Ditulis oleh 1:24 pm MAKLUMAT

Ideologi Pendidikan Islam

Inilah “Islamietisch Paedagogisch Ideaal” jang gemerlapan jang harus memberi suar kepada tiap-tiap pendidik Muslimin dalam mengemudikan perahu pendidikannja.

Pengantar
Dalam rangka menyambut 75 tahun Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, ruang ini akan membuka ruang dialog, ruang refleksi bagi kita semua, terutama untuk melihat kembali dengan teliti, cerdas dan bijaksana. Sebagai awalan, dimuat pandangan M. Natsir yang disampaikan pada tahun 1934 lalu, suatu pandangan yang dipikirkan sebelum bangsa memproklamasikan kemerdekaan. Pendidikan merupakan lapangan yang sangat penting, yang akan menentukan masa depan bangsa.

_____________

I.
Ibu-ibu dan saudara- saudara kaum Muslimin!

Kini kami meminta perhatian ibu-bapa dan saudara- saudara kami kaum Muslimin jang hadir, terhadap satu masalah, jang mengambil tempat jang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai manusia umumnja, dan sebagai pengikut dari Djundjungan kita, Nabi Muhammad s.a.w. chususnja. Masalah didikan anak-anak kita kaum Muslimin.

Madju atau mundurnja salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada peladjaran dan pendidikan jang berlaku dalam kalangan mereka itu.

Tak ada satu bangsa jang terbelakang mendjadi madju, melainkan sesudahnja mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka. Bangsa Djepang, satu bangsa Timur jang sekarang djadi buah mulut orang seluruh dunia lantaran madjunja, masih akan terus tinggal dalam kegelapan sekiranja mereka tidak mengatur pendidikan bangsa mereka; kalau sekiranja mereka tidak membukakan pintu negerinja jang selama ini tertutup rapat, untuk orang-orang pintar dan ahli-ahli ilmu negeri lain jang akan memberi didikan dan ilmu pengetauan kepada pemuda-pemuda mereka disamping mengirim pemuda-pemuda keluar negeri mentjari ilmu.

Sepanjol, satu negeri dibenua Barat, jang selama ini masuk golongan bangsa kelas satu, djatuh merosot kekelas bawah, sesudah enak dalam kesenangan mereka dan tidak mempedulikan pendidikan pemuda-pemuda jang akan menggantikan pudjangga-pudjangga bangsa dihari kelak.

Tidak mempedulikan didikan bangsa mereka sebagai jang tjotjok dengan aliran zaman, lantaran itu mereka tinggal tertjetjer dibelakang bangsa-bangsa dikelilingnja, jang terus berger ak dengan giat dan tjepat.

Begitu adjaran tarich ! „Sesungguhnja telah lalu sebelum kamu beberapa tjontoh-tjontoh, lantaran itu berdjalanlah diatas bumi, dan lihatlah bagaimana kesudahannja orang-orang jang tidak menerima kebenaran. Ini.adalah satu keterangan jang njata untuk manusia, dan satu petundjuk serta didikan untuk orang-orang jang hendak berbakti (kepada Allah”) (Qs. Al’i-Imran : 137-138).

Apakah peladjaran jang dapat kita peroleh dari tarich dan sunatullah jang telah terang dan djelas itu ?

Ialah, bahwa kemunduran dan kemadjuan itu tidak bergantung kepada ketimuran dan kebaratan, tidak bergantung kepada putih, kuning atau hitamnja warna kulit, tetapi bergantung kepada ada atau tidaknja sifat-sifat dan bibit-bibit kesanggupan dalam salah satu umat, jang mendjadikan mereka lajak atau tidaknja menduduki tempat jang mulia diatas dunia ini.

Dan ada atau tidaknja sifat-sifat dan kesanggupan (kapasitet) ini bergantung kepada didikan ruhani dan djasmani, jang mereka terima untuk mentjapai jang demikian.

Kita tak usah bermegah diri dengan apa jang telah ditjapai oleh umat jang telah dahulu dari kita, dan tak usah kita menepuk dada dengan ketinggian dan kemuliaan umat Islam dalam abad-abad keemasan dari tarich Islam, dimasa bendera Islam ber-kibar-kibar dari Timur sampai ke Barat, dimasa universitet-universitet Islam memantjarkan tjahajanja jang gemerlapan kesegenap podjok dunia, memberi penerangan kebenua Eropah jang ketika itu masih gelap. Tak usah kita bermegah diri dengan d jihad dan kemenangan mereka.

