Jalan Menyongsong Rezeki (Dengan Do’a dan Ikhtiar)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Meskipun Allah telah menjamin rezeki kita, namun bukan berarti rezeki itu diperoleh begitu saja. Melainkan, harus dijemput melalui ikhtiar.

A. Iftitah: Islam sebagai jalan tengah

Telah dimaklumi bersama bahwa dalam kehidupan umat terjadi dua kutub ekstrim dalam memposisikan dunia, yakni: kutub ekstrim pertama yang menganggap bahwa dunia dengan segala isinya adalah sesuatu yang harus ditinggalkan, dengan motto atau jargon “mautu qobla anta mautu” (matilah kamu seblum mati”); sementara pada kutub ekstrim kedua yang menganggap bahwa dunia dengan segal isinya adalah sesuatu yang harus “dimakan habis tanpa sisa” dengan motto atau jargon “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”.

Dalam konteks titik ekstrim yang pertama, muncullah pada sepanjang jaman, kaum sufi yang mengamalkan “ajaran yang mencampakkan dunia”, sehingga muncul reaksi yang mengecam pelakunya sebagai “kelompok orang malas”.Imam Syafi’i berpendapat bahwa “Tasauf itu berdiri di atas pondasi kemalasan “

Demikian itu dikarenakan kebanyakan mereka yang terjun dalam dunia tasauf beranggapan bahwa aktifitas ibadah itu harus dilakukan dengan menanggalkan pekerjaan dan menjauhi dunia. Dengan dasar seperti itu, maka tidak heran kalau akhirnya timbul dari dalam diri mereka sifat malas. (2005: h. . 24)

Sedang dalam konteks ekstrim yang kedua, muncullah tipologi manusia yang “khubud dunya”- cinta dunia – yang perilakunya hanya berorientasi materi belaka, sehingga nilai-nilai lain yang “tidak menguntungkan” akan dicampakkan begitu saja. [QS. Al Baqarah (2): 200]. Ini tentu menimbulkan reaksi yang tidak kalah “serunya” dari reaksi terhadap titik ekstrim yanmg pertama di atas.

Maka kewajiban kitalah untuk menolak kedua titik ekstrim di atas, dengan mensosialisasikan terus-menurus nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan umat manusia, khususnya dalam bidang bisnis atau ekonomi. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa Syari’at Islam yang sempurna datang untuk memperingatkan dari bahaya ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama, menyuruh berdakwah kepada jalan yang haq dengan hikmah, nasehat yang baik, serta membantah dengan cara yang baik, tetapi sikap keras tidaklah dibiarkan begitu saja di tempatnya pada saat sikap lemah-lembut dan diskusi yang baik tidak lagi bermanfaat..” (Yazid bin Abdul Qadir Jawas., 2012: h. 263)

Sebagai contoh sikap yang proporsional menghadapi kehidupan dunia adalah pernyataan salah seorang salah seorang ahli zuhud yang berkata,”Tinggalkanlah dunia ini untuk penghuninya, sebagaimana mereka meninggalkan dunia untuk kepentingan akhirat. Jadilah seperti lebah, jika dia makan, maka dia hanya memakan hal-hal yang baik. Jika memberi makan, dia memberi makan yang baik. Dan jika dia singgah di suatu tempat, dia tidak mematahkan dan merusaknya”. (Mansur Abdul Azizi, 2009: h. 75)

B. Jalan Ikhtiar: Hidup harus bekerja

Selama di dalam Surga, kakek kita Adam AS dan nenek kita Hawa RA hidup dengan enaknya karena segala apa yang dibutuhkan tidak perlu diusahakan dengan berkeringat, cukuplah menginkan sesuatu, semuanya telah tersedia. Kehidupan menjadi berbalik seratus delapan puluh derajad, ketika mereka diturunkan ke bumi, mereka harus bekerja dan berusaha untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, minimal melangkahkan kaki dan menggerakkan tangan.

Dalam sudut pandang ekonomi, barang-barang kebutuhan kita terbatas, sehingga untuk mendapatkannya memerlukan perjuangan. Lebih-lebih di jaman sekarang, barang-barang kebutuihan tersebut makin terbatas, sementara yang memerlukan semakin banyak, sehingga untuk mendapatkannya – boleh di kata – tidak ada yang gratis.

