Ditulis oleh 5:12 am KALAM

’Iedul Adha Menuju Terbentuknya Keluarga “Samara”

Ketika umat Islam merayakan Idul Adha maka akan terbayang dalam benak kita bagaimana Habibullah Nabi Ibrahim AS dan keluarga berusaha mempertahankan aqidah Islamiah berhadapan dengan berbagai bujukan dan rayuan.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Untuk kesekian kalinya Allah swt menganugerahi kita nikmat berhari raya ‘Idul Adha. Terasa cepat waktu beredar, zaman bertukar. Masih segar dalam ingatan kita, setahun yang lalu kita merayakan ‘Idul Adha. Pada hari ini Jumat, 10 Dhulhijjah 1441 H, bertepatan dengan tanggal 31 Juli 2020 M, umat Islam sedunia di masing-masing tempat, bertemu dan merayakan ‘Idul Adha tahun ini dalam suasana yang penuh dengan kebahagiaan dan kesentosaan, meskipun umat Islam masih didera berbagai ujian, salah satunya adalah pandemi covid-19 yang belum menunjukkan titik terang kapan akan segera berakhir. Semoga Allah senantiasa memberikan kesabaran kepada seluruh umat manusia untuk dapat menerima ujian hidup ini, sehingga secara bertahap pandemi covid-19 akan semakin jauh dari kehidupan kita dan segera ditemukan vaksin dan obatnya.

Pada Hari Raya Adha yang penuh dengan nikmat karunia Allah Yang Maha Rahman ini, marilah yang pertama-tama kita mengingati akan kebesaran Allah, Sang Pencipta seluruh alam ini, kita syukuri segala rahmat dan nikmat-Nya. Dengan banyak mengingati Allah, Allah akan banyak mengingati kita, Allah akan senang dan cinta kepada kita. Dan dengan banyak mensyukuri rahmat dan nikmat-Nya itu, Allah akan semakin menambah rahmat dan nikmat-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS Ibrahim, 14: 7 : Artinya : ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami (Allah) akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Oleh karena itu orang yang banyak ingat dan bersyukur kepada Allah SWT pasti hidupnya akan bahagia, tenang dan tentram. Oleh karena itu, biasakanlah untuk banyak mengingat Allah dan mensyukuri nikmat-Nya, pasti akan kita rasakan sendiri akan hasil dan akibatnya yang sangat indah dalam kehidupan kita di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak. Kita sebagai manusia adalah satu makhluk Allah yang terbaik kejadiannya, susunan jasmani dan rohaninya. Dengan panca indera dan akal, hati dan nafsu, manusia menjadi makhluk yang berpotensi untuk ber-tamaddun (berperadaban). Makin lama makin maju dalam segala bidang, karena dapat memperbedakan antara yang haq dan yang batil, yang baik dan yang buruk, yang berguna dan yang berbahaya, yang membahagiakan dan yang mencelakakan atau merusak. Dengan perintah menyembelih hewan qurban yang berarti menghilangkan nafsu-nafsu kebinatangan yang ada pada diri kita, salah satu tujuannya adalah agar kita selalu berada dalam kesucian jiwa-raga, senantiasa menumbuhsuburkan “fitrah” manusia sebagai makhluk yang beradab, yang dapat memberikan pencerahan dalam kehidupan sosial yang penuh rona dan dinamika ini.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Hari Raya Idul Adha merupakan rangkaian dan buah dari ibadah kita beberapa saat yang lalu di bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh umat Islam berada dalam bulan suci, bulan penuh keberkahan dan nilai. Bulan yang mengantarkan kita kepada suasana batin yang sangat indah. Bulan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan bagi kita kaum Muslimin. Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberikan perhatian kepada waktu, di mana banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktunya. Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktu-waktu shalat, yang barangkali di luar Ramadhan kita sering mengabaikan waktu-waktu shalat. Adzan berkumandang di samping kanan kiri telinga kita, namun kita tetap dengan segala kesibukan kita, tak tergerak bibir kita untuk menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu. Ramadhan sebagai Syahrul Tarbiyah, bulan pendidikan dalam kehidupan keluarga telah mengajari kita untuk senantiasa memenuhi seruan ilahi dengan ucapan sami’na wa atta’na dan pembiasaan yang seperti itu akan terbawa setiap saat, termasuk memasuki bulan Dhulhijjah sekarang ini.

Allahu Akbar Allahu Akbar. Laa ilaha illallahu allaahu akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Ketika umat Islam merayakan Idul Adha maka akan terbayang dalam benak kita bagaimana Habibullah Nabi Ibrahim AS dan keluarga berusaha mempertahankan aqidah Islamiah berhadapan dengan berbagai bujukan dan rayuan. Keluarga Ibrahim telah lulus dalam usaha itu dan kita dituntut untuk meneladani bagaimana Nabiyullah Ibrahim mendidik keluarganya. Keluarga sakinah mawaddah wa rahmah merupakan dambaan setiap orang demi mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.

Nabi Ibrahim AS sebagaimana orangtua yang lain, pastilah mencintai istri dan anak-anaknya dan menginginkan agar kelak menjadi orang yang bahagia dalam hidupnya dan senantiasa menemukan pilihan-pilihan hidup yang terbaik. Ibrahimlah yang berjuang dan bekerja keras membangun Negeri yang tandus dari lembah yang tiada tumbuhan, menjadi Negeri yang subur, aman, makmur dan sejahtera. Ada beberapa keteladanan yang dapat diambil dari pendidikan Nabiyullah Ibrahim AS, yaitu:

Pertama, Ibrahim melatih dan mendidik anaknya untuk memberikan pandangan dan pendapatnya tentang suatu masalah yang dihadapi bersama dalam keluarga. Kedua, Ibrahim mendidik anaknya Ismail, anak kesayangannya itu dengan cara yang sangat demokratis penuh dialogis. Ketiga, Ibrahim AS mendidik keterbukaan kepada anaknya. Keempat, Ibrahim mendidik anaknya agar memiliki keberanian. Kelima, Ibrahim mendidik anaknya untuk memiliki kerelaan berkorban, sekalipun yang dikorbankan adalah jiwanya sendiri. Keenam, Ibrahim mendidik anaknya agar taat kepada Allah SWT dengan cara hanya menyembah kepada-Nya saja. Ketujuh, Ibrahim mendidik anaknya di samping taat dan patuh kepada Allah juga kepada kedua orangtua. Kedelapan, Ibrahim mendidik anaknya menjadi anak yang memiliki kepercayaan diri (self confidence). Kesembilan, Ibrahim mendidik anaknya agar menjadi anak yang sabar. Sedikitnya ada enam situasi di mana seseorang harus sabar; yaitu (1) sabar terhadap petaka dunia, (2) sabar terhadap gejolak nafsu, (3) sabar dalam ketaatan terhadap Allah SWT, (4) sabar dalam kesulitan berdakwah di jalan Allah, (5) sabar di medan perang, dan (6) sabar dalam pergaulan dengan manusia. Sifat sabar inilah yang dapat menjadikan seseorang tetap tabah menghadapi berbagai problematika kehidupan, dari yang sifatnya ringan sampai kepada problematika yang sangat berat dan pelik.

Allahu Akbar Allahu Akbar. Laa ilaha illallahu allaahu akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Ketika ingin membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah dapat juga kita bisa melihat dengan atau dari sudut pandang surat Al-Fatihah. Konsep yang ada dalam surat ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan membangun sebuah keluarga sakinah. Mulai dari bacaan Basmalah hingga penutup dengan bacaan pengabulan harapan, semuanya penuh makna yang luar bisa.

Marilah kita coba untuk merenungi makna yang ada secara sederhana dan aplikatif bagi kehidupan berkeluarga.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Ketika memulai sesuatu kita diwajibkan memulai dengan mengawalinya atas nama Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Secara universal, agama apapun ketika akan melakukan sesuatu, pasti memulai dengan izin kepada yang memiliki dirinya atau pemilik alam ini, dalam hal ini tidak lain adalah Sang Pencipta, Allah SWT. Bahkan secara syariat Islam, suatu perbuatan apabila tidak dimulai dengan bacaan basmalah maka amalnya tertolak alias tidak bernilai di sisi Allah.

Apalagi ketika akan membangun sebuah bangunan keluarga yang diikat dengan nama-Nya, yang bernama pernikahan maka sudah seharusnyalah mengawali dengan izin dari Sang Pencipta, Allah SWT. Bukan dengan yang lainnya untuk meluruskan segala sesuatu yang menyertainya. Pilihan calon pasangan hidup kriteria yang dipilih terwarnai dengan nilai ilahiyah. Diketahui, kriteria pasangan hidup ada empat menurut Rasulullah SAW yaitu karena kekayaannya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Bila yang dipilih yang terakhir atau dengan nilai ilahiyah maka tiga yang awal akan terwarnai. Kekayaannya bukan dalam bentuk materi semata melainkan kekayaan hati dan kekayaan ilmu yang lebih melanggengkan pernikahan, kalaupun mendapat kekayaan materi itu merupakan nilai tambah saja. Nasab keturunannya bukan dalam hal nasab kebangsawanan atau kedudukan yang dimiliki oleh orangtuanya melainkan nasab keturunan orang-orang shaleh menjadi prioritas pilihan. Kecantikan yang didapat bukan semata-mata kecantikan fisik, melainkan kecantikan yang terpancar dari akhlaknya (inner beauty).

Awalan basmalah merupakan pembuka dari segala pilihan dan pijakan sehingga seseorang hendak membangun bahtera rumah tangganya terpagari oleh rambu-rambu ilahiyah sekaligus kontrol bagi diri dan pasangan hidupnya dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Konsep bacaan Basmalah adalah konsep kunci pembuka keberkahan dan keridhoan yang memiliki alam semesta ini.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Konsep bacaan Hamdalah adalah konsep syukur. Dalam kehidupan rumah tangga bila tidak ada konsep syukur yang dikembangkan maka yang ada adalah kesia-siaan kehidupan dan kekufuran terhadap nikmat. Hal yang wajar ketika berkeluarga harus terjamin sandang, pangan dan papan (aman, nyaman dan nyam-nyam), ditambah lagi sesuatu pelengkap lainnya seperti fasilitas untuk mobilitas usaha, dan harta investasi sebagaimana tersirat dalam QS. Ali Imran ayat 14. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang terjebak ke dalam konsep materialistik buta tanpa landasan, yang mengabaikan konsep ilahiyah.

Janji Allah jelas, bahwa ketika bersyukur maka nikmat akan bertambah (QS. Ibrahim ayat 7) tapi diimbangi juga dengan konsep berbagi karena banyaknya nikmat yang diberikan (QS. Al Kautsar ayat 1-2). Suami bila memiliki konsep syukur akan memudahkannya mencari rizki, istri bila memiliki konsep syukur akan melanggengkan rasa cinta kasih dari suami, dan anak bila memiliki konsep syukur akan mendapatkan keridhoan dari kedua orangtuanya. Lihat betapa banyaknya contoh, ketika suami tidak memiliki konsep syukur, terjebak ke dalam kesulitan kehalalan rizki dan menjadi hamba harta sekaligus hamba istri. Ketika istri tidak memiliki konsep syukur, terjebak ke dalam hawa nafsu materialistik dan tidak amanah terhadap amanah suami. Dan anak, ketika tidak memiliki konsep syukur, akan merongrong wibawa dan harta orangtua walaupun orangtuanya masih hidup terlebih lagi bila sudah tiada.

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Konsep bacaan Ar Rahman dan Ar Rahim adalah konsep kasih dan sayang. Dengan mengagungkan asma Allah Yang Maha Kasih dan Yang Maha Sayang, sebagai aplikasi kehidupan berkeluarga juga harus menumbuhsuburkan konsep turunan asma ul husna tersebut. Kehidupan berkeluarga akan menjadi gersang bila tidak ada nilai-nilai kasih dan sayang, yang ada dan tumbuh adalah kehidupan dalam hasad, hasud, iri, dengki, curiga dan kebencian.

Kata Rasulullah bahwa rumah yang bahagia adalah rumah tercipta seperti syurga di dunia, Baitii Jannatii, rumahku syurgaku. Saling percaya, saling terbuka, saling memberi, saling berbagi menjadi bagian kehidupan keluarga dengan sinar surgawi.

Yang menguasai hari pembalasan

Konsep Maaliki Yaumiddin adalah konsep manajemen keluarga yang berorientasi akhirat. Suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, istri merupakan pemimpin bagi amanah yang diberikan suaminya, dan anak merupakan pemimpin bagi fungsi kedudukannya. Kesemuanya itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Setiap langkah yang dilakukan dalam menjalankan bahtera keluarga sebagai fungsi manajemen selalu berorientasi akhirat, agar mendatangkan keselamatan dan kenyamanan hidup bagi seluruh anggota keluarga.

