Ditulis oleh 9:18 pm COVID-19

Jahe

Dipercaya meningkatkan daya tahan tubuh, menghadapi pandemi COVID-19 jahe diburu dan harganya melonjak naik.

Jahe atau Zingiber officinale, kini menjadi sangat populer. Bahkan harganya melonjak sampai 5 atau 6 kali lipat harga di waktu normal. Kendati sangat mahal, namun tetap diburu, akibatnya jumlah yang beredar mulai berkurang, di beberapa tempat mulai sulit ditemukan. Kalau pun ada, umumnya dari jenis yang lebih muda, mungkin karena telah dipanen lebih awal.

Bagi warga kebanyakan, jahe memang tidak asing lagi, terutama wedang jahe. Minuman khas penghangat tubuh, yang di beberapa tempat, telah dimodifikasi menjadi wedang campuran, seperti wedang uwuh, atau jenis lain, namun tetap dengan kekuatan utama jahe. Warung angkringan, merupakan tempat dimana minuman tersebut dapat dinikmati, sambil ngobrol ngalor ngidul menemani malam berlalu. Tidak semua pengunjung angkringan mencari jahe, dan ketika yang dicari tidak ada, tidaklah membatalkan niat untuk nongkrong dengan ditemani wedang yang ada dan gorengan.

Meskipun punya kelebihan jahe punya tempat tersendiri di tengah warga. Tidak semua orang penyuka jahe. Jika dirasa perlu, terutama ketika badan terasa kurang enak, atau kerapkali disebut masuk angin, maka jahe dihadirkan untuk menjadi minuman yang punya khasiat “mengobati”. Apakah itu artinya obat. Tentu bukan. Warga cukup paham bahwa jahe bukan jenis obat layaknya obat yang dijual di apotek. Jahe tetap dimengerti sebagai minuman dengan khasiat menghangatkan tubuh dan dengan kondisi tubuh yang demikian itu, diyakini akan dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk mengusir apa yang dirasakan tidak enak.

Oleh karena itulah ketika jahe menghilang dan harga melompat jauh, tentu menimbulkan pertanyaan: ada apa? Apakah ada gelombang yang membuat warga tiba-tiba menjadi penyuka jahe? Tentu tidak. Sebabnya adalah wabah. Entah darimana datangnya resep, yang membuat jahe menjadi utama, karena itu, diburu, berapapun harganya. Apakah salah mengkonsumsi jahe untuk keperluan menjaga daya tahan tubuh? Pasti tidak. Justru sangat baik. Setiap upaya meningkatkan daya tahan tubuh merupakan hal baik, hal utama, terlebih dalam suasana seperti sekarang.

Tantangannya tidak lah terletak pada keinginan pribadi untuk selalu sehat. Keinginan tersebut, harus didukung, bahkan menjadi kewajiban negara untuk menjaga kesehatan warga, tanpa terkecuali. Konstitusi menyebut demikian. Apa yang menjadi tantangan justru pesan di balik peristiwa tersebut. Ekspresi warga melalui perburuan jahe, dan berbagai rempah-rempah yang dikabarkan oleh para ahli punya khasiat meningkatkan daya tahan tubuh, mungkin merupakan pesan tersendiri yang perlu dibaca dengan bijak.

Jika satu dua orang melakukan tindakan tertentu, maka dapat dikatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan peristiwa privat. Namun bila tindakan dilakukan oleh banyak orang dan serentak, maka tentu ada aspirasi massal yang menyertainya. Suatu aspirasi publik. Yakni harapan publik untuk agar warga senantiasa dalam keadaan sehat dan senantiasa sehat. Pada perburuan jahe terangkut harapan kesehatan masyarakat. Harapan publik tentu merupakan landasan moral bagi perubahan kebijakan publik, untuk menghadirkan kebijakan yang sejalan dengan aspirasi publik. Semoga wabah segera berlalu, dan semoga warga tetap sehat dan selalu sehat.

(Tim Redaksi)

(Visited 5 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 31 Maret 2020
Close