Ada sementara manusia yang pisimis, berputus asa untuk dapat mencukupi kebutuhannya, bahkan bunuh diri, karena dalam penglihatannya semua pintu tertutup, sehingga merasa tidak menemukan jalan keluar untuk mempertahankan kehidupannya. Sementara di sisi yang lain ada manusia yang merasa dapat berbuat apa saja, melakukan apa saja untuk mendapatkan semua yang dia inginkan, karena memiliki akses yang hampir tak terbatas berupa kekuasaan, kekayaan dan kesempatan.

Sedangkan orang-orang yang beriman, keyakinannya mendorong optimis dalam mengarungi kehidupan, tetapi tidak riya atau sombong. Atas dasar cinta (hubb), takut/ cemas (Khauf) dan harapan (Roja’) kepada Allah – insya Allah – jalan terbentang di hadapannya untuk dapat berikhtiar mendapatkan rezkinya, dengan cara-cara yang halal. [QS. Al Baqarah (2): 201]

Syafi’i Antonio menjelaskan makna “rezeki” – sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Faris – dipandangnya adalah pemberian Allah. Atau menurut ar-Raghib, yaitu “pemberian yang mengalir baik bersifat duniawi atau ukhrawi”. Bisa juga berarti “porsi dan bagian yang sampai ke tenggorokan dan dijadikan makanan” Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya Allah, Dia lah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekutan lagi Sangat Kokoh” (QS Adzariyat: 58)

Imam Al-Ghazali menjelaskan arti Ar-Razzaq yaitu: “Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia pula yang mengantarkannya kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya”.

Allah menjanjikan bahwa semua makhluk yang ada di muka bumi ini, sudah ada rezekinya,”Tidaklah ada makhluk yang merayap di bumi ini (dabbah) kecuali Allah telah menjamin rezekinya” (QS Hud: 6)

Meskipun Allah telah menjamin rezeki kita, namun bukan berarti rezeki itu diperoleh begitu saja. Melainkan, harus dijemput melalui ikhtiar.

“Dan bila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah di muka bumi”. (QS Al-Jumu’ah: 10)

Rasulullah bersabda: “Sekiranya engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka Allah pasti memberikanmu rezeki sebagaimana barung yang pergi pagi dalam keadaan lapar, dan kembali ke sarangnya sore hari dalam keadaan kenyang”. (HR Tirmidzi)

(Syafi’i, 2009: hh. 109 -110)
Bekerja atau berikhtiar harus dengan cara yang baik, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits:

Dari Sa’id bin Umair, dari pamannya r.a., dia berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling baik ? Beliau menjawab,”Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan semua pekerjaan yang baik”. (HR Al-Hakim dalam Nashiruddin al-Albani, 2008: h. 38-39) Al-Albani mengomentari “ semua pekerjaan yang baik” yaitu “yang tidak mengandung syubhat dan pengkhianatan.”,

Ketika pekerjaan atau ikhtiar dilakukan dengan cara baik, dengan didahului oleh niat yang baik, maka nilainya ialah Jihad fi sabilillah, sementara bila sebaliknya, maka nilainya adalah jihad fi sabilis sayatin:

Dari Ka’ab bin Ujrah RA, dia berkata, ”Telah berlalu seorang laki-laki dihadapan Nabi SAW Lalu para sahabat Rasulullah SAW melihat kekuatan dan ketangkasan orang itu,maka mereka berkata, ’Alangkah baik dan hebatnya jika orang ini berperang pada jalan Allah? Maka Rasulullah SAW bersabda, ’Jika ia keluar berusaha untuk anaknya yang masih kecil-kecil, maka ia pada jalan Allah, dan apabila ia keluar masih untuk keperluan orang tua yang telah lanjut umurnya, maka ia pada jalan Allah; dan jika ia keluar berusaha untuk dirinya agar terpelihara kehormatannya, maka ia pada jalan Allah; dan jika ia keluar berusaha katrena riya dan bermegah diri, maka ia pada jalan setan”. (Riwayat Ath-Thabrani dengan rijal Sahih dalam Moenawar Chalil, jil. 2, 2001: h. 249)

C. Mencontoh Rasulullah dalam Menyongsong Rezeki

Rasulullah pun melakukan transaksi jual beli. Hanya saja setelah beliau dimuliakan Allah SWT untuk mengemban misi kerasulan-Nya, transaksi pembeliannya lebih banyak dari pada transaksi penjualannya. Begitu pula setelah hijrah, hampir tidak pernah terdengar beliau melakukan transaksi penjualan kecuali pada masalah-masalah ringan yang kebanyakan dilakukannya untuk kepentingan orang lain. Seperti penjualan gelas dan alas pelana yang beliau lakukan dengan sistem lelang, penjualan Ya’qub seorang budak al-Mudabbar (budak yang dijanjikan dengan kemerdekaan setelah majikannya meninggal), dan penjualan seorang budak berkulit hitam dengan dua orang budak.