“Umat ini telah berlalu. Mereka menerima apa jang patut mereka terima, dan kamu akan menerima apa jang patut kamu terima pula. Kamu tidak akan ditanja tentang apa-apa jang mereka telah lakukan !”, demikian Al-Quran menegaskan, dalam surat Al-Baqarah : 134.

Umat2 itu memang sudah dahulu dari kita. Mereka terima, apa jang lajak mereka terima, jang sepadan dengan usaha dan amal-amal mereka. Dan kita akan menerima pula apa jang pantas kita terima, jang berpadanan dengan usaha dan kerdja kita. Kita tidak akan ditanja tentang apa-apa jang nenek mojang kita itu telah kerdjakan.

Sekarang marilah kita bertanja kepada diri kita sendiri: apakah jang telah kita kerdjakan dan usahakan; dan apakah jang telah kita peroleh ? Marilah kita periksa diri kita dan diri umat kita jang sekarang ini, apakah dalam diri kita masing-masing dan dalam kalangan kaum kita, ada sifat-sifat dan kekuatan serta ketjakapan dan kesanggupan seperti mereka-mereka jang dahulu itu,” atau belumkah ?

Sebagian dari sifat2 mereka kaum Muslimin pada abad2 keemasan itu, ialah ketetapan dan ketabahan hati mereka dalam tiap-tiap usaha mereka, baik dunia maupun achirat, baik dalam beribadat ataupun dalam menuntut ilmu. Apakah kaum kita sekarang sudah umum begitu ?

Mereka mempunjai pudjangga-pudjangga dalam urusan agama, dalam urusan ilmu-pengetahuan, dalam urusan pemerintahan, dalam segala urusan jang berhubung dengan kemaslahatan mereka.

Adakah kita mempunjai itu ?

Mereka mempunjai sifat tawakal, kemerdekaan berfikir, berani mempertahankan hak, mendjundjung perintah Allah dengan tunduk dan ichlas.

Apakah kita sekarang sudah begitu ?

Pertanjaan ini tidak susah mendjawabnja. Terserah kepada diri kita masing-masing memberi djawabannja!

Marilah sama2 kita insafi bahwa menurut sunatullah semua sifat dan kesanggupan2 itu tidak dapat ditjapai, ketjuali dengan didikan jang sungguh-sungguh. Lantaran itu masalah pendidikan ini adalah masalah masjarakat, masalah kemadjuan jang sangat penting sekali, lebih penting dari masalah jang lain-lain.

Negeri kita ini mempunjai penduduk tidak kurang dari 60 djuta djiwa. Berapakah dari kaum kita jang sekian itu, jang telah mendapat peladjaran dan didikan ?

Sudah diadakan suatu komisi untuk memeriksa berapakah prosentasenja dari penduduk negeri kita ini jang sudah mendapat peladjaran. Laporan komisi itu, (Hollandsch Onderwijs-Commissie) jang terbit dalam tahun 1931 memuat satu perbandingan tentang perguruan jang ada dinegeri kita dengan perguruan di-negeri-negeri lain, ialah sebagai berikut:

Djawa ..………………………  2,9%
Luar Djawa ……………….   2,9%
Mesir ….…………………….   3,4%
India …..……………………    4,5%
Siam …………………………   5,6%
Pilipina …………………..…   9,7%

Ini menundjukkan bahwa kalau kita kumpulkan orang kita ditanah Djawa ini ataupun diluar Djawa, maka pukul rata dalam tiap-tiap 100 orang hanja 2,9 orang, — belum tjukup 3 orang —, jang sudah dapat perguruan. Dan kalau kita masukkan kedalamnja pengadjaran jang diberikan pesantren-pesantren, maka masih belum tinggi angka prosentasenja untuk seluruh Indonesia dari pada 3,8%. Sekarang kalau dimasukkan pula perguruan jang diberikan oleh sekolah2 partikelir jang dinamakan sekolah-liar itu, bolehlah nanti kita mendapat paling tinggi angka 4.

Apakah artinja 4 orang dari tiap2 100 orang itu ! Bandingkanlah dengan keadaan di Pilipina, tanah jang berdekatan dengan kita, jang telah mentjapai angka 9,7, jakni lebih dari 2 kali sebanjak angka kita.

Menurut perhitungan H.I.O. Commissie itu djuga dari 24.029.839 anak-anak dibawah umur 13 tahun, barulah 4.702.935 anak jang sudah mendapat peladjaran dan masih 19.326.904 anak jang tidak mendapat peladjaran itu. Betapakah akan nasibnja anak2 jang lebih dari 19 miliun itu ?

