Ditulis oleh 4:14 pm KABAR

Islam Di Jepang

Banyak masjid didirikan di Jepang, bahkan di beberapa tempat: di pusat pertokoan, di stasiun dan di airport tersedia fasilitas tempat untuk sholat.

Islam masuk ke Jepang kira-kira pada awal tahun 1920, dibawa oleh para imigran Turki dari Rusia saat terjadi revolusi bolshevic pada tahun 1917. Ketika itu jumlah Ummat Islam di Jepang masih sedikit, baru berjumlah sekitra seratusan orang.

Pada tahun 1980 an Ummat Islam di Jepang bertambah dengan adanyaa ribuan imigran dari Iran, Bangladesh dan Pakistan. Hingga sekarang jumlah Ummat Islam di Jepang sudah mencapai dua ratus ribu orang lebih.

Pada bulan Juli 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi Jepang. Sambil mengisi waktu luang, maka saya sempatkan keliling kota Tokyo untuk melihat dan mengenal lebih dekat perkembangan Islam di Jepang, Tokyo khususnya.

Selama di Jepang, saya ditemani oleh salah satu pengurus PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Jepang dan seorang pengurus salah satu masjid di Tokyo yang orang Indonesia asli Padang, sekaligus dia sebagai guide saya.

Sepintas kehidupan masyarakat di Jepang sudah nampak sudah Islami. Artinya nilai-nilai Islam sudah banyak diterapkan dalam interaksi dan pola hidup masayarakat Jepang sehari-hari. Lingkungan yang bersih, tertata, Etos kerja yang tinggi, komit terhadap janji-janji, jujur dalam bermu’amalah dst banyak kita jumpai dalam kehidupan masyarakat Jepang sehar-hari.

Misal dalam membeli makanan, pedagang makanan di Jepang akan dengan serta merta mengingatkan bahwa makanan yang dia jual mengandung zat-zat yang haram, jika mereka mengetahui bahwa kita seorang Muslim.

Kebanyakan orang Jepang sebetulnya adalah atheis, meski agama resmi Negara adalah Shinto. Menurut teman saya yang sudah bertahun-tahun disana, orang Jepang terlahir beragama Shinto, kalau kawin memakai tata cara Kristen, tapi kalau sudah meninggal mereka memakai tata cara budha (mayat mereka dikremasi dan di buang ke laut), hanya disisakan sedikit untuk dikubur didekat rumah;

Dalam hal agama orang Jepang sangat toleran dan sangat menghormati ummat beragama lain. Banyak masjid didirikan di Jepang, bahkan de beberapa tempat: di pusat pertokoan, di stasiun dan di airport tersedia fasilitas tempat untuk sholat. Di tempat2 ini banyak orang-orang kebanayakan dari Indonesia yang lagi ibadah sholat. Umumnya mereka mahasiwa dan karyawan yang lagi magang di perusahaan-perusahaan Jepang;

Selama di Tokyo saya sempat mengunjungi beberapa masjid dan musholla dan beberapa restaurant yang menjual makanan halal:

Masjid Tokyo Camii Shibuya

Masjid ini berada di Pusat kota Tokyo, dibangun oleh masyarakat Muslim dari Turki. Bangunan arsitekturnya sangat megah dan indah, mirip dengan masjid biru di Turki. Menurut teman saya, pembangunan masjid ini didukung penuh oleh pemeritah Jepang, dan juga beberapa perusahaan swasta terutama Mitsubishi.

Saat saya kesana untuk melaksanakan sholat, banyak masyarakat Jepang kebanyakan ibi-ibu yang berumur setengah baya berkunjung ke sini.

Awalnya saya mengira mereka muslimah Jepang yang mau melakukan sholat. Perkiraan saya ternyata keliru, mereka hanya melihat-lihat bangunan dalam ruangan masjid dan juga melihat-lihat orang yang sedang sholat.

Ketika masuk masjid, mereka mengenakan mukena yang sudah disiapkan di depan pintu masuk. Memang masjid ini dibuka seluas-luasnya bagi masyarakat umum yang mau berkunjung, baik itu Muslim maupun non muslim.

Gambar 1. Masjid Camii tampak depan

Di masjid ini saya sempat menemui pengurus masjid, kalau di Indonesia marbot atau pengurus Takmir. Mereka berasal dari Syria dan Turki. Ketika tau bahwa saya Indonesia mereka senang sekali dan mempersilahkan kami untuk masuk ke ruangan-ruangan yang ada. Ada ruang perpustakaan, ada kantin, ruang musyawarah dan ruang untuk marbot masjid.

Banyak orang Indonesia berkunjung di sini untuk melaksanakan sholat lima waktu, lebih-lebih pada hari jum’at. Mahasiswa Indonesia senang jum’atan di sini, disamping masjidnya bagus, juga disediakan makan gratis tiap habis jum’atan.

Orang Indonesia sangat dikenal, bahasa petunjuk di masjid pun memakai bahasa Indonesia disamping Jepang dan Inggris.

Masjid Indonesia Tokyo

Disamping Masjid Tokyo Camii, ada juga Masjid yang dibuat oleh Pemeerintah Indonesia di Tokyo. Terletak di kompek SRIT (Skolah Republik Indonesia Tokyo), dan deket dengan komplek perumahan elite di Tokyo.