Adapun kasus pembelian yang dilakukan bel;iau adalah banyak sekali. Beliau juga menyewakan dan menyewa. Namun penyewaannya lebih banyak daripada menyewakannya. Sebelum kenabian pernah pula beliau mengambil upahan dengan menggembalakan kambing, dan juga mengambil upahan dari Khadijah r.a. dalam perjalanan ke Syam untuk memperdagangkan barang dagangannya.

Jika transaksi yang dilakukannya berupa mudharabah (sistem bagi hasil), maka pengelola usaha kedudukannya adalah sebagai orang kepercayaan, orang upahan, wakil, dan partner sekaligus. Dia terpercaya saat memegang harta, dia menjadi wakil saat menggunakan harta, dia menjadi orang upahan saat mengerjakan pekerjaan usaha, dan dia sebagai partner saat ada dari harta itu keuntungan.

Dalam Mustadrak-nya Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Ar-Rabi’ bin Badar dari Abi Az-Zubair dari Jabir, ia berkata,”Rasulullah SAW telah mempekerjakan dirinya pada Khadijah binti Khuwailid dalam dua kali perjalanan ke Jarasya, di mana dalam setiap perjalanan disewa satu onta muda”.

D. Khatimah: Ikhtiar melalui do’a

Alangkah sempurnanya ikhtiar atau pekerjaan kita, apabila dilakukan dengan niat yang baik, dilakukan cara yang baik dan disertai dengan do’a.Banyak do’a yang dijarkan, baik yang terdapat dalam al-Qur’an [QS. AlBaqarah (2): 201] maupun as-Sunnah, yang berkaitan dengan mendapatkan rezki atau menyelesaikan urusan (bisnis), antara lain:

1. Do’a agar diberi petunjuk yang lurus dalam segala urusan (termasuk urusan ekonomi)

“Robbanaa atinaa min ladunka rohmatan wahayi’lanaa minamrinaa rosyadan”
(wahai Robb kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami” (QS Al- Kahfi: 10)

2. Do’a mendapat rezki yang cukup dan halal

“Allahummakfinii bihalalika ‘an haromika waaghninii bifadhlika ‘aman siwaaka”
(ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu, jauhkan dari yang Engkau haramkan. Dan kayakanlah (cukupkanlah) aku dengan karunia-Mu sehingga (tidak membutuhkan) kepada selain-Mu) (At-Tirmidzi dalam Haman Muhammad al-Jirf, t.t. hh. 45-46)

Maroji’:

  • Abdul Aziz bin al-‘Ijyan, Manshur.2009. Mutiara Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Menerangi Hati Menyuburkan Iman. Surakarta: Ziyad Visi Media (Shahih)
  • Al-Albani, Syaikh Muhammad Nashiruddin.2008. Shahih At-Targhib wa at-Tarhib. Jakarta: P{ustaka Sahifa
  • Al-Jauziah, Ibnu Qayyim.2008. Zadul Ma’ad (Panduan Lengkap Meraih Kebahagiaan Dunia Akhirat). Jil.1. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
  • Al- Jufri.t.t. Tuntunan Do’a Harian berdasarkan al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih. Pustaka Ibn ‘Umar.
  • Antonio, Muhammad Syaf i’i . 2009. Sukses, Kaya, dan Bahagia dengan Asma’ul Husna. Jakarta: Tazkia Publishing
  • Asy-Syami. . 2005.Kalam Hikmah Imam Syafi’i. Jakarta: Cakrawala Publishing
  • Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jil. 2. Jakartra: Gema Insani.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 2012. Mulia dengan Manhaj Sal;af. Bogor: Pustaka At- Taqwa

Dr. Mastur Thoyib, S.Pd., M.Pd., M.M. (MT Al Kendali)

Dr. Mastur Thoyib, S.Pd., M.Pd., M.M. (MT Al Kendali)

Dosen Pasca Sarjana Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang. Direktur "Kampus Masa Depan" Institute.

Terbaru

Ikuti