Apakah akan dibiarkan sadja mereka terlantar, djadi bodoh dan dungu terbenam dalam kegelapan ? Atau apakah sudah rela benar2 kita melepaskan anak2 kita itu diperkemasi oleh mereka jang bekerdja dengan giat dan radjin serta tabah mendirikan sekolah-sekolah mereka, jang membukakan pintunja dengan luas sekali kepada anak2 kita jaitu pihak missi dan zending dinegeri kita ini ?

Wahai ibu-bapa kaum Muslimin ! “Alangkah sukanja Ahli Kitab, djika mereka dapat membelokkan kamu kembali, sesudah kamu beriman (kepada Muhammad), sebab tidak senang hati mereka… !”, demikian Al-Quran dalam surat Al-Baqarah : 109. Peringatan ini dihadapkan oleh Muhammad kepada kaum Muslimin 13 abad jang lalu dan jang rupanja perlu diperingatkan berulang-ulang demikian kepada kita.

Tuhan telah mengamanatkan anak-anak itu supaja kita didik dan kita pimpin. Kita sebagai ibu-bapa jang lebih tua dan lebih kuat, bertanggung djawab atas nasib anak-anak kita itu. „Tiap-tiap anak itu dilahirkan sutji, maka ibu-ibapanjalah jang mendjadikan dia seorang Madjusi, Nasrani dan Jahudi.” Begitu Djundjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. memperingatkan kepada tiap-tiap ibu-bapa kaum Muslimin berhubung dengan kewadjiban mereka terhadap anak-anak mereka.

“Peliharalah dirimu dan ahlimu dari api naraka l”, demikian lagi peringatan Tuhan dalam Kitab Sutjinja, surat At-Tahrim ajat 6, kepada kita, jang maksudnja ialah : harus kita berikan kepada anak dan isteri kita didikan jang akan memeliharanja dari kesesatan dan memberi keselamatan kepadanja didunia dan diachirat.

Mengurus pendidikan anak-anak itu, bukan sadja fardhu-‘ain bagi tiap-tiap ibu-bapa jang mempunjai anak, akan tetapi adalah fardhu-kifajah bagi tiap2 anggota dalam masjarakat kita.

“Hendaklah ada diantara kamu suatu golongan jang menjeru manusia kepada kebaikan dan melarangnja dari pada kedjahatan; penjeru-penjeru ini adalah orang jang mendapat kemenangan” (Q. Ali-‘Imran : 104).

Djadi kita kaum Muslimin wadjib mengadakan dari antara kaum kita djuga, satu golongan jang akan mendidik anak-anak kita, supaja didikan anak-anak itu djangan diserahkan kepada mereka jang tidak sehaluan, tidak sedasar, tidak seiman dan tidak seagama dengan kita. Begini peringatan dari Nabi kita Muhammad s.a.w. Begitu pula perintah dari Allah s.w.t.

II.
Barat dan Timur.

Dalam perlumbaan bermatjam aliran jang diturut oleh orang kita dalam pendidikan dan peladjaran, seringkali dikemukakan perbandingan atau pertentangan antara didikan Barat dan didikan Timur.

Seringkali pula kenjataan, ada jang menganggap bahwa didikan Islam itu ialah didikan Timur, dan didikan Barat ialah lawan dari didikan Islam. Boleh djadi, ini reaksi terhadap didikan “kebaratan” jang ada dinegeri kita, jang memang sebagian dari akibat-akibatnja tidak mungkin kita menjetudjuinja sebagai umat Islam. Akan tetapi tjoba kita berhenti sebentar dan bertanja : “Apakah sudah boleh kita katakan bahwa Islam itu anti-Barat dan pro-Timur, chususnja dalam pendidikan ? !

Pertanjaan ini hanja bisa kita djawab apabila sudah terdjawab lebih dulu : “Apakah kiranja jang mendjadi tudjuan dari didikan Islam itu ?” Jang dinamakan didikan, ialah satu pimpinan djasmani dan ruhani jang menudju kepada kesempurnaan dan lengkapnja sifat2 kemanusiaan dengan arti jang sesungguhnja. Pimpinan sematjam ini sekurangnja a.l. perlu kepada dua perkara :

a. Satu tudjuan jang tertentu tempat mengarahkan didikan itu.
b. Satu asas tempat mendasarkannja.