Dibanding Masjid Camii, masjid ini jauh lebih sederhana, meskipun begitu masjid ini tampak bersih dan rapi. Dibangun dengan memanfaatkan ruang kosong disamping aula sekolah, masjid ini berbentuk memanjang seperti lorong. Ruangan tampak bersih. Berlantai tiga dan bisa menampung sekitar 300 jama’ah.

Masjid ini selalu ramai, kalau pagi biasa dimanfaatkan belajar agama bagi anak-anak Indonesia yang sekolah di SRIT, dari tingkat SD sampai SMA.

Gambar 2. Masjid Indonesia Tokyo di kompleks SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo)

Pada hari jum’at banyak orang-orang KBRI dan warga serta mahasiswa Indonesia jum’atan di sini. Sehabis jum’at biasanya dilanjutkan makan siang bersama di aula sekolahan, dengan menu khas Indonesia tentunya, yang dimasak oleh ibu-ibu warga Indonesia yang tinggal di Tokyo. Hanya di sini makan tidak gratis, kita harus bayar 1000 yen/porsi, atau sekitar Rp 120.000,-/orang.

Pada waktu saya jum’atan di sini, keadaan lebih ramai dari biasanya. Kebetulan pada waktu itu ada acara dialog terbuka dengan thema Pendidikan dan Muka Jakarta ke depan. Acara ini diinisiatori oleh para pengurus PPI di Tokyo, dan dihadiri oleh Gubernur DKI terpilih Anies Baswedan dan mantan ketua KPK Bambang Wijayanto.

Musholla Di Tokyo Stasiun

Musholla ini sangat kecil, ukuran 2.5mx2.5m, ruangan sekecil ini masih harus dibagi dengan tempat untuk wudlu, almari untuk tempat barang-barang dan equipment lainnya. Musholla ini hanya cukup untuk sholat berempat. Terletak di Tokyo Stasiun, salah satu stasiun terbesar di kota Tokyo. Stasiun ini menghadap langsung ke Istana Kekaisaran Jepang.

Gambar 3. Tempat sholat di Tokyo Staion

Meski kecil, tapi sangat bersih dan representative. Dilengkapi dengan karpet warna hijau dengan kwalitas super dan jarum penunjuk arah kiblat.

Untuk menggunakan mushola ini kita tidak serta merta bisa masuk begitu saja. Kita harus meminta ijin terlebih dahulu ke seseorang yang ada di ruang control. Caranya dengan menekan tombol kecil yang ada microponnya didepan pintu.

Setelah kita pencet tombol maka akan terdengar suara dari kejauhan dengan bahasa Jepang atau Inggris, yang menanyakan: apakah kita akan memakai ruangan?. Kalau kita jawab “ya” maka otomatis kunci akan terlepas, dan pintu bisa kita buka.

Makanan Halal

Di Negara sekuler seperti Jepang, sangat sulit menjumpai makanan yang tidak mengandung babi atau zat yang lain yang tidak halal. Namun begitu saat ini sudah banyak warung-warung yang menjual makanan dengan lebel halal.

Warung Cabe

Warung ini terletak di dekat KBRI Tokyo tepatnya di Dai1Tanaka Bld 2F, 3,5,4 Kamiosaki Shinagawa-ku Tokyo, dimiliki oleh warga Negara Jepang. Dia pernah lama tinggal di Bandung dan belajar bahasa Indoenesia di Universitas Parahyangan. Bahasa Indonesianya fasih dan sangat ramah dan sopan terhadap para tamunya.

Gambar 4. Warung Halal Cabe, Tokyo

Di warung ini semua menu Indonesia, dan tentunya pasti halal. Ada gulai kambing, sate, gao-gado, nasi goring, pisang goring dll.

Warung ini jadi salah satu jujugan orang Indonesia dan staff KBRI untuk makan siang atau makan malam. Banyak juga orang Jepang yang pernah tinggal di Indonesia (kebanyakan pernah tinggal di Bali) berkunjung dan makan di sini.

Pelayannya semua orang Indonesia, kebanyak mahasiswa yang sedang menempuh S1 atau S2 di Jepang. Mereka kerja part time dengan gaji rata-rata kalau dirupiahkan Rp 500.000 per-hari. Di sini juga ada tersedia musholla kecil untuk sholat.

Warung Merah Putih

Warung ini lokasinya di Korean Town, tidak jauh dari Muslim Yokocu (perempatan Muslim). Di lokasi ini banyak dijumpai orang Muslim, kebanyakan dari Pakistan, Bangladesh dan juga Indonesia.

Gambar 5. Warung Merah Putih di Muslim Yokochu

Terletak di ruko berlantai tiga, posisi warung merah putih berada di lantai paling atas. Pemilik warungnya asli orang Padang. Menu di warung ini khas warung Padang: ada rendang, ayam goreng dsb. Harga satu porsi rata-rata 1000 yen. Pelayannya anak Jepang asli yang lagi belajar Bahasa Indonesia.

Di daerah ini juga ada musholla kecil yang dikelola oleh Muslim Pakistan. Waktu saya ke sana, kebetulan pas maghrib. Tau saya Muslim mereka teriak-teriak ajak saya untuk mampir sholat (mirip teman-teman jama’ah tabligh di sini kalau ajak-ajak sholat). Tapi karena pakaian saya sudah kotor, saya lebih memilih menjamak sholat di rumah.

Wassalam

(Visited 40 times, 1 visits today)
Last modified: 5 Juni 2020
Close