Ditulis oleh 8:12 am KALAM

Indonesia Bangkit Seratus Persen

Nilai besar kelahiran Boedi Oetomo untuk bangsa Indonesia adalah bangkitnya kesadaran nasional secara kolektif untuk memajukan dan terwujudnya Indonesia merdeka. Dan pesan Pram dapat mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif bangsa ini lepas dari Corona.

Pramoedya Ananta Toer (Pram), sastrawan Indonesia, pernah menyampaikan pesan untuk angkatan muda. Ia mengatakan, “Jangan belagak tidak mengerti. Kalian itu cukup mengerti apa yang harus kalian lakukan. Lakukanlah yang terbaik untuk Indonesia dan untuk diri kalian sendiri. Jangan belagak bodo. Kalian cukup pandai. Kalian cukup punya keberanian. Kalian cukup punya keahlian mempersatukan semua angkatan muda. Bergerak. Terus. Sampai tercapai tujuan dan selamat.” Pesan ini dapat terus dihidupkan dan menemukan relevansinya dalam setiap zaman dan keadaan.

Kita tahu, Pram menyatakan pesan untuk angkatan muda itu jauh hari setelah pemuda Soetomo, Cs mendirikan organisasi pergerakan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA); kelak tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Tetapi, saya membayangkan kalau Soetomo, Cs itu tergerak membentuk organisasinya adalah setelah mereka tergugah oleh ungkapan Pram di atas. Meski sesungguhnya yang memerankan posisi Pram adalah dr. Wahidin Soedirohoesodo yang telah mendorong dan memprakarsai berdirinya Boedi Oetomo agar lahir lebih banyak kalangan terpelajar melalui program dana belajar (studie fonds). Upaya itu dilakukan agar lebih banyak lahir kelompok terdidik yang sekaligus memiliki kesadaran kebangsaan (nasionalisme) untuk lepas dari penjajahan sehingga kesejahteraan dan martabat bangsa lebih meningkat.

Pada mulanya, tujuan pendidikan Hindia Belanda yang ada sebagai bentuk respon politik etis adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga terlatih yang akan dipekerjakan pada pemerintah kolonial Belanda, seperti untuk pengurusan pajak dan administrasi. Dengan ini, orang-orang pribumi dari kalangan priyayi yang bersekolah cenderung menjadi orang yang bermental pegawai (ambtenaar) atau pelayan kepentingan penjajah. Padahal, seharusnya pendidikan menjadikan orang terpelajar mengenali potensi dirinya sebagai manusia. Dengan itu, orang-orang terpelajar memiliki kesadaran bahwa penduduk pribumi adalah sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Juga kesadaran atas hak kemerdekaan. Nilai-nilai dan semangat yang diusung oleh Boedi Oetomo ini merupakan cikal-bakal bangkitnya kesadaran bangsa pribumi terpelajar yang menyadari identitasnya sebagai bangsa untuk mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang merdeka melalui organisasi yang lebih modern.

Imajinasi yang telah saya sebutkan sebelumnya bertujuan agar kita memiliki titik tolak yang sama dalam menghadapi tantangan yang ada di Indonesia hari ini. Telah terbukti bahwa Boedi Oetomo memberi inspirasi bagi munculnya organisasi pergerakan lainnya yang kemudian efeknya mengkristal pada terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Soetomo, Cs telah melakukan respon yang baik terhadap keadaan yang terjadi saat itu. Mereka tergerak karena adanya pencerahan kata-kata dr. Wahidin Soedirohoesodo. Kesadaran reflektif seseorang berimbas pada munculnya kesadaran kolektif. Dan saat ini, Indonesia perlu seorang figur katalisator untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari belenggu Covid-19. Figur itu adalah Pram yang memberikan pencerahan melalui ungkapan pesannya pada angkatan muda.