Akan sia-sialah tiap-tiap pimpinan itu apabila ketinggalan salah satu dari jang dua ini. Pertanjaan : “Apakah tudjuan jang akan ditudju oleh didikan kita ?”, sebenarnja tidak pula dapat didjawab sebelum mendjawab pertanjaan jang lebih tinggi lagi jaitu : “Apakah tudjuan hidup kita didunia ini ?” Kedua pertanjaan ini tidak dapat dipisahkan, keduanja sama (identiek), Tudjuan didikan ialah Tudjuan-Hidup !

Guranul-Hakim mendjawab pertanjaan ini begini: “Dan Aku (Allah) tidak dijadikan djin dan manusia, melainkan untuk menjembah Aku!” (Q.s. Adz Dzarijat: 56).

Akan memperhambakan diri kepada Allah, akan mendjadi hamba Allah, inilah tudjuan hidup kita diatas dunia ini. Dan lantaran itu, inilah pula tudjuan didikan jang wadjib kita berikan kepada anak2 kita, jang lagi sedang menghadapi kehidupan.

Arti: “Lija’buduni”.

Adapun perkataan “menjembah Aku” ini mempunjai arti jang sangat dalam dan luas sekali, lebih luas dan dalam dari perkataan-perkataan itu jang biasa kita dengar dan pakai setiap hari.

“Menjembah Allah” itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi jang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan achirat, serta mendjauhkan diri dari segala larangan-laragan jang mengalang-alangi tertjapainja kemenangan dunia dan achirat itu. Akan tetapi sungguh tidak mudah mentjapai pangkat “Hamba Allah” itu. Tuhan terangkan dalam Al-Quran, antaranja apakah sjarat-sjarat dan sifatnja seseorang jang berhak menamakan dirinja “Hamba Allah” itu: Bahwa jang se-benar-benarnja takut kepada Allah itu, ialah hamba-hamba-Nja jang mempunjai ilmu; sesungguhnja Allah itu Berkuasa lagi Pengampun” (Q.s. Al-Fathir : 28).

Ajat ini mendjelaskan bahwa ilmu, ialah satu sjarat jang terpenting untuk mendjadi Hamba Allah jang sebenar-benarnja. Seorang Hamba Allah, bukanlah seorang jang mengasingkan diri dari keni’matan dunia dan pergi bertapa kehutan belukar, dan mengerdjakan hanja sekedar “sembahjang” dan “puasa” sadja! Bukan semata-mata ini jang dimaksud dengan menjembah Allah itu.

Malah dengan terang dan tegas pula Tuhan peringatkan bahwa segala barang jang baik dan rezeki-rezeki jang halal diatas dunia ini, adalah teruntuk bagi Hamba Allah !

“Katakanlah! Siapakah jang mengharamkan perhiasan Allah jang Dia keluarkan untuk hamba-Nja, beserta rezeki jang baik itu ? Katahanlah, (semua itu) untuk mereka jang beriman diatas dunia ini, dan semata-mata akan (kepunjaan mereka) dihari kiamat” (Q.s. Al-A’raf: 31).

Hamba Allah, ialah orang jang ditinggikan Allah deradjatnja, sebagai pemimpin untuk manusia. Mereka menurut perintah Allah, dan berbuat baik kepada sesama machluk, lagi menunaikan ibadah terhadap Tuhannja, sebagaimana tersimpul dalam firman Tuhan :

“…….mereka beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, kepada Malaikat, kepada Kitab-Nja, dan Nabi-nabi-Nja dan memberikan harta jang disajainginja kepada karib-karibnja, kepada anak jatim, kepada orang terlantar, dan kepada orang jang keputiusan belandja dalam perdjalanan; serta untuk memerdekakan manusia dari perbudakan. Didirikannja sembahjang, dibajarkannja zakat, teguh memegang djandji apabila berdjandji, bersifat sabar dan tenang diwaktu bahaja dan bentjana…” (Q.s. Al-Baqarah : 177).

Kepada Hamba Allah jang beginilah Tuhan telah memberi satu “balagh”, satu ultimatum, jakni satu pemberi-tahuan jang keras, bahwa kemenangan dan kedjajaan diatas dunia ini tidak diberikan, melainkan kepada hamba-Nja jang pantas dan patut lagi mempunjai ketjakapan jang tjukup untuk menerima dan mengurus dunia. Lain dari itu, tidak l

“Sesungguhnja Kami telah tetapkan dalam Zabur, sesudahnja peringatan, bahwa sesungguhnja dunia ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku jang patut-patut, dan sesungguhnja dalam hal ini adalah satu pemberian tahu, “peringatan” untuk orang jang menjembah Allah” (Q.s. Al-Anbija : 105-106).

Beginilah sekurangnja sifat-sifat dan amalannja seseorang jang mempunjai deradjat “Hamba Allah” itu ! Maka njata pula bahwa memperhambakan diri jang sematjam ini ialah untuk kepentingan dan keperluan jang menjembah itu sendiri, bukan untuk jang disembah :

“Tidak ! Aku tidak berkehendak mendapat rezeki dari mereka dan Aku tidak berkehendak, supaja mereka memberi Aku makan” (Q.s. Adz Dzarijat : 57).

“Sesungguhnja Allah itulah jang memberi rezeki, jang mempunjai semua kekuatan dan kekuasaan jang paling berkuasa” (Q.s. Adz Dzarijat : 58).

Perhambaan kepada Allah jang djadi tudjuan hidup dan djadi tudjuan didikan kita, bukanlah suatu perhambaan jang memberi keuntungan kepada jang disembah, tetapi perhambaan jang mendatangkan kebahagiaan kepada jang menjembah; perhambaan jang memberi kekuatan kepada jang memperhambakan dirinja itu.

“Dan barang siapa jang sjukur kepada Tuhan maka sesungguhnja ia bersjukur untuk kebaikan dirinja sendiri dan barang siapa jang ingkar, maka sesungguhnja Tuhanku Mahakaja dan Mahamulia !”(Q.s. An-Naml: 40).

Akan mendjadi orang jang memperhambakan segenap ruhani dan djasmaninja kepada Allah s.w.t. untuk kemenangan dirinja dengan arti jang seluas-luasnja jang dapat ditjapai oleh manusia, itulah tudjuan hidup manusia diatas dunia. Dan itulah tudjuan didikan jang harus kita berikan kepada anak-anak kita kaum Muslimin.

Inilah “Islamietisch Paedagogisch Ideaal” jang gemerlapan jang harus memberi suar kepada tiap-tiap pendidik Muslimin dalam mengemudikan perahu pendidikannja.

Apakah jang sematjam itu sematjam didikan ke-“barat”-an atau ke-“timur”-an namanja, tidak mendjadi soal. Timur kepunjaan Allah, Baratpun kepunjaan Allah djuga, sebagai machluk jang bersifat “hadits” (baharu), ke-dua2-nja, Barat dan Timur mempunjai hal jang kurang baik dan jang baik, mengandung beberapa kelebihan dan beberapa keburukan.

Seorang pendidik Islam tidak usah memperdalam-dalam dan memperbesar-besarkankan antagonisme (pertentangan) antara Barat dengan Timur itu. Islam hanja mengenal antagonisme antara hak dan batil. Semua jang hak ia akan terima, biarpun datangnja dari “Barat”, semua jang batil akan ia singkirkan walaupun datangnja dari “Timur”.

Sistem pendidikan seperti jang diberikan di Barat jang bersemangat efficiency, supaja dapat kemenangan dalam perlumbaan hidup tidak ia akan tolak sama sekali, kalau semata-mata lantaran sifat ke-“Barat”-annja. Sebab, seorang Islam, seorang Hamba Allah, dilarang “melupakan nasibnja didunia ini” dan dituntut mentjempungkan diri dalam perdjuangan hidup dengan tjara jang halal.

Suatu sistem Timur jang memberi didikan, terpisah dari gelombang pergaulan dan perdjuangan manusia biasa, meluhurkan dan menjutjikan kebatinan, tidak akan kita terima semuanja pula, kalau hanja lantaran sifat “ketimurannja” itu. Sebab, buat seorang Hamba Allah, djasmani dan ruhani, dunia dan achirat, bukanlah dua barang jang bertentangan jang harus dipisahkan, melainkan dua serangkai jang harus lengkap-melengkapi dan dilebur mendjadi satu susunan jang harmonis dan seimbang. Inilah jang dimaksud oleh firman Allah :

“Dan demikianlah Kami djadikan kamu suatu umat jang seimbang, adil dan harmonis, supaja kamu djadi pengawas bagi manusia dan Rasul djadi pengawas atas kamu” (Q.s. Al-Baqarah: 143).

Deradjat Hamba Allah jang beginilah jang bukan sia-sia, untuk itulah kita harus mempergunakan setiap saat dari umur kita. Umur kita dan umur generasi jang bakal timbul jang kita didik, untuk menggantikan kita.

Dari brosjur tersendiri.

(Naskah ini adalah Pidato pada Rapat Persatuan Islam di Bogor, tanggal 17 Djuni 1934. Dan juga telah dimuat di buku Capita Selecta)
(Foto diambil dari buku Capita Selecta)

(Visited 167 times, 1 visits today)
Last modified: 4 Juli 2020
Close