Interaksi Sosial: Faktor Pelindung Terkuat Atasi Depresi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Faktor yang paling kuat adalah berbicara dengan orang lain, mendatangi sanak saudara serta teman-teman.

Depresi sering kali menjadi salah satu kendala bagi banyak orang, baik remaja maupun dewasa. Dalam sebuah studi yang dipublikasi di The American Journal of Psychiatry, para peneliti dari Massachusetts General Hospital (MGH) telah mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat mencegah depresi.

Mereka mengatakan bahwa interaksi sosial merupakan faktor pencegah terkuat. Serta menyarankan pengurangan aktivitas seperti menonton TV atau tidur pada siang hari guna membantu mengurangi resiko terkena depresi.

Menurut Karmel Choi, PhD, peneliti di Departemen Psikiatri dan Harvard T.H. Chan School of Public Health, depresi merupakan penyebab utama dari disabilitas di seluruh dunia. Hingga kini peneliti hanya fokus pada segelintir faktor dari resiko serta perlindungannya, tambahnya. Studi baru yang dilakukan para peneliti ini memberikan gambaran paling komprehensif tentang faktor-faktor yang dapat dimodifikasi yang dapat memengaruhi risiko depresi.

Untuk studi, peneliti mengambil dua tahap pendekatan. Tahap pertama menggunakan database lebih dari 100.000 peserta di Biobank Inggris untuk secara sistematis memindai berbagai faktor yang dapat dimodifikasi yang mungkin terkait dengan risiko pengembangan depresi. Termasuk interaksi sosial, penggunaan media, pola tidur, diet, aktivitas fisik, dan paparan lingkungan.

Metode ini, yang dikenal sebagai exposure-wide association scan (ExWAS), analog dengan studi asosiasi luas genom (GWAS) yang telah banyak digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko penyakit genetik.

Tahap kedua adalah mengambil kandidat terkuat yang dapat dimodifikasi dari ExWAS dan menerapkan teknik yang disebut Mendelian randomization (MR) untuk menyelidiki faktor mana yang mungkin memiliki hubungan kausal dengan risiko depresi. MR adalah metode statistik yang memperlakukan variasi genetik antar orang-orang sebagai semacam eksperimen alami untuk menentukan apakah suatu hubungan cenderung mencerminkan sebab-akibat daripada hanya korelasi.

Pendekatan dua tahap ini memungkinkan peneliti MGH untuk mempersempit wilayah dan memfokuskan pada kumpulan kecil target kausal yang berpotensi dan lebih menjanjikan untuk depresi. Peneliti berpendapat bahwa faktor yang paling kuat adalah berbicara dengan orang lain, mendatangi sanak saudara serta teman-teman, yang dimana keseluruhan hal ini menggarisbawahi pentingnya efek perlindungan dari interaksi sosial dan kohesi sosial.

Peneliti juga menganggap bahwa faktor ini menjadi lebih relevan sekarang dimana sedang terdapat pembatasan sosial yang memisahkan antara keluarga serta teman-teman. Efek perlindungan dari interaksi sosial ada bahkan untuk individu yang berada di risiko yang lebih tinggi untuk depresi sebagai akibat dari kerentanan genetik atau awal masa trauma.

Di sisi lain, faktor yang terkait dengan risiko depresi termasuk waktu yang dihabiskan untuk menonton TV. Meskipun penulis mencatat bahwa penelitian tambahan diperlukan untuk menentukan apakah risiko itu disebabkan oleh paparan media. Atau apakah waktu di depan TV adalah proksi untuk menetap. Mungkin yang lebih mengejutkan adalah kecenderungan tidur pada siang hari dan penggunaan multivitamin secara teratur tampaknya terkait dengan risiko depresi. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan bagaimana hal ini dapat berkontribusi.

Studi MGH menunjukkan pendekatan baru yang penting untuk mengevaluasi berbagai faktor yang dapat dimodifikasi, dan menggunakan bukti ini untuk memprioritaskan target untuk intervensi pencegahan depresi. Peneliti mengatakan bahwa depresi sangat merugikan individu, keluarga, dan masyarakat, namun hingga kini masih sangat sedikit cara yang diketahui untuk mencegahnya.

Studi tersebut menunjukkan bahwa sekarang telah dimungkinkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang signifikansi kesehatan masyarakat yang luas ini melalui pendekatan berbasis data berskala besar yang tidak tersedia beberapa tahun yang lalu.

Harapan para peneliti adalah pekerjaan mereka ini memotivasi upaya lebih lanjut untuk mengembangkan tindakan yang dapat ditindaklanjuti serta membuat strategi untuk mencegah depresi. Pendekatan dua tahap studi juga dapat digunakan untuk menginformasikan pencegahan masalah kesehatan lainnya. (Disadur dari situs sciencedaily)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti