25.7 C
Yogyakarta
18 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Jalan Menuju Keseimbangan

Problematika kehidupan di Jakarta sebagai “kota segala rupa” tentu sudah menjadi pemahaman yang lazim di benak masyarakat Indonesia. Dengan segudang predikat yang disandangnya — mulai dari yang baik-baik hingga yang tak elok — menjadikan Jakarta sebagai ‘segala-galanya’. Pusat pemerintahan, sudah pasti; pusat kegiatan keagamaan — menjadi sentral kegiatan semua agama resmi di Indonesia, pusat bisnis dan perdagangan yang di sana segala transaksi terjadi baik yang halal dan maaf yang haram —termasuk tema-tema transaksional dalam urusan politik-kekuasaan, dan tak kalah menarik tentu saja sebagai pusat hiburan. Di Jakarta itulah konteks pengaisan rizki terjadi. Siapa yang kreatif, ulet, dan tahan banting dia tentu akan sukses dalam hidupnya. Tak heran kalau Jakarta senantiasa menjadi tumpuan untuk orang pergi merantau ke sana.

Hal menarik yang mungkin hampir terlupakan adalah apa yang pernah dilakukan oleh Gubernur Sutiyoso ketika beliau membuat kebijakan — sebut saja — spektakuler yaitu membubarkan pusat lokalisasi ‘percintaan haram’ menjadi apa yang kemudian dikenal sebagai Jakarta Islamic Centre (JIC). Dalam kurun waktu kurang lebih 4-5 tahun ‘tanah hitam’ eks Kramat Tunggak seluas 10.9 hektar are disulap oleh Bang Yos menjadi ‘area putih’ yang mulai beroperasi pada April 2004. Kala itu terselip cita-cita mulia Pemprov DKI dengan refungsionalisasi lokasi tersebut yakni menjadikannya sebagai sentra pembangunan peradaban Islam.

Kita tentu sama berkeyakinan bahwa republik ini akan selalu tegak manakala ada dua komponen penting yang selalu menyertainya dan terbangunnya sinergisme antarkeduanya yakni komponen kebangsaan dan keumatan. Bagi masyarakat bangsa Indonesia, kebangsaan dan keummatan adalah bak dua sisi mata uang yang saling mengikat dan menguatkan. Bahwa penganut muslim yang mayoritas di negeri kita adalah layak untuk disebut sebagai nasionalis lantaran merekalah — dengan rasio jumlahnya yang terbesar — menjadi penjaga atau benteng bagi keutuhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam perspektif semacam itu maka visi yang diletakkan dalam pengelolaan JIC sangatlah tepat dan relevan yaitu Jakarta Islamic Centre menjadi lembaga unggulan Pengkajian dan Pengembangan Islam di Jakarta serta menjadi Pusat Peradaban Islam Indonesia. Jakarta sendiri sedari dulunya adalah dikenal sebagai kota religius yang dibuktikan oleh adat-istiadat Kaum Betawi sebagai ‘penghuni asli’-nya. Maka mengembalikan kota Jakarta pada konteks nuansa religiusitasnya adalah bukan sesuatu yang naif, bahkan seharusnya ia menjadi sebuah kesunyataan. Persoalannya, seberapa serius untuk kita mewujudkan dan menyosialisasikannya adalah jadi sebuah kemuskilan yang sejatinya ditembus dengan kerja-kerja kreatif dan berkesinambungan.

Dalam kehendak mendukung tatakelola pemerintahan yang baik (good governance) yang dicanangkan Pemprov DKI yang kini di bawah kepemimpinan Anies Baswedan dan A. Riza Patria meningkatkan fungsionalisasi kerja JIC adalah dapat menjadi pendorong dalam kerangka menghadirkan Jakarta sebagai kota yang serba-serbi itu juga bertumbuh iklim kehidupan dalam semangat religiusitas sebagai penyeimbangnya.

Islamic Centre sebagai pusat peradaban Islam, yang menjadi intinya adalah keberadaan masjid sebagai bentengnya. Masjid JIC di kawasan Tanjungpriok Jakarta Utara tersebut memiliki lahan seluas 2,2 hektare yang mampu menampung 20.680 orang jama’ah. Masjid yang juga bersebutan sebagai Rumah Allah itu harus ditata dengan menampilkan sosok yang indah, baik dari segi bangunan fisik, arsitektur, seni, dan sarana-sarananya, termasuk juga kebersihannya untuk penghadirnya merasa nyaman beribadah dan berinteraksi di dalamnya. Kegiatan-kegiatan yang dibangun dan dikembangkan oleh JIC tentu bersifat komprehensif, bukan hanya berfokus pada pengelolaan masjid yang menjadi sentrum seluruh aktivitas JIC, tetapi juga mengelola pengkajian dan pendidikan, pusat bisnis, kegiatan sosial budaya, perpustakaan dan museum dakwah, hingga lembaga keuangan syariah.

