Ditulis oleh 9:55 am COVID-19

Ironi Negeri 1000 Mimpi, Perjuangan Mandiri Tanpa Kehadiran “Ummi” Di Tengah Pandemi

Isu herdimunity diambil dengan kebijakan PSBB, belum sebulan berjalan dan tidak tampak hasil yang nyata dikembalikan keadaan semula dengan berbagai pelonggaran dan pembiaran kelompok-kelompok tertentu memanfaatkan kesempatan untuk meraup keuntungan harta semata.

Lima bulan berlalu sejak pertama kali diumumkan adanya penyebaran virus corona pada akhir 2019 di Wuhan China. Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) kini telah menyebar ke seluruh dunia dan menyebabkan banyak korban meninggal dan kerugian material. Covid-19 telah memberikan dampak yang luar biasa bagi penghuni bumi jagat dunia. Dimulai pasien yang tak tertangani dikarenakan tempat yang terbatas, serta Kematian yang mengganas di beberapa negeri hingga otoritas kualahan dalam menagani.

Perekonomian negeri-negeri dunia macet, stagnan, dan merosot tajam menyebabkan terjadinya inflasi karena tidak berjalannya proses produksi. Pabrik-pabrik tutup karena pekerja harus dipulangkan dan berdiam di rumah untuk menjaga kesehatan diri. Dunia lumpuh tidak terkecuali negara adidaya sombong nan congkak Amerika dan sekutunya, serta China yang masih terus bermeditasi, entah sampe kapan ini akan terjadi, tiada yang mampu memberi jawaban pasti.

Kebijakan Negeri 1000 Mimpi

Indonesia negeri kaya raya zamrud katulistiwa, masih relevankah slogan itu disematkan padanya? Negeri yang subur makmur berlimpah kekayaan alam di atas bumi beserta isi perutnya. “Nikmat mana yang engkau dustakan?” Pertanyaan Allah dalam firmannya terus membutuhkan jawaban akan kondisi umat di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Sejauh mata memandang warna hijau berkilaun, sejauh mata memandang hamparan lautan yang penuh harta dan intan mutiara dan berlian. Namun, seolah tak terjangkau tangan untuk menggapainya, rakyat tidak dapat menikmatinya seolah semua hanya fatamorgana.

Covid-19 hadir disaat mimpi buruk kepemimpinan negeri ini. Rindu Engkau wahai Abu Bakar yang tegas pada pelanggar syariah agar tidak lagi ada pelecehan pada agama. Rindu engkau wahai Umar bin Khottob agar kemiskinan dari orang-orang yang tidak mampu walau untuk makan segera sirna, Rindu engkau wahai Umar bin Abdul Aziz yang dengan pengelolaan negaramu rakyat sejahtera. Kepemimpinan dalam Islam yang telah merasuk dan menancap dalam pikiran umat tiada yang sanggup menghapus sejarahnya. Apa yang salah dengan negeri ini? Kenapa sumber daya yang berlimpah tidak memberikan kenikmatan bagi kami yang lahir dan tinggal di negeri ini? Minyak berlimpah, harga merosot jatuhpun kita tidak dapat menikmati. Kini wabah menyerang negeri kitapun harus berjuang sendiri.

Pemerintah sebagai pengelola urusan rakyat sangat dinantikan kebijakannya agar memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa. Sebaliknya yang terjadi, dari awal kemunculannya, jauh panggang dari api kebijakan pemerintah seolah menunjukkan ketidakkonsistenan dan semakin menunjukkan gelagat berlepas tangan. Dimulai dari para elit kekuasaan yang menjadikan Covid-19 bahan bercandaan dan lontaran-lontaran kalimat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terus menyebar dengan penuh keangkuhan dan meyepelekan diawal kemunculannya.

Terkesan lambat bersikap, lambat berbuat, dan lambat bergerak untuk menyelesaikannya. Sebaliknya makin lempar tanggung jawab dan mengalihkan kewajiban pada pemerintah daerah dan menyalahkan rakyat kecil yang tidak taat pada mereka. Kini kebijakan mu semakin rumit untuk dicerna akal. Isu herdimunity diambil dengan kebijakan PSBB, belum sebulan berjalan dan tidak tampak hasil yang nyata dikembalikan keadaan semula dengan berbagai pelonggaran dan pembiaran kelompok-kelompok tertentu memanfaatkan kesempatan untuk meraup keuntungan harta semata. Dermaga tidak boleh ditutup dari awalnya, kini bandara internasional pun telah dibuka. Apa tujuannya? Tentu agar mereka mudah musuk dan leluasa. Mall-mall dan pusat perbelanjaan mulai hidup dan rame padat manusia. Namun sebaliknya, rakyat kecil tetap sulit untuk berusaha, karena pelanggaran PSBB terus menjadi dasar dan alasan untuk menghentikan gerak mereka.

