24.4 C
Yogyakarta
13 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Ikhtiar dan Ikhlas Seorang Muslim dalam Melawan Covid-19

Penyebaran virus corona semakin meluas dan meningkat jumlahnya. Fenomena gunung es tampaknya bukan isapan jempol. Dampak yang ditimbulkan juga luar biasa. Bagai teror, wabah ini telah menimbulkan ketakutan warga. Pada diri seorang muslim, pada hakikatnya sudah ditanamkan benteng keimanan yang kokoh. Benteng yang akan mampu memantulkan sikap yang benar dan tepat dalam menghadapi musibah, yaitu ikhtiar, sabar dan tawakal. Sadar sepenuhnya bahwa manusia sangatlah lemah tanpa kekuatan dari Allah. Semua kejadian di dunia ini, sekecil apapun adalah atas izin Allah.

Dalam hal virus corona, setiap muslim wajib meyakini bahwa makhluk mikro tak kasat mata ini pun ciptaan-Nya. Dan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan qodarnya. Allah telah menciptakan api mempunyai qodar (khosiyat) membakar. Allah pun telah menciptakan virus dengan qodar dapat menjangkit pada inang hingga menyebabkan sakit. Allah juga telah menciptakan manusia dengan qodar memiliki akal untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Lalu, bagaimana seorang muslim bersikap terhadap musibah yang tengah melanda ini? Berikut tiga sifat yang harus dimiliki seorang muslim dalam menghadapi virus Corona:

Pertama, berikhtiar optimal untuk selalu hidup sehat sebagai upaya menghindari wabah yang sedang melanda. Menjaga kebersihan badan dengan selalu menjaga wudhu, mengkonsumsi makanan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dan berolah raga supaya stamina selalu fit. Pembatasan aktivitas di luar rumah dan menghindari kerumunan adalah hal yang harus dilakukan. Bahkan pemerintah Indonesia juga menegaskan untuk lakukan social distancing disertai proses belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Hal ini sangat penting dilakukan agar tidak semakin banyak orang yang terpapar virus corona.

Kedua, edukasi prefentif dan promotif. Islam adalah agama pencegahan. Telah banyak disebutkan bahwa Islam mewajibkan kaum muslim untuk ber-ammar ma’ruf nahiy munkar. Yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran. Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan Islam itu sendiri. Dalam hal ini keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktekan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan.

Islam memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktekan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan.

Dan ketika upaya bumi sudah dilakukan dengan maksimal oleh seorang muslim, maka hal yang terakhir harus dilakukan ialah ikhtiar langit, yaitu dengan memohon perlindungan kepada Allah dengan cara;

Ketiga, sabar dan tawakkal. Sabar menghadapi wabah ini, sambil terus memohon ampun kepada Allah atas semua kesalahan dan dosa. Lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, memperbanyak sedekah dan amar ma’ruf nahi mungkar. Yakin sepenuhnya bahwa hanya atas izin Allah musibah ini terjadi. Tak ada tempat berlindung yang paling aman kecuali bersandar kepada Allah. Memasrahkan semuanya kepada Allah diiringi dengan upaya menerapkan hidup sehat, karena Islam adalah agama asbabiyah. Apapun yang terjadi pasti sesuai sunnatullah.

Baca juga: MUI Keluarkan Fatwa Boleh Shalat Idul Fitri di Rumah saat Covid-19, Ini Lengkapnya

Keempat, Perkuat diri dengan zikir. Melibatkan Allah dalam setiap urusan, salah satunya dengan berdoa dan berzikir. Dengan demikian, hati kita akan senantiasa tenang dan tidak panik dalam menghadapi wabah ini. Zikir juga bisa dilakukan secara rutin saat pagi dan petang. Dari Utsman bin Affan ra, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap darinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’wa huwas samii’ul ‘aliim. (Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengatahui).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi.)

Kelima, berprasangka baik kepada Allah. Seorang muslim yakin terhadap qadha Allah, baik dan buruknya. Selalu berhusnudzan kepada Allah. Bahwa apapun yang terjadi, pasti ada kebaikan di dalamnya karena Allah amatlah sayang terhadap hamba-Nya. Hidup seorang muslim itu luar biasa, jika ditimpa musibah, bersabar. Jika mendapat kebaikan bersyukur. Sikap husnudzan dan optimis dalam kehidupan akan berdampak pada kesehatan. Sikap mental yang pesimis bahkan stress menghadapi wabah ini akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bekerja. Dalam kondisi itu, tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang akan menghambat pelepasan histamine dan respon peradangan untuk melawan zat asing. Dengan begitu tubuh akan rentan terserang penyakit.

Baca juga: Lonjakan Kasus Baru, Ada Apa?

Allah SWT berfirman dalam QS. Albaqarah ayat 155-156 (yang artinya): “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.

Demikianlah seharusnya seorang muslim bersikap, tidak abai tidak pula berlebihan dalam menanggapi virus ini. Tetap waspada dengan menjaga kebersihan diri dan tak lupa tawakkal kepada Allah. Maka apapun yang dihadapi dalam kehidupan, akan terasa ringan, akan mampu menuai pahala dari sikap yang tepat, mengumpulkan pundi-pundi amal untuk kehidupan kelak yang abadi. Wallahu a’lam Bisshawab.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA