Ditulis oleh 11:44 am KALAM

Indonesia Mendidik Wirausaha Herbal

Oleh: Dr. apt. Kintoko, S.F., M.Sc (Herbalis)

Indonesia adalah negara dengan megadiversitas hayati terbesar kedua di dunia, dengan koleksi sebanyak 30.000 jenis tumbuhan obat. Jika ditambah dengan potensi bahari sebanyak 10.000 jenis biota laut, maka Indonesia adalah satu-satunya negara dengan koleksi diversitas hayati terbesar di dunia. Indonesia juga dikenal memiliki budaya pengobatan tradisional yang sejak lama dilestarikan secara turun temurun sejak abad ke-4 masehi. Tidak kurang dari 1065 etnis di Indonesia memiliki kearifan lokal dalam pengobatan tradisional, dimana dari jumlah tersebut 700 etnis telah dieksplorasi ramuannya dan terkumpul sebanyak 25.000-an ramuan tradisional untuk berbagai penyakit. Selain itu, berdasarkan Kunjungan Kerja DPR RI Komisi IX ke luar negeri menetapkan 4 klaster keunggulan komparatif Indonesia dibanding negara lain, yaitu kuliner, herbal, jasad renik dan farmasi. Potensi hayati dan budaya ini dapat memberikan nilai ekonomi dan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia serta potensi ekspor produk herbal Indonesia ke pasar global sehingga mendatangkan devisa bagi negara.

Nilai ekonomi produk herbal Indonesia berdasarkan omsetnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dengan Metode Kudran Terkecil, diketahui omset produk jamu Indonesia pada tahun 2025 diprediksi tembus sebesar 23 trilyun rupiah. Pasar obat herbal domestik juga menunjukkan perkembangan yang menjanjikan dengan 260 juta penduduknya sebagai market potensial. Sedangkan market size produk herbal berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kemenkes 2013 sebesar 59% dan sebesar 96% yang mengkonsumsi benar-benar merasakan manfaat/khasiatnya. Selain itu, nilai kesehatan yang bisa diandalkan dari produk herbal didasarkan pada kenyataan banyaknya penyakit tidak menular yang mematikan seperti diabetes, hipertensi, obesitas, kanker, jantung, stroke, gagal ginjal dll dapat dicegah dengan penggunaan produk-produk herbal. Potensi pasar ekspor masih terbuka luas, terutama dari biota laut seperti rumput-rumput laut, gamat, spirulina, dll. Mestinya, ini akan menjadikan Indonesia menjadi negara yang mandiri, maju dan sejahtera.

Baca juga: Menristek Bambang Brodjonegoro: Hasil Riset Terapi Convalescent Plasma Untuk Pasien Covid-19 Cukup Melegakan

Akan tetapi, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Meski memiliki kekayaan hayati dan preservative culture, Indonesia tetap dikelompokkan sebagai negara yang sedang berkembang (developing country). Angka kemiskinan dan pengangguran Indonesia terbilang masih tinggi, yaitu masing-masing 25,14 juta dan 7,05 juta pada tahun 2019. Ironis !

Lembaga/organisasi internasional yang terpercaya juga mengeluarkan berbagai parameter untuk mengukur progresifitas pembangunan suatu bangsa. Berdasarkan Human Development Index 2019 yang dikeluarkan oleh PBB, Indonesia menempati posisi ke-111 dari 189 negara. World Economic Forum (WEF) 2019 mencatat daya saing Indonesia turun lima peringkat menjadi 50 dari 141 negara. Berdasarkan Global Innovation Index (GII) 2019, Indonesia menempati peringkat ke-85 dari 129 negara. Di regional ASEAN, peringkat inovasi Indonesia berada di posisi kedua terendah, sedangkan indeks kekayaan intelektual secara internasional tahun 2019 tercatat nomor 44 berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand bahkan masih di bawah Filipina dan Vietnam. Berdasarkan Global Entrepreneurship Development Index tahun 2018, Indonesia nomor 94 dari 137 negara di dunia. Semua data dan fakta tersebut membuktikan ketertinggalan Indonesia yang masih jauh disbanding negara-negara lainnya di dunia.

Kita sudah sering mendengar kalimat “sebuah bangsa bisa maju, jika wirausahanya maju”. Kalimat tersebut bukan hanya SLOGAN belaka, dapat di buktikan dengan negara-negara maju di dunia, diantaranya Amerika Serikat, Singapura dan beberapa negara-negara maju lainnya. Mereka bisa maju karena masyarakat negara tersebut banyak yang berwirausaha. Secara umum, persentase jumlah wirausaha di Indonesia baru 1,65 % dari jumlah penduduk. Persentase tersebut jauh tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia, atau Thailand, yang masing-masing memiliki persentase sebanyak 7 %, 5 % dan 3 %. Sementara negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan memiliki jumlah pengusaha lebih dari 10 % dari jumlah populasi penduduknya. Tantangan Kita !

Secara umum, persentase jumlah wirausaha di Indonesia baru 1,65 % dari jumlah penduduk.

Dalam upaya mendidik masyarakat Indonesia untuk berjiwa wirausaha, dapat dilakukan berbagai program yang dimaksudkan agar mereka berubah mindset dan memiliki mental, spirit serta ketrampilan bisnis praktis. Karakter sebagai seorang wirausaha adalah mereka mampu berpikir kreatif dan inovatif, cepat menciptakan/mengambil peluang dan berani mengambil resiko. Ketiga karakter tersebut dapat dilatih melalui berbagai metode salah satunya adalah “Making Money Without Money”. Agar berani mengambil resiko, maka mereka harus menggunakan otak kanan terlebih dahulu, yaitu otak keberanian, otak kreativitas, otak intuitif, otak irrasional. Sedangkan otak kiri digunakan untuk penyusunan bisnis plan dengan metode Business Model Canvas secara matang yang mencakup 9 elemen, yaitu segmen pasar, keunggulan produk, channel yang digunakan untuk media promosi, cara-cara yang digunakan agar konsumen loyal, sumber-sumber profit, sumber daya yang dimiliki, aktivitas-aktivitas bisnis yang harus dikerjakan, mitra-mitra yang bisa mendukung kesuksesan bisnis, dan besaran modal yang dibutuhkan.

Kewirausahaan di bidang herbal, adalah amat layak dijadikan sebagai model untuk pendidikan kewirausahaan kepada masyarakat. Selain herbal itu sendiri mudah didapat dan menjadi kebutuhan sehari-hari, juga margin profitnya cukup lumayan, berkisar antara 15-60% bergantung jenis klaster produknya. Kewirausahaan herbal mencakup 9 klaster produk, yaitu makanan/minuman kesehatan, olahan pangan, suplemen kesehatan, obat tradisional (jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka), aromaterapi, kosmetik natural, herbal untuk peternakan (veteriner), herbal untuk pertanian (agriculture) dan herbal untuk perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT). Terakhir, herbal (jamu) ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu produk unggulan nasional berpotensi ekspor dan ditetapkannya HARI KEBANGKITAN JAMU INDONESIA, yaitu jatuh pada tanggal 27 Mei. Kurang apa coba??

(Visited 86 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 4 Mei 2020
Close