Jejak Prasejarah di Gurun, Bukti Paling Awal Keberadaan Manusia di Jazirah Arab

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Temuan tersebut mewakili bukti paling awal untuk Homo sapiens di Jazirah Arab, dan juga menunjukkan betapa pentingnya Arab untuk lebih mengungkap dan memahami prasejarah manusia.

Peneliti mengatakan bahwa umat manusia pada awalnya berasal dari benua Afrika, setidaknya 300.000 tahun yang lalu. Diketahui juga dari bukti fosil di selatan Yunani dan Levant (sekarang Israel) bahwa beberapa manusia awal dari spesies kita berkembang ke luar dari Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu, dan kembali pergi pada kurun waktu 120.000 hingga 90.000 tahun yang lalu. Mereka mungkin melakukan perjalanan panjang melalui semenanjung Sinai, yang membentuk satu-satunya jembatan darat yang menghubungkan antara benua Afrika dengan seluruh dunia, sebelum bergerak ke utara menuju daerah dengan iklim Mediterania.

Akan tetapi, tidak diketahui kapan manusia mulai berpindah ke selatan setelah melintasi semenanjung Sinai, dan memasuki daerah yang kini Arab Saudi modern. Seringkali diasumsikan bahwa manusia-manusia ini mungkin mengambil rute pantai, menghindari daerah gurun yang keras hingga kini. Namun demikian, berdasarkan penemuan fosil sebelumnya menunjukkan bahwa hal tersebut tidak terjadi, dan bahwa manusia berpindah pindah ke jantung Arab setidaknya 85.000 tahun yang lalu. Dengan adanya studi baru, kini terdapat rentang waktu baru yang bahkan lebih jauh lagi.

Para peneliti menemukan jejak kaki manusia dan hewan lainnya yang tertanam di permukaan danau purba di Gurun Nefud di Arab Saudi yang berusia sekitar 120.000 tahun. Temuan tersebut mewakili bukti paling awal untuk Homo sapiens di Jazirah Arab, dan juga menunjukkan betapa pentingnya Arab untuk lebih mengungkap dan memahami prasejarah manusia.

Gurun Nefud di Arab Saudi modern terletak sekitar 500 km sebelah tenggara Semenanjung Sinai. Saat ini, gurun di Arab merupakan salah satu lingkungan yang paling tidak ramah di dunia. Gurun tersebut akan menjadi penghalang yang tidak bisa dilewati manusia prasejarah atau mamalia besar. Seperti yang bisa kita banyangkan jika kita harus berdiri di kaki gurun yang sangat gersang hanya dilengkapi dengan peralatan batu tanpa alat-alat lainnya, dapatkah gurun tersebut kita jelajahi? Mungkin tidak.

Analisis ilmiah menunjukkan bahwa untuk sebagian besar sejarah mereka, iklim dunia tersebut mirip dengan dunia hari ini, sangat gersang dan tidak dapat dilalui. Namun, terdapat juga bukti yang menunjukkan bahwa pada waktu-waktu tertentu di masa lalu, gurun berubah menjadi padang rumput mirip sabana yang dipenuhi sumber air tawar. Fase “hijau” ini nampaknya tidak berlangsung lama dan mungkin berlangsung tidak lebih dari beberapa milenium. Meskipun demikian, gurun ini memberikan jendela kesempatan bagi manusia dan hewan-hewan lain untuk pindah ke daerah yang hijau dan baru.

Diketahui dari sedimen danau fosil bahwa Gurun Nefud adalah salah satu daerah yang secara berkala berubah menjadi daerah yang “lebih menarik” di masa lalu, dan jejak kaki baru tersebut memberikan bukti bahwa manusia purba memanfaatkan perubahan tersebut.

Fosil Jejak Kaki

Para peneliti kini dapat memberi waktu pada jejak kaki menggunakan suatu teknik yang bernama penggalan luminescence yang mengeluarkan hasil periode waktu 102-132,000 tahun yang lalu. Berdasarkan bukti regional yang lebih luas untuk peningkatan curah hujan, para peneliti memberi estimasi kasar dari waktunya yakni 120,000 tahun yang lalu, dinamakan sebagai periode interglacial terakhir.

Diketahu bawa pada kisaran waktu tersebut sistem sungai yang luas tersebar di Gurun Sahara, dengan arkeologi Paleolitik Tengah tersebar sepanjang daerah tersebut. Bukti lain dari peningkatan curah hujan saat ini berasal dari fosil stalagmit yang ditemukan di gua-gua di daerah gurun di Arabia, serta 500 km sebelah utara Nefud di Gurun Negev. Ciri-ciri ini hanya tumbuh pada kondisi curah hujan yang lebih dari 300mm per tahun, jauh lebih banyak dari jumlah <90mm per tahun) saat ini.

Meski sulit untuk mengetahui secara persis spesies manusia mana yang meninggalkan jejak ini, namun menurut para peneliti kemungkinan besar merupakan spesies kita, Homo sapiens. Hal ini didasari oleh fakta bahwa Homo sapiens ada di Levant, 700 km ke utara dari Gurun Nefud, pada rentang waktu yang sama. Neanderthals tidak ada di Levant pada periode waktu ini dan tidak berpindah kembali ke daerah ini hingga ribuan tahun kemudian, pada saat kondisi lingkungan lebih dingin. Estimasi dari berat serta postur dari manusia tersebut berdasarkan jejak tersebut secara konsisten menyerupai spesies kita daripada Neanderthals.

Sejarah Beresolusi Tinggi

Selain jejak kaki manusia, ditemukan juga jejak dari gajah, kuda serta unta. Jejak-jejak ini diteliti secara detail oleh Mathew Stewart di Max Planck Institute for Chemical Ecology. Hasilnya memberikan banyak informasi baru mengenai interaksi prasejarah antar manusia, hewan, serta lingkungan tempat mereka tinggal.

Jejak kaki merupakan sebuah