Dengan visi dan misinya yang sedemikian mulia, diperlukan kepemimpinan manajemen JIC yang kapabilitas disertai dukungan sumber daya insani yang mumpuni, agar JIC benar-benar mampu mewujudkan apa yang telah diletakkan sebagai misi utamanya: menjadi lembaga unggulan dalam pengkajian dan pengembangan Islam di Jakarta serta menjadi pusat perabadan Islam di Indonesia. Misi yang diemban yaitu mengacu pada:

  1. Pelaksanaan pengkajian dengan penerapan sistem kerja terpadu berkaitan dengan nilai strategis Tertib Administrasi, Tertib Kegiatan, Tertib Anggaran, dan Tertib Laporan bidang Kesekretariatan serta seluruh divisi yang mendukung eksistensi dan kinerja Badan Manajemen Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta.
  2. Mewujudkan pengembangan nilai-nilai Islami di Jakarta sebagai barometer dan parameter pembangunan peradaban Islami di Indonesia yang sesuai dengan asas perikatan hidup bangsa dan dalam kaitannya posisi Jakarta sebagai ibukota negara dalam kancah hubungan internasional.

JIC yang bertujuan menjadi Pusat Pengkajian Islam berskala Nasional sejatinya dapat merujuk pada keberhasilan pembangunan peradaban Islam bertaraf internasional, sehingga diperlukan langkah-langkah:

  1. Menetapkan agenda pengembangan secara spesifik guna menunjang kinerja bidang Kesekretariatan Umum, Divisi Takmir Masjid, Divisi Pengkajian dan Pendidikan, Divisi Sosial Budaya, Divisi Informasi dan Komunikasi, Divisi Pengembangan Bisnis dan Ekonomi Syariah, serta Divisi Hubungan Antarlembaga dan Kerja Sama Internasional.
  2. Menetapkan skala prioritas pembangunan sumber daya keumatan, penyelenggaraan pendidikan terpadu dan tepat guna, kegiatan dakwah bil hikmah, peningkatan wawasan politik, pemantapan gerakan sosial budaya, penguatan jaring informasi teknologi dan komunikasi, penguasaan ekonomi berbasis syariah serta membina hubungan antarlembaga dalam rangka kerja sama sinergi potensi lokal, nasional, regional, dan global.
  3. Pendirian Jakarta International Islamic School (JIIC) dan Sister School dengan sekolah–sekolah Islam di negara jiran Singapura.
  4. Menjadi One Stop Training baik tingkat regional, nasional dan internasional dari pengkajian dan pendidikan yang diadakan di JIC.
  5. Sebagai markas dakwah dan museum sejarah dakwah yang mengangkat tokoh-tokoh legendaris anak bangsa.
  6. Menetapkan panduan kegiatan berbasis keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah lewat gerakan Jakarta Maghrib Mengaji serta mengaktifkan dakwah tepat sasaran di komunitas rawan ketahanan akhlak dan ancaman intervensi aqidah.
  7. Mendirikan lembaga keuangan syariah dalam bentuk Baitul Mal wat-Tamwil (BMT) atau BPR Syariah dan sejenisnya.

Dalam memasuki usia ke-493 kota Jakarta, bertepatan dengan momentum segera diterapkannya tatakelola hidup normal baru (New Normal) pasca-pandemi Covid-19 yang melanda dunia, menjadi kesempatan baik bagi warga Jakarta untuk memulai hidup yang lebih manusiawi dan bersahabat sehingga kelak dapat menepis anggapan yang lazim diungkapkan banyak orang yang mengandaikan bahwa ibukota lebih kejam daripada ibu tiri, sebagai sindirian untuk menyebut betapa berat dan kerasnya hidup di Jakarta lantaran warga Jakarta yang sibuk bersaing dalam pertaruhan hidup yang dicitrakan bersifat nafsi-nafsi (individualistik) dan elu-elu gue-gue (masabodoh).

Hidup yang baik ditandai dengan terbangunnya keseimbangan antara lahir dan batin. Keseimbangan yang dibangun adalah bersifat dinamis dan bukan yang statis, yaitu bergeraknya sentra-sentra keumatan dan kelompok sosial pada tiap-tiap komunitas yang ada di Jakarta dalam menghidupkan Jakarta sebagai ibukota kebanggaan keseluruhan anak bangsa. Dalam kerja-kerja kreatif dan mashlahat, mengingat sebagai kota yang oleh Belanda disebut sebagai Batavia itu di dalamnya tersimpan catatan tinta emas sejarah yang mahal dan istimewa, yang salah satunya menjadi tempat diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA