Indonesia Sangat Khas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Dalam situasi saat ini masyarakat telah menunjukkan kemandiriannya untuk membentengi dirinya dari serbuan Covid-19.

Oleh: Prof. Dr. Chairil Anwar, M.Sc

Dunia terguncang keras. Tokoh yang mengguncang ternyata makhluk superkecil bernama virus korona baru 19 yang menjelma menjai covid-19, hampir memberantakkan banyak negara tak terkecuali yang pernah disebut negara super seperti Amerika Serikat. Hingga Minggu (29/3/2020) sore, jumlah kasus infeksi Covid-19 yang telah dilaporkan di seluruh dunia adalah sebanyak 669.312 kasus dengan 145.609 pasien sembuh dan 31.700 meninggal dunia. Wabah ini telah dilaporkan di lebih dari 170 negara di dunia.  Jumlah kasus total terbanyak sejauh ini dilaporkan di AS, yaitu sebanyak 124.686 kasus, disusul Italia, yaitu sebanyak 92.472 kasus. Jumlah kasus kematian di AS dan Italia juga cukup tinggi, yaitu berturut-turut sebanyak 2.191 dan 31.700. Bahkan kasus kematian di Italia menjadi yang terbanyak di seluruh dunia melebihi tempat asal covid.  Di Cina, jumlah kasusnya sejauh ini sebanyak 82.061 dengan 75.576 pasien dinyatakan sembuh  dan 3.304 kasus kematian. Setelah Cina, kasus terbanyak dilaporkan di Spanyol, yaitu 73.325 kasus dan  Jerman dengan 58.247 kasus. Berdasar data dari John Hopkins University, berikut adalah persentase kematian tertinggi dari lima negara yang terjangkit  covid-19: Italia: 10,8 persen ,Indonesia: 8,9 persen,  Irak : 8,3 persen, Spanyol: 8,2 persen dan Iran: 7,1 persen.  Prosen kematian terendah adalah Israel: 0,3 persen.  

Untuk Indonesia per minggu 29 Maret 2020 ada 1,285 dengan130 kasus baru, yang dirawat 1,107, yang meninggal 114, dan yang dinyatakan sembuh 64 orang. Sedangkan per propensi besar di Jawa : DKI Jakarta 675, Jawa Barat 149, Banten 106,  dan Jawa Timur 90. Untuk DIY ada 22 kasus.

Walaupun pernyataan awal adanya kasus covid 19 baru diumumkan Presiden tanggal 2 Maret 2020, data awal tentang adanya 115 ODP warga DKI sudah lebih dulu diumumkan oleh Gubernur DKI. Saat ini belum ada sebulan sejak proklamasi serangan covid 19 ke Indonesia, Indonesia bergetar. Dampak yang ditimbulkan sangat luas. Mulailah ada seruan mari bersatu melawan covid 19.  Masih terjadi kontroversi apakah negara perlu dikarantina atau lockdown. Secara parsial masyarakat mulai bereaksi dengan menutup kawasan di wilayahnya secara swakarsa.

Dalam situasi demikian masyarakat telah menunjukkan kemandiriannya untuk membentengi dirinya dari serbuan covid 19. Masyarakat kemudian dapat menilai tentang pentingnya makna kepemimpinan. Siapakah sebenarnya yang perlu memandu dan mengarahkan rakyat dengan benar agar jumlah korban seminimal mungkin dan secepatnya kita keluar dari krisis yang diakibatkan covid 19. Cina butuh waktu sekitar 4 bulan sejak virus corona baru mulai diketahui mewabah di Wuhan sejak pertengahan Desember 2019 dan kemudian mereda di pertengahan Maret 2020.

Dengan berkaca dari keberhasilan Cina dalam menangani Covid 19, apakah di bulan Juni wabah covid 19 di negara kita juga akan mereda ? Karena virus corona tidak tahan pada temperatur tropis di sekitar 28-30 derajad selsius, semoga cuaca kemarau dapat membantu untuk meredakan. Namun demikian dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh covid 19 sangat luar biasa. Saat ini masyarkat sudah memulai secara mandiri. Diawali dengan penyediaan perangkat cuci tangan dengan air dan sabun, maupun hand sanitizer (HS), penggalangan dana untuk membantu rakyat miskin yang terdampak, bahkan juga membantu tenaga kesehatan kita dalam pengadaan alat pelindung diri (APD). Memang inilah kekhasan masyarakat Indonesia. Semoga kita terlindung dari wabah covid 19 melalui kebersamaan yang kita bangun.

Penulis: Guru Besar FMIPA, UGM/Yayasan Abdurrahman Baswedan, Yogyakarta

Redaksi arbaswedan.id

Redaksi arbaswedan.id