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Konsep bacaan ini adalah konsep pelaksanaan kewajiban baru kemudian hak, bukan pelaksanaan hak dulu baru kewajiban. Orang sering terjebak dalam hal hak dan kewajiban, banyak orang sering menuntut hak tapi lupa akan kewajiban. Dalam keluarga sering terjadi gesekan dan gonjang ganjing kehidupan karena tiap individu selalu menuntut hak. Suami menuntut haknya sebagai suami lupa kewajibannya sebagai seorang suami, isteri selalu menuntut hak sebagai isteri tapi lupa akan kewajibannya sebagai seorang isteri. Banyaknya perceraian dan percekcokan dalam keluarga dikarenakan banyaknya penuntutan hak yang tidak diimbangi dengan penunaian kewajiban. Tumbuh dan berkembang kekecewaan demi kekecewaan akibat tidak terpenuhi tuntutan hak. Ingatlah sebuah pepatah, tunaikan kewajiban maka hakmu akan terpenuhi.

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Konsep bacaan Ihdinas Shirathal Mustaqiim adalah konsep ilmu, ilmu yang benar bukan ilmu berdasarkan asumsi atau anggapan. Ketika membangun keluarga tidak mungkin dibangun dengan sebuah atau beribu asumsi melainkan berdasarkan ilmu, petunjuk dan arahan. Ilmu, petunjuk dan arahan seperti apa, yang jelas adalah ilmu, petunjuk dan arahan yang membawa bahtera keluarga ke arah ketenangan dan kelanggengan sesuai arahan Sang Pencipta.

Sebuah keluarga haruslah aktif dalam hal pencarian ilmu, petunjuk dan arahan. Namanya saja mohon petunjuk, berarti ada unsur keaktifan sebuah usaha pencarian. Ilmu merupakan landasan amal, bila amal tidak dilandasi ilmu maka sia-sia. Ilmu untuk menjalankan bahtera keluarga perlu agar tidak sia-sia dalam mengarungi samudera kehidupan berkeluarga.

Banyak model dan tipe keluarga yang Allah SWT berikan contohnya, baik melalui ayat kauniyah yang ada di sekitar, atau sebuah perjalanan sejarah yang tercatat dalam kalamNya. Baik itu contoh pada manusia maupun kehidupan makhluk Allah lainnya seperti hewan. Terkadang manusia tidak mau mengambil pelajaran (ibroh) dari alam berkenaan dengan kehidupan keluarga, sehingga ia tersesat di dalam hutan petunjuk, atau layaknya si buta yang memegang peta.

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)

Konsep bacaan ini adalah konsep model atau contoh aplikasi ilmu berkeluarga. Ada tiga kelompok contoh keluarga menurut konsep ini, yaitu keluarga sukses dunia akhirat, keluarga yang dibenci dan tersesat.

Keluarga sukses dunia akhirat adalah keluarga yang selalu belajar ilmu dan mengamalkan dengan landasan ilmu. Keluarga sukses dunia akhirat adalah keluarga yang selalu mengambil pelajaran dari sejarah atau kauniyah keluarga yang ada di sekitarnya. Keluarga yang sukses dunia akhirat adalah keluarga yang memperoleh kenikmatan hakiki karena dilandasi dengan ilmu dan keimanan, serta selalu memperbaiki diri dan keluarganya agar keselamatan tercurah kepada seluruh anggotanya. Mereka selalu selektif dalam hal apa yang masuk, apa yang mereka makan, dan apa yang mereka pakai dari hasil rizki yang mereka dapatkan.

Keluarga yang dibenci dan tersesat adalah keluarga yang tidak mengikuti petunjuk bahkan menjauhi petunjuk. Menjalankan bahtera kehidupan berkeluarga yang sekiranya menguntungkan kehidupan dunianya semata tanpa peduli arahan ilmu. Keluarga yang semau gue, tidak mengindahkan kaidah kehidupan, tidak selektif terhadap apa yang masuk, apa yang mereka makan, dan apa yang mereka pakai dari hasil rizki yang mereka dapatkan.

Bacaan Amien

Konsep bacaan Aamiin, adalah konsep pengharapan. Pengharapan kepada sesuatu zat yang menguasai alam ini yaitu Allah SWT. Ketika keluarga berharap kepada Zat Yang Maha Pengabul Segala Harapan, ia akan termotivasi dan tidak akan pernah kecewa terhadap segala keputusan yang diterima. Berbeda ketika keluarga berharap kepada makhluk yang selalu mengecewakan harapan-harapan, yang tumbuh adalah sikap apatis terhadap kehidupan dan terjebak ke dalam kehampaan kehidupan.

Allahu Akbar Allahu Akbar. Laa ilaha illallahu allaahu akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Akhirnya sebagai penutup khotbah Idul Adha 1441 H pada pagi hari ini, saya selaku khatib mengajak kepada saudara-saudara sekalian, marilah kita berdoa memanjatkan permohonan ke hadhirat-Nya dengan segala ketundukan dan ketulusan, semoga Allah senantiasa mengabulkan segala doa dan permohonan kita bersama.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim, kami puja dan puji Engkau dengan pujian sepenuh jiwa dan raga kami, sepenuh bumi dan langit, dan sepenuh ruang antara bumi dan langit, atas segala rahmat dan karunia-Mu yang telah Engkau limpahkan dan curahkan kepada kami, sehingga pada hari ini, Jumat, 10 Dhulhijjah 1441 H, bertepatan dengan tanggal 31 Juli 2020 M, kami dapat melaksanakan rangkaian Shalat Idul Adha dalam suasana yang penuh hikmat tanpa aral melintang suatu apapun.

Ya Allah, di masa pandemi covid-19 ini sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh). Ya Allah, berikanlah kesehatan untuk badanku, bagi pendengaranku dan penglihatanku. Tidak ada Sesembahan yang berhak untuk disembah selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Sesembahan yang berhak untuk disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.

Ya Allah, tetapkanlah hati kami dalam iman dan taqwa, kokohkanlah iman kami, taqwa kami dan ibadah kami. Jangan biarkan hati kami terperdaya oleh kemilauan kehidupan ini sehingga lalai untuk senantiasa mengingat-Mu dan senantiasa bersyukur atas segala karunia yang telah Engkau curahkan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah. Di hari mulia nan bersejarah bagi seluruh umat Islam se-dunia ini, kami menaburkan harapan atas karunia-Mu, berserah diri atas keagungan-Mu, dan berdo’a memohon kasih-sayangmu. Kami bersyukur atas limpahan nikmat Mu yang telah mengalir tak pernah henti. Engkau jadikan kami umat yang beriman dan berakhlaq mulia. Engkau tunjukkan kami jalan kebenaran. Engkau limpahi kami rizki yang halal dan melimpah yang tiada putus putusnya setiap saat. Jadikanlah bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai ini Negara dan masyarakat yang baldatun toyyyyibatun wa robbun ghofur. Negara dan masyarakat yang makmur dan penuh ampunan-Mu sehingga akan memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Wahai Dzat yang Maha Pemberi Cahaya. Ilhamkan kepada yang hadir pada kesempatan ini, cahaya kebaikan dalam mengamalkan kebaikan, berilah kami ilmu yang akan mempertinggi derajat kemanusiaan kami dan ilmu yang bermanfaat untuk kebaikan bagi bangsa dan Negara kami pada umumnya, dan umat Islam khususnya.

Wahai Allah yang Maha Kasih. Berilah kami dari sisi Engkau, mata yang mudah menangis karena melihat penderitaan hamba-hamba-Mu yang dilanda penderitaan dan kesusahan. Berilah kami dari sisi Engkau, hati yang mudah tersentuh melihat nestapa makhluk-Mu. Berilah kami dari sisi-Mu, tangan yang mudah menolong siapa saja hamba-Mu yang menghajatkan bantuan pertolongan itu. Bawalah kami kembali berkhidmat kepada Mu, untuk menangkap hikmah yang tergelar di alam raya ini.

Wahai Engkau ya Allah penghembus suling kehidupan. Curahilah kami dengan rahmat-Mu. Bimbinglah kami untuk beramal, untuk menaati-Mu. Kami sadar selama ini kamilah orang yang durhaka kepada-Mu. Ampunilah kami, karena selama ini kamilah orang yang tak tahan dirayu dosa. Bahkan kami berlari mengejarnya seperti menyongsong kekasih hati kami. Rabbana, ampuni kami dan ayah bunda kami, sayangilah keduanya seperti mereka memelihara kami ketika kami kecil, seperti mereka merawat kami kala kami sakit dan sehat. Balaslah kebaikan mereka dengan kebaikan dan kesalahan mereka dengan ampunan.

Rabbana, jika Engkau ampuni kami, betapa banyak orang berdosa sebelum kami telah Engkau ampuni. Limpahilah kami anugerah rizki-Mu. Ampunilah kejahatan kami dengan kemuliaan wajah-Mu. Yaa Allah, betapapun wujud-Mu, Engkau tunggal semata, sementara kami makhluk-Mu penaka kembang di padang kehidupan. Setiap butir air mata kami dan air mata bunda yang menetes ke haribaan sajadah, jadikanlah sebagai dorongan motivasi kami, penghias tumbuhan di taman tantangan kami.

Ya. Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana. Terimalah semua amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Yaa Allah kupohonkan kepada Mu ampunan Mu

(Visited 79 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 1 Agustus 2020
Close