Ditulis oleh 9:15 am KABAR

‘Idul Fitri: Kembalinya Kemuliaan Manusia

Fitrah ini menjadikan manusia secara individual memiliki potensi keunggulan (ahsanu takwim) dibanding makhluk lain. Dan memiliki kemampuan untuk menjaga kehidupan dunia tetap dalam tatanan kemuliaannya.

Syahrut Tarbiyyah telah usai. Dosa telah diampuni. Orang beriman telah kembali pada keasliannya sebagai ahsanu takwim, makhluq paling unggul.

Yang dalam jiwanya ada bibit segala kebaikan (qalbu) dan otomatis analisis sistem (akal) dan dalam jasadnya ada perangkat pemintal dan perangkai segala unsur yang berserak di muka bumi (panca indra dan hasta).

Dengannya (kalbu, akal dan indra hasta) pada 1 Syawal manusia beriman telah siap kembali mengemban amanahNya sebagai pemimpin dunia: penegak kebaikan pencegah kemungkaran. Membangum kembali peradaban di seluruh dimensi kehidupan.

Dimensi Individu

Inilah sentra dari kehidupan. Alloh mencipta manusia sebagai individu dan akan kembali juga sebagai individu.

Kepadanya diamanahkan dunia untuk dikelola (kholifah fil ardi), agar tetap terjaga dalam fungsinya sebagai sarana pengabdian (‘abdullah).

Sebagaimana Alloh SWT tetapkan dalam kitabNya :

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecualai untuk mengabdi kepadaku”.

“Dan ingatlah ketika Robbmu berkata kepada malaikat; sesungguhnya akan akau jadikan di muka bumi (manusia) sebagai khalifah”.

Fitrah ini menjadikan manusia secara individual memiliki potensi keunggulan (ahsanu takwim) dibanding makhluk lain. Dan memiliki kemampuan untuk menjaga kehidupan dunia tetap dalam tatanan kemuliaannya.

Tetapi potensi ini sering tidak berkembang bahkan hilang dan berubah menjadi pecundang (asfala safilin) karena manusia terperdaya oleh keindahan dunia (harta, tahta, wanita) dan terperangkap dalam tipu daya syetan.

Selama Ramadhan, syetan dibelenggu (tidak bisa memperdaya) sehingga eksistensi manusia tidak lagi terduplikasi oleh syetan.

Setiap perilaku buruk (egois, malas, serakah, dengki, culas) muncul murni sebagai representasi nafsunya.

Karenanya maka mudah baginya untuk mengalahkan.

Segala sikap dan tindakan baik (peduli, rasa malu, semangat berkorban dll) muncul murni sebagai representasi sifat hanifnya.

Karenanya mudah baginya untuk mengembangkan.

Romadhan menjadi fase dimana setiap perilaku betul betul muncul murni sebagai perilaku manusia.

Bukan manusia jahat setengah syetan. Atau manusia mulia setengah malaikat.

Sebab itulah di hari tanggal 1 syawal, menjadi hari kemenangan bagi orang beriman. Karena orang beriman secara individual telah kembali kepada fitrahnya; sebagai ‘abdullah dan sebagai kholifah. Makhluq unggul mulia dan memuliakan. Yang selamat dan menyelamatkan. Yang selalu datang bersama dengan kebaikan dan menebarnya sebagai tunas peradaban.

Dimensi Keluarga.

Bagi orang beriman, keluarga adalah ‘mangkuk cinta’ dimana ayah,ibu dan anak menuang dan merguk cinta secara bersama. Cinta yang memancar dari kecintaan kepada Rabbnya. Cinta yang menerbitkan rasa rindu kepada Sorga. Inilah Fitrah Keluarga.

Namun dalam kehidupan, fitrah ini seringkali hilang, tertutupi oleh nafsu dan ambisi. Sehingga Keluarga tidak lagi menjadi ‘ikatan suci’ yang mengabadi, tapi berubah menjadi sekedar transaksi sosial,seksual dan matrial yang sangat lemah dan mudah goyah.

Di dalamnya nafsu, emosi dan ambisi bertumpahan. Kemudian diaduk oleh syetan menjadi adonan memabukkan.

Laki laki merasa berkuasa karena kerja dan kekuatannya.
Wanita juga merasa kuasa karena telah mengandung anak anaknya.

Anak menjadi korban ambisi dan emosi orang tua. Atas nama cinta orang tua memaksa anak untuk mewujudkan semua mimpi dan ambisinya.

Anak menaruh dendam kepada orang tua karena merasa telah dihilangkan kemerdekaannya.

Pertengkaran menjadi bumbu dari setiap perbincangan. Kemewahan dunia menjadi mimpi yang selalu dipaksakan.

Kesederhanaan menjadi aib yang menyematkan penderitaan.
Sementara ‘masuk sorga’ tidak pernah menjadi agenda keluarga.

Dan di bulan Ramadhan, syetan dibelenggu, tak lagi bisa membentangkan keindahan dunia untuk menghijab pandangan hati orang beriman dengan Rabbnya.

Sehingga nampaklah segala kesalahan sebagai kesalahan. Kemarahan sebagai keburukan.

Ambis dan iri sebagai penyakit hati.
Anak sebagai jiwa merdeka yang punya kecerdasan ganda.
Lebih lagi di tahun ini. Alloh memperlihatkan kuasanya melalui corona.
Maka mautpun menjadi semakin terlihat nyata.
Akherat terlihat nyata
Sorga terlihat nyata.
Neraka terlihat nyata.
Lalu disesalilah segala kesalahan,

Direnungkanlah segala peebuatan, dalam tafakkur dan tadzakkur yang mendalam. Di setiap pagi, di setiap siang, di setiap malam, terutama malam malam 10 hari akhiran, hingga hilal diperlihatkan.

Sehingga hari tanggal 1 Syawal,

Keluarga orang beriman benar benar telah kembali ke dalam fitrah sebagai ‘keluarga harmoni penuh dengan kemuliaan dan kebahagiaan.

Keluarga yang dilandasi oleh cinta kepada Rabbnya dan cinta kepada sesama. Yang mencitakan kebahagiaan di dunia dan di sorga. Yang menjaga anggotanya dari ancaman neraka.

Sebagaimana Alloh SWT perintahkan: “Hai orang -orang yamg beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka”.

Dimensi Masyarakat.

Masyarakat adalah kumpulan individu yang direkatkan oleh semangat saling menolong dalam kebaikan dan Taqwa.

Sebagaimana Alloh SWT perintahkan: “dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah tolong-menolong dalam kejahan dan permusuhan”

Dengan demikian Fitrah masarakat Islam adalah hidupnya; iman dan taqwa, ta’awun dalam kebaikan dan taqwa, amar ma’ruf nahi mungkar serta nasehat dalam kebaikan dan kesabaran.

Fitrah ini mewarnai pola komunikasi diantara warganya sehingga terasa hangat dan indah. Karena dalam fitrahnya, setiap orang dipandang dan disikapi sebagai saudara yang harus disayang.

Tetapi Fitrah ini sering hilang, sehingga masyarakat hanya menjadi kerumunan manusia, tanpa cinta, tanpa kebersamaan dan tanpa kepedulian.

Setiap orang dilihat sebagai pesaing bahkan musuh yang harus dikalahkan dan disingkirkan.

Lalu Alloh SWT mendatangkan Ramadhan, untuk mensucikan ikatan manusia dari segala penyakit hati dan mengembalikan ikatan fitrahnya.

Sehingga hari tanggal 1 Syawal, masyarakat islam kembali rekat dalam satu tekad, ‘Bersama meraih saling melapangkan jalan kebahagiaan dunia dan akherat’.

(Visited 27 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 31 Agustus 2020
Close