Ditulis oleh 11:40 pm COVID-19

‘Iedul Fitri Di Era Pandemi Covid-19

Kata “’Ied”menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Dinamakan “al-‘Ied” karena pada hari tersebut Allah memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hamba-Nya

Hari Raya Iedul Fitri atau populer juga dengan sebutan Lebaran atau Badan adalah hari yang penuh kebahagiaan dan kemenangan yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan, minum, dan hubungan suami istri.di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa dari hal-hal yang seperti itu.

Kata “’Ied”menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Dinamakan “al-‘Ied” karena pada hari tersebut Allah memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hamba-Nya, yaitu bolehnya makan, minum, dan hubungan suami istri setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, lanjut dengan penyempurnaan haji dengan thawaf, penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. Dari Abu Hurairah RA berkata: “Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’Iedul) Fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

Perayaan Hari Raya.‘Iedul Fitri.merupakan salah satu bentuk ibadah mahdhah kepada Allah SWT. Dan ibadah mahdhah tidak terlepas dari dua hal; yaitu: ikhlas ditujukan hanya untuk Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.

Ada beberapa hal yang dituntunkan terkait dengan pelaksanaan Hari Raya ‘Iedul Fitri, di antaranya: Pertama, mandi sebelum Shalat ‘Iedul Fitri. Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk Hari Raya ‘Iedul Fitri karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk shalat dan mendengarkan khutbah ‘Ied. Meskipun Shalat ‘Iedul Fitri tahun ini hanya dilaksanakan di rumah masing-masing, sunnah untuk mandi tetap merupakan suatu keutamaan. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah dan telah mencukupi. Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk shalat (HR. Malik).

Kedua, makan di Hari Raya ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan.shalat ‘Ied. Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah, bahwa beliau berkata: “Rasulullah dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat ‘Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ketiga, memperindah (berhias) diri pada Hari Raya ‘Iedul Fitri. Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar RA pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasulullah SAW agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di Hari Raya dan untuk menemui utusan yang datang menghadapnya. Rasulullah SAW tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar RA, yaitu bahwa saat Hari Raya ‘Iedul Fitri dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. Perlu diingat, anjuran berhias saat Hari Raya ini tidak menjadikan seseorang boleh melanggar yang telah diharamkan oleh Allah SWT; di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita. Dan yang perlu dicatat, pakaian baru bukanlah suatu persyaratan, artinya tidak harus berhias dengan pakaian yang serba baru, tetapi yang penting adalah dengan berpakain yang bersih dan sesuai dengan tuntunan agama.

Keempat, khusus di Era Pandemi Covid-19 sekarang ini, Shalat Hari Raya ‘Iedul Fitri berdasarkan rujukan dari MUI supaya dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penularan corona, akan dilaksanakan di rumah (keluarga); bisa dilaksanakan secara berjamaah dengan anggota keluarga atau secara sendirian (munfarid). Kalau dilaksanakan secara berjamaah, ketentuan berlaku sebagai berikut: (1) Jumlah jamaah minimal 4 orang (1 imam dan 3 makmum); (2) Usai shalat, khatib lanjut memberikan khutbah; dan.(3) Jika tidak ada yang mampu berkhutbah atau jamaah kurang dari 4 orang, maka shalat bisa dilaksanakan tanpa khutbah. Sedangkan Shalat secara munfarid berlaku ketentuan sebagai berikut: (1) Diawali dengan niat shalat ‘Iedul Fitri secara munfarid; (2) Dilaksanakan dengan bacaan pelan (siir); dan (3) tidak ada khutbah ‘Ied. Dianjurkan untuk saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan ucapan “taqabbalallaahu minnaa wa minkum” (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’adahullaahu ‘alainaa wa ‘alaika bil khairat war rahmah” (Semoga Allah membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat). Pengucapannya cukup melalui sosmed, tanpa bertemu secara fisik. Selamat berpisah Ramadhan 1441 H yang penuh dengan ujian namun melimpah dengan keberkahan dan keridhaan-Nya , semoga kita tergolong umat yang diberi kesempatan untuk bertemu kembali bulan Ramadhan untuk tahun-tahun yang akan datang. Aamiin.

(Visited 138 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 22 Mei 2020
Close