Ini Point-point Penting Diskusi Melalui Zoom KAHMI DIY

Di tengah melambatnya kehidupan ekonomi yang dialami semua pihak, kita tetap perlu menggelorakan semangat dan optimisme agar hari esok kehidupan bisa tetap lebih baik.

KAHMI DIY melaksanakan diskusi online melalui aplikasi Zoom dengan tema Mengelola Penyaluran Bantuan, Kamis lalu. Berbagai tokoh, baik akademisi, praktisi hingga pemerintahan menjadi narasumber diskusi ini, antara lain Prof. Dr. Irfan Prijambodo (Kepala LPM UGM), Prof. Dr. Ali Agus (Ketua HKTI DIY), Dr. Sukamdi (Pakar Kemiskinan Geografi UGM), Sri Peny Alifia Habiba (Pegiat Literasi, akan membacakan puisi corona), Dr. Ahmad Akbar Susamto (Kahmi FE UGM), Heru Purwadi (Wawali Kota Yogya), Dr. Siti Murtiyani (Ketua STIE Hamfara), Dr. Khamim Zarkasih (Korpres MW KAHMI DIY) dan Syaukani Bowo Leksono (Ketua HKTI Kota Yogya), dengan moderator Wasingatu Zakiyah, MA.

Yona Wahyudi Koordinator diskusi tersebut, menyampaikan point-point penting yang didiskusikan.

Era Covid-19 memerlukan crisis leadership, atau crisis management, yang kuat agar ada kepastian kebijakan sehingga ada estimasi biaya yang ditimbulkan atas kebijakan yang muncul. Jika kebijakan serba tidak pasti, maka biaya yang muncul justru akan berlipat.

Dari sisi umat beragama, khususnya umat Islam, mengalami dekonstruksi ritual (hablum minallah), dengan melonggarnya pelaksanaan sholat Jum’at dan sholat fardlu. Oleh karena itu, melonggarnya pelaksanaan ibadah ritual ini perlu diiringi dengan peningkatan ibadah sosial, dengan cara membangun solidaritas sosial, simpati dan empati yang lebih baik terhadap pihak-pihak yang mengalami kesulitan hidup akibat karantina.

Terkait PHK besar-besaran yang dialami dalam bidang ketenagakerjaan, mulai terpantau menyulut meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kepala Rumah Tangga yang mengalami PHK, otomotais macet sumber ekonominya, mudah memicu konflik antara ayah, dengan ibu dan anak dalam lingkungan rumah tangga.

Point selanjutnya mengenai realokasi APBN maupun APBD, yang diprioritaskan untuk penanganan Covid-19 menjadi sebuah keniscayaan yang perlu didukung. Khususnya dukungan dari kelompok-kelompok yang mengalami pemutusan kontrak kerja (kehilangan proyek).

Era karantina tidak perlu melahirkan pasifisme berlebihan. Melalui teknologi zoom, dengan segala kekurangan di dalamnya, silaturahmi dan diseminasi ide di ruang sosial bisa terbantu. Upaya mengatasi kebuntuan yang terlahir dari physical dan social distancing bisa disiasati dengan fasilitas.

Drs. Heroe Poerwadi, MA Wakil Walikota dalam diskusi melalui aplikasi Zoom, KAHMI DIY

Industri yang mengalami booming era karantina ini antara lain: alat pelindung diri, masker, sanitizer, dan kuliner. Sedangkan sektor yang mengalami pukulan berat antara lain adalah transportasi, perhotelan dan wisata.

Menurut Wahyudi, dalam diskusi juga disoroti mengenai negara sosialis (Tiongkok) yang mengalami kemudahan dalam pelaksanaan lockdown karena kontrol negara berfungsi efektif sehingga jumlah kurban bisa segara ditekan. Sebaliknya, negara liberal mengalami kesulitan dalam menjalankan kebijakan lockdown karena karena kontrol negara atas kehidupan masyarakat sangat terbatas. Oleh karena itu, wajar jika korban meninggal karena corona ada di Amerika, Spanyol, Itali dan Inggris lebih besar. Korea Selatan menempuh jalan sendiri dalam penanggulangan corona melalui rapid test.

Energi bangsa ini cukup terkuras dalam penerapan kebijakan jarak sosial yang aman. Terjadi politisasi berlebihan sehingga istilah lockdown disematkan kepada ‘oposisi’ Anies Baswedan dan kelompoknya. Sementara istilah karantina wilayah dan PSBB disematkan kepada penguasa. Politisasi yang tidak perlu ini menguras cukup besar energi bangsa.

Prof. Dr. Irfan Priyambodo, Kepala LPM UGM, dan Guru Besar Fak Pertanian saat menyampaikan pandangannya dalam diskusi.

Karitas, solidaritas, dan empati juga muncul dari kalangan selebriti melalui adanya: konser gratis, treatmen fitnes atau olahraga di rumah gratis, tips menu gratis, dan sejenisnya.

Era karantina, atau era menyebarnya virus corona, telah memaksa banyak pihak untuk mengubah kebenaran politik menjadi kebenaran saintifik. Berpikir secara mendalam, melepas sekat-sekat kelompok, menuju pemikiran kontemplatif, dalam rangka mencari solusi: teratasinya kurban korona, serta terhentinya persebaran virus. Serta tertolongnya kesulitan ekonomi yang dihadapi kelompok lemah.

Banyak keluhan atas tidak terbendungnya informasi, khususnya melalui medsos, sehingga membuat era sulit ini semakin rumit dan berat oleh simpang siur informasi yang menyesatkan.

Dilepasnya puluhan ribu narapidana sangat perlu diwaspadai. Baik dalam konteks terciptanya kerentanan dan konflik sosial akibat meningkatnya tindak kriminal, maupun dalam konteks kemungkinan akan menuju darurat sipil.

Di tengah melambatnya kehidupan ekonomi yang dialami semua pihak, kita tetap perlu menggelorakan semangat dan optimisme agar hari esok kehidupan bisa tetap lebih baik.

(Visited 46 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020