Ditulis oleh 9:44 am KALAM

IQRA’: “Perintah” untuk Produktif di Bulan Ramadhan

Betapa membaca sebagai perintah yang turun di bulan mulia, harus “disahuti” dengan membaca dan berkarya.

Oleh: Muhammad Shaleh Assingkily, S.Pd., M.Pd.

Iqra’ artinya bacalah. Dalam konteks ini, bermakna luas, meliputi semesta dan isinya. Tampak dan tidak tampak. Jauh dan dekat, bahkan setiap yang diciptakan-Nya adalah “bacaan”. Membaca tidak punya “durasi” kecuali waktu berhenti berupa “ajal”. Setiap orang diberi waktu relatif panjang, sesuai “perjanjian dengan Tuhan”.

Perintah membaca sungguh sarat akan makna. Sebab, ketenangan akan hadir seiring “membaca”. Pemandangan senja, warna-warni pelangi, pegunungan dan bukit, serta ombak lautan dan desir angin pantai menjadi bagian-bagian menyenangkan dari kegiatan “membaca” semesta. Ini menunjukkan semesta “siap sedia” untuk dibaca. Pertanyaannya, bukan seputar seberapa mampu Anda membaca itu semua. Melainkan, seberapa mau Anda membaca semesta.

Ali Syariati mencerahkan lewat untaian kalimat yang dituliskannya, “Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah/madrasah, dan setiap waktu adalah belajar”. Ungkapan ini menegaskan, betapa “membaca” bisa hadir dari segala lini dan aspek kehidupan. Setiap orang yang ditemui, tentu Tuhan punya maksud mengapa kita dipertemukan dengannya? Bisa jadi ia adalah persinggahan cerita singkat dalam cuplikan kisah hidup, atau mungkin menjadi orang yang mengajarkan kita untuk bersikap baik dan santun, bahkan tidak menutup kemungkinan bertemu dengannya adalah “perantara” ujian untuk sabar dan bekerja keras, serta tidak mengenal sikap menyerah dan berpasrah. Apalagi harus galau. Ah sudahlah, hidup sekali mari nikmati dengan membaca.

Setiap tempat yang dilalui, tentu tidak dilintasi “sia-sia”. Apakah kamu mengira bahwa Tuhan menciptakan sesuatu begitu saja? (Lihat QS. Al-Qiyamah: 36), bukankah sesuatu diciptakan Tuhan tanpa sia-sia, semua punya makna (Lihat QS. Ali Imran: 191). Betapa semesta menjadi “ruang belajar”, “ruang membaca tanpa jendela”, tiada “pagar” melainkan dinding semesta terbuka setiap masa, untuk umat manusia bebas dan merdeka membaca.

Perintah iqra’ atau membaca, tepat di bulan suci nan mulia, Ramadhan. Ini mengisyaratkan umat manusia, khususnya umat Islam, untuk giat “membaca semesta”. Kualitas dan kuantitas dari kegiatan membaca, diukur melalui karya (atau dalam al-Qur’an, karya diistilahkan dengan ‘amal shaleh). Karya yang dibuat, selanjutnya diukur dari kebermanfaatannya. Bukankah Islam menghendaki manusia untuk memupuk kesalehan sosial, bukan sekadar kesalehan individu semata?  Sebab itu, kebermanfaatan menjadi tolak ukur pentingnya suatu karya. Alhasil, karya dan kebermanfaatan yang termuat di dalamnya, akan diukur dengan kemurnian niat (dikenal dengan istilah Ikhlas).

Keikhlasan akan hadir sebagai penyejuk di tengah oasis umat yang mengharap “puji sesama manusia”. Sebab, berkarya melalui kegiatan membaca, tidak serta-merta dihitung berapa jumlahnya, melainkah kualitas “berkah dan bermanfaat” yang hadir dari keikhlasan sang pembuat karya.

Momentum Ramadhan kembali ingatkan insan. Betapa membaca sebagai perintah yang turun di bulan mulia, harus “disahuti” dengan membaca dan berkarya. Sudah berapa kali Anda khatam al-Qur’an? bagaimana pula kualitas membaca Anda di bulan mulia? Sudah timbulkah kepekaan sosial Anda terhadap sesama umat manusia? Seberapa besar Anda menghargai diri pribadi dan orang lain? Masih adakah terbesit kesombongan di benak Anda? Karya apa yang hendak Anda tuliskan, kerjakan, dan ciptakan di bulan mulia? Lantas, mengkerucut ke arah tanya, dari “membaca”, bekal apa yang Anda persiapkan bertemu Sang Pencipta?

Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh tidak perlu dijawab lisan oleh pembaca. Selain karena penulis tidak sediakan kolom komentar, ada baiknya mari bertanya pada diri, menjawab tanya di dalam hati, memantapkannya dalam tindakan dan karya nyata. Khusus para pemuda, masih beranikah Anda rebahan dan bermalas-malasan dengan alasan puasa? Bukankah bangsa ini merdeka (Indonesia) jua di bulan mulia? Untuk itu, menjadi keniscayaan untuk terus membaca dan berkarya. Sebab, Ramadhan kareem waktu mula diturunkan perintah membaca. Iqra’: “Perintah” untuk produktif, baik di bulan Ramadhan, maupun bulan-bulan lainnya. Wallahu a’lam.

Salam Pandjang Oemoer Pendidikan!

Penulis: Dosen UIN Sumatera Utara Medan/Dosen STIT Al Ittihadiyah Labuhanbatu Utara

(Visited 145 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 30 April 2020
Close