Kita perlu merevitalisasi nilai-nilai dan semangat Boedi Oetomo agar peringatan Harkitnas tidak menjadi seremonial belaka. Karenanya, setiap peringatan hari besar nasional, termasuk Harkitnas harus pula dikaitkan dengan konteks yang sedang terjadi. Dengan begitu, peringatan hari besar akan memiliki makna dalam upaya menyelesaikan macam-macam persoalan yang menjadi tantangan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dan persoalan terbesar Indonesia di saat Harkitnas tahun 2020 ini adalah pandemi Covid-19. Kita tahu, akibat pandemi ini telah membuat banyak orang menjadi susah karena kehilangan pekerjaan. Kehidupan ekonomi menjadi sulit. Hal ini dapat merembet pada kehidupan sosial dan berpotensi pada terciptanya situasi chaos. Dan tentu hal ini tidak kita harapkan. Sejatinya, peringatan Harkitnas ini akan bermakna jika spiritnya turut berkontribusi terhadap penuntasan pandemi di negara Indonesia ini.

Barangkali akan muncul banyak pertanyaan, bagaimana bisa ungkapan Pram bisa membawa kita keluar dari situasi sulit ini? Jawabannya adalah karena ungkapan itu bisa menggugah kebangkitan kesadaran dan kebangkitan jiwa-raga kita.

Kebangkitan Kesadaran

Nilai besar kelahiran Boedi Oetomo untuk bangsa Indonesia adalah bangkitnya kesadaran nasional secara kolektif untuk memajukan dan terwujudnya Indonesia merdeka. Dan pesan Pram dapat mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif bangsa ini lepas dari Corona. Pesannya jelas, bahwa para angkatan muda (dan semua komponen bangsa) cukup mengerti apa yang harus dilakukan di masa pandemi ini. Physical distancing, tidak mudik, tidak berkerumun, patuh pada protokol kesehatan, menjaga kebersihan diri, dll. Kita jangan belagak tidak mengerti. Kita bisa melakukan itu semua. Untuk ini diperlukan kesadaran. Mula-mula adalah kesadaran. Dan mau berdiri paling depan dengan kesadaran itu. Masing-masing dari kita harus menjadi pelopor. Jika ini dilakukan serentak, bukan mustahil Indonesia segera lepas dari jeratan Corona. Kalau ini dilakukan oleh tiap-tiap orang, jelas yang akan tereselamatkan adalah tidak hanya diri sendiri melainkan juga orang lain dan bangsa Indonesia pada umumnya. Artinya, kesadaran akan membawa kita melakukan hal yang terbaik untuk diri sendiri dan Indonesia.

Hakikatnya, inti kebangkitan nasional adalah kebangkitan kesadaran bahwa ada yang keliru dari sesuatu yang sedang berlangsung. Juga kesadaran adanya ketidakberesan dalam proses dan output dari suatu sistem yang diidealkan. Konteksnya untuk saat ini, kebangkitan nasional adalah upaya penumbuhan kesadaran bersama bahwa ada yang keliru dalam menghadapi pandemi. Kekeliruan itu bisa berupa ada anggota masyarakat yang abai dan tidak bertanggung jawab terhadap keadaan. Contohnya adalah masih saja ada orang yang terdiagnosa positif Covid-19 tetapi enggan untuk diisolasi dan malah berinteraksi dengan masyarakat. Contoh ini mengindikasikan bahwa persoalan bangsa saat ini adalah tentang diri sendiri yang tidak mau sadar.

Kalau sekarang dikenalkan istilah new normal life, pada dasarnya itu adalah strategi baru kehidupan yang berlandaskan kesadaran untuk memperbaiki kekeliruan atau ketidakberesan yang ada dalam menyikapi pandemi. Kesadaran yang muncul saat ini akan berbuah pada pencapaian kemerdekaan dari virus Corona; membuat manusia Indonesia kembali bergeliat dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran yang demikian adalah kesadaran yang penuh kecintaan pada Indonesia. Dan cinta ini, sebelum pada perbuatan, sudah muncul sejak dalam pikiran.

Kebangkitan Jiwa-Raga

Bagi orang Jawa, Boedi Oetomo (baca: Budi Utomo) adalah bentuk refleksi dari ketinggian pekerti (akhlak). Kata ‘budi’ menunjukkan kesatuan aktivitas pikir manusia yang memuncak dan kemudian mampu untuk mengontrol akal, sikap, dan perilaku seseorang. Keluhuran budi seseorang akan tampak pada interaksinya dalam masyarakat, yang salah satunya adalah kemampuan seseorang untuk hidup damai berdampingan dengan orang lain.

Dapat dipahami bahwa Boedi Oetomo sangat berkaitan dengan jiwa dan raga manusia Indonesia. Karena itu, semangat kebangkitan nasional harus dipandang juga sebagai kebangkitan jiwa-raga. Isyarat ini sebenarnya juga sudah diabadikan dalam syair lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menyatakan: Bangkitlah jiwanya, bangkitlah badannya untuk Indonesia Raya. Untuk itulah, mengatasi pandemi yang terjadi tidak dapat tidak melibatkan kebangkitan jiwa-raga sebagai kesatuan manusia.

Di situasi pandemi, kita harus tetap menjaga kesehatan mental. Mental ini adalah bagian dari jiwa. Ketidakmampuan menjaga kesehatan mental akan berdampak pada makin terpuruknya kehidupan manusia. Hal ini akan menjauhkan dari kebangkitan kita dari keadaan yang tidak diharapkan ini. Kesehatan mental diperlukan untuk menjaga kewarasan kita dalam menghadapi krisis ini. Kewarasan kita turut menyumbang kesehatan badan berupa terjaganya imunitas tubuh. Dengan kesehatan mental dapat membuat tubuh melakukan aktivitas normal sehari-hari. Jika hal ini dapat dilakukan secara masif sebagai ekspresi persatuan Indonesia, bukan tidak mungkin Indonesia dapat segera lolos dari lubang jarum.

Kebangkitan raga dengan sendirinya terjadi ketika kebangkitan jiwa terlaksana. Namun, dalam arti lain, kebangkitan raga dapat diwujudkan dalam menjaga kesehatan fisik agar orang yang sehat tidak terinfeksi virus dan orang yang sakit tidak menularkan virus kepada orang lain. Orang-orang yang bisa berperilaku seperti itu pada dasarnya adalah orang yang telah mengoptimalkan budinya. Dan setiap manusia Indonesia memiliki potensi tersebut.

Kenyataannya, sampai hari ini perilaku masyarakat masih banyak yang tidak mencerminkan kebangkitan jiwa-raga itu. Indikatornya adalah masih terus meningkatnya jumlah orang terinfeksi virus dari waktu ke waktu. Diperlukan kebangkitan kolektif agar penyebaran infeksi virus segera terhenti. Di sinilah relevan nasihat Pram pada angkatan muda. Ia mengatakan agar kita jangan seperti orang bodoh. Kita pada dasarnya memiliki kepandaian dan cukup keberanian. Artinya, manusia Indonesia sesungguhnya tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pandemi ini. Yang dibutuhkan adalah kemauan dan keberanian untuk berubah. Pram juga mengisyaratkan angkatan muda memiliki keahlian mempersatukan semua angkatan muda. Ini artinya, semua komponen bangsa sebenarnya tahu cara bersatu dan membangun kekompakan untuk mengatasi pandemi. Kepandaian, keberanian, dan keahlian adalah wilayah jiwa. Selain itu, Pram juga berpesan agar angkatan muda terus bergerak sampai tujuan tercapai dengan selamat. Ini adalah pesan kebangkitan raga. Pergerakan mengindikasikan tergeraknya tubuh. Pergerakan ini bertujuan untuk mengakhiri pandemi. Berakhirnya pandemi akan memberi keselamatan rakyat Indonesia untuk kemudian membangun kembali kesejahteraan lahir-batin.

Pram adalah manifestasi dr. Wahidin Soedirohoesodo. Oleh karena itu, pesannya untuk para angkatan muda memiliki nilai magis yang mampu menyadarkan tidak hanya angkatan muda, tetapi semua komponen bangsa. Kesadaran itu adalah untuk membuat Indonesia lepas dari pandemi dan menata kembali kehidupan untuk menjadi bangsa yang sejahtera.

Peringatan 112 tahun kebangkitan nasional harus menunjukkan kebangkitan seratus persen bangsa Indonesia. Kebangkitan kesadaran dan jiwa-raga itulah yang disebut kebangkitan seratus persen. Kebesaran bangsa kita saat ini teruji dari kemampuannya lepas dari cengkeraman tentakel gurita Corona. Karenanya, inilah saat yang tepat seluruh rakyat Indonesia menggelorakan kembali semangat kebangkitan nasional dengan bangkit seratus persen.

(Visited 376 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close