Masjid ditutup, dipersulit mengadakan kegiatan agama, dibully menjadi biang penyebaran, hingga ulama’ ditangkap karena dianggap melakukan pelanggaran atas kebijakan mereka. Namun ironinya, mereka para elit penguasa atas nama penggalangan dana, berkumpul bergembira dan tertawa didepan kamera mengadakan konser ditengah bulan suci ramadhan yang penuh luka. Empat milyar mereka kumpulkan, bersyukur tetap kami lakukan, namun pertanyaan kami, berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk melanggar peraturan?

Jika ada pengusaha kosmetik yang telah menyumbangkan hartanya dengan 40 M tanpa kumpul-kumpul dan melakukan pelanggaran, ketika ada muallaf yang menjual hartanya untuk disumbangkan dalam penangan Covid-19, bolehkah kami bertanya pada masing-masing mereka, sudah berapa banyak yang terkumpul dari dana para elit menyisihkan gajinya untuk wabah yang melanda?

Perjuangan Menghadapi Pandemi

Semua sudah jelas, meski dengan isyarat lirih dan basa-basi, semua bisa memahami bahwasannya rakyat diminta untuk berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan dilarang untuk menunggu-nunggu bantuan pemerintah lagi karena akan makin membebani.

Ketika harga minyak dunia turun drastis penguasa sebagai pengelola BUMN juga menghimbau pada rakyat untuk menerima dengan ikhlas agar hati lapang dan tidak mudah sakit hati. Sambil penguasa terus mengharap kepercayaan rakyat bahwa mereka sungguh-sungguh bekerja tidak perlu dipertanyakan semua untuk kepentingan dan akan menguntungkan siapa dan pihak mana, yang pasti mereka telah bekerja.

Penguasa adalah representasi negara, ibu (ummi) bagi rakyatnya. Layaknya ibu bagi anaknya ia akan memenuhi kebutuhan hidup mereka dan memberikan yang terbaik bagi anaknya. Jangankan bantuan pemenuhan kebutuhan rakyat secara cuma-cuma, sekedar panduan menghadapi Covid-19 pun menjadi barang yang mahal harganya. Pemerintah berubah-ubah dalam membuat keputusan penanganan Covid-19 yang berdampak pada kebingungan rakyat dalam menghadapi, menghindari dan mencegahnya. Tak ayal lagi, masyarakat yang tidak sadar akan bahaya wabah menganggap sepele dan bebas melakukan yang mereka inginkan maka kerugian akan menimpa semua. Lantas siapa yang bertanggungjawab semua? Lantas bagaimana nasib para dokter dan tenaga medis lainnya?. Cukup dengan janji manis kenaikan gaji jika pergi menghadap ilahi, akan diganti dengan materi. Sungguh semakin menyakitkan hati.

Namun, jangan berkecil hati, terus berusaha menjaga diri dengan mengikuti syariah lagi. Diam di rumah adalah sunnah nabi, agar kita selamat dengan ijin Allah nanti. Tolong sesama selagi bisa, karena itu akan menjadi amal shalih kita sebagai saksi di hari nantinya dimana mulut terkunci tidak bisa ditanya. Perjuangan ini sekaligus akan menjadi saksi di hadapan ilahi robby, atas kualitas pengelolaan urusan pemimpin kami para rakyat kecil ini.

Do’a dan cinta kami untuk ummi yang telah melahirkan kami

Isu pelonggaran PSBB bukan ilusi, seolah wabah telah pergi semua boleh berbelanja untuk keinginan di hari raya idul fitri. Tapi syaratnya harus di mall dan supermarket yang indah dan wangi. Sedangkan yang tidak punya toko bagus dan berlampu warna warni dilarang beroperasi. Satu persatu kebijakan yang dikeluarkan di masa pandemik justru melukai hati. Sakit atau Mati bagi yang terjangkiti toh jumlah rakyat yang hidup dan selamat lebih banyak dari yang terkontaminasi, itu kata elit negeri ini. Gotong royong simbul kebersamaan sangat jitu untuk mengobati. Saat beban biaya negara besar mereka siap cabut subsidi tapi saat wabah mereka ogah potoh gaji. Tak ayal kondisi ini tak ngaruh didapur dan kantong doi. Gaji lancar jaya mesti dari utang sana sini nanti juga yang membayar rakyat lagi. Jadi tetap mereka tetap happy.

Kami bersimpuh dan berdo’a kepadaMU ya robbi, selamatkan kami dan kaum muslimin lain dari wabah ini. Jagalah kami agar tetap dapat berjuang demi menggapai keridhaan ilahi, yang akan membawa semua pada kemenangan hakiki, terlaksananya syariahMU di bumi ini untuk melanjutkan kehidupan Islam dan kejayaan muslimin nanti.. dan untuk membuktikan bahwa Engkau ya Robby yang hanya layak untuk dipuji dan ditaati.

Nastaghfirullahal ‘adziim, Wallahu a’lam bishowab.

(Visited 99 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 27 Mei 2020
Close