sih, tapi sudahlah, ibuku sudah memutuskan demikian dan kami harus patuh.

Ibuku juga senang mengenalkan anak-anak pada orang lain. Anak-anak yang masih kecil akan diajak ke kondangan secara bergantian, tidak boleh semua ikut dalam acara yang sama. Tentu saja kami senang karena bisa bertemu orang-orang yang berpakaian bagus dan wangi, kami juga memakai baju terbaik yang dimiliki. Tidak ada anak protes ingin ikut atau tidak mau, karena ibu mengatur secara konsisten agendanya.

Di balik sikap tegasnya, Ibuku seorang yang sangat ramah kepada siapapun dan penuh kasih, teman-teman anaknya yang main ke rumah pasti menjadi teman ibuku juga, terbawa sampai saat ini. Banyak teman anaknya yang merantau, kalau mudik / pulkam pada umumnya mengusahakan menengok ibuku meskipun kami tidak ada di rumah. Uniknya beliau masih ingat nama orang yang datang dan masih ingat peristiwa-peristiwa lampau (daya ingat dan daya hafalnya luar biasa).

Kebiasaan lainnya, kalau ada tamu kebetulan bertepatan waktu makan maka pasti diajak makan bersama (apalagi kalau tamunya dari keluarga kurang beruntung). Kami kadang merasa malu andai lauknya tidak memadai, tapi semuanya enteng saja bagi ibuku, “tidak apa-apa yang penting kebersamaan, meskipun hanya kebagian sesendok sayur dan sepotong ikan jadilah” katanya, dan kebanyakan asyik-asyik saja bersama ibuku. Kalau tamu pulang, beliau akan berusaha membawakan buah tangan meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana sesuai apa yang ada di rumah saat itu. Oya.. kaleng biskuit Khong Gwan selalu terisi meski isinya sudah ‘bermetamorfosis’ jauh. Beliau akan ‘memaksa’ tamu mengambil dan mengambil lagi dengan cara diangkat sampai ke tangan si tamu. Kasihan tamu yang sudah kenyang atau tidak begitu suka kue dengan rasa manis (andai itu kue manis), dengan setengah terpaksa harus mengambil untuk menghormati ibuku, kalau tidak diambil juga beliau tidak akan berhenti menawarkan.

Banyak keluarga dan tetangga yang konsultasi pada ibuku tentang berbagai masalah, beliau akan berusaha memberikan nasehat semampunya. Kata mereka, ibuku cukup obyektif menilai sesuatu dan saran-sarannya sering cocok dengan kondisi yang dihadapi. Kadang ada yang mengadu ingin bercerai karena mendapat perlakuan yang jelek dari suaminya, biasanya ibuku akan menasehati, Tio weapu tahonaa, aina eda weamu ihanaa”(= Pandanglah kebaikannya, jangan melihat kejelekannya).

Namun ada karakter ibuku yang orang lain harus hati-hati betul, jangan coba-coba bicara bohong atau membawa berita yang tidak jelas (istilah sekarang hoax) atau menikung dari perjanjian. Kalau itu terjadi maka siap-siaplah ‘disemprot’ ibuku, dan semprotannya biasanya panjang. Bagusnya beliau tidak pendendam atau menyimpan sakit hati. Kalau ada yang beliau tidak suka, maka akan terus terang dan tuntas saat itu juga, meskipun terkadang membuat telinga sebahagian orang memerah. Beliau juga bukan orang yang pelit meminta maaf sekiranya kesalahan ada padanya.

Pada akhir Orde Lama kondisi sosial ekonomi bangsa sangat parah. Untuk membeli kebutuhan pokok kadang sulit, meski ada uang tetapi tidak ada barang, kalaupun ada harganya mahal sekali. Pernah ayahku membeli satu gulung bahan/kain untuk lebaran, kami semua pakai baju seragam hasil jahitan ibuku. Waktu lebaran tahun berikutnya sisa bahan masih ada, ibuku menjahit lagi kain yang sama persis motif dan warnanya dengan merubah model saja… sangat..sangat efisien dan hemat.

Demikian pula dengan bahan makanan, pernah tidak punya bahan makanan yang cukup, sehingga satu telur yang digoreng tanpa minyak harus dibagi empat atau enam bagian. Ibuku memutar otak mengelola dana dari ayah (yang nilainya makin kecil karena tingkat inflasi yang sangat tinggi), beliau harus memastikan bahwa kebutuhan anak-anak merata dengan sedikit penurunan kualitas.

Perilaku efisien ibuku tidak hanya di masa sulit tapi telah menjadi perilaku harian, misalnya tidak akan membuka kran air secara penuh saat mencuci piring atau berwudhu. Air bekas wudhu ditampung di ember untuk dipakai menggelontor, sehingga tidak perlu menggunakan yang dari tanki kloset untuk kebutuhan yang tidak terlalu banyak.

Waduh… begitu banyak yang ingin kutulis sebagai pelepas rindu karena tidak bisa mudik tahun ini, seorang wanita solehah yang selalu membaca Al-Quran; dzikir dan berdoa; solat dan puasa sunnat; hoby berbagi; dll. Yang mana setelah anak-anak besar dan meninggalkannya satu-persatu makin meningkat intensitas dan frekuensi ibadahnya, khatam Al-Quran biasanya sepekan sekali.

Aku sangat bersyukur keluargaku banyak yang mencapai usia lanjut tetapi tidak pikun, seperti nenek buyutku mencapai usia 105 tahun; nenekku 75 tahun lebih; ayahku wafat pada usia 82 tahun, dan pada tahun ini ibuku genap 96 tahun dan Alhamdulillah tidak pikun; daya ingatnya sangat kuat, baik pada peristiwa yang telah berlalu cukup lama maupun yang baru saja terjadi; membaca Al-Quran tanpa menggunakan kacamata; dan jarang sakit. Penyakit degeneratif yang menonjol hanya penurunan pendengaran dan osteoarthritis (OA). OA menyebabkan hampir dua tahun ini tidak bisa kemana-mana hanya di rumah saja, mendahului program stay home Pandemi Covid-19.

Aku penasaran, apa ya rahasia beliau-beliau panjang umur tanpa pikun?

Ternyata banyak penelitian modern membuktikan bahwa kebiasaan membaca Al-Quran; dzikir dan doa; solat khusyu; puasa; rajin bersedekah; dll, menyebabkan jiwa tenang; imunitas meningkat; jarang sakit; tidak pikun; dan berumur panjang. Tentu semua itu hanya menjadi ‘musabab’ dari berlakunya Ketentuan Allah SWT yang sudah tertulis di Lauh Mahfudz.

Dasar ibuku sangat tertib dan taat aturan, di masa pandemi ini siap dengan masker, melakukan social distancing dan physical distancing. Adapun cuci tangan tidak menjadi masalah karena ibuku termasuk penggantung wudhu.

Biasanya setiap hari ada saja tamu yang menyambangi ibuku, apalagi di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Sekarang keadaan terpaksa berubah, di pintu depan sudah dipasangi tulisan oleh cucunya, “Mohon maaf untuk sementara tidak menerima tamu.” Kondisi ini tidak mudah bagi ibuku yang suka bersosialisasi, tetapi demi kesehatan dan keselamatan bersama semuanya dijalani dengan penuh ketabahan. Termasuk kerinduan bertemu anak cucu dari luar daerah di hari lebaran harus ditepis jauh-jauh. Semoga SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 segera terhalau, sehingga kami bisa mudik ke Kampung Melayu, Kota Bima, NTB. Aamiin.

# Rajin Beribadah

# Tidak Pikun

# Panjang Umur

# Mudik Tertunda

Yogyakarta, 22 Mei 2020

(Visited 425 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 23 Mei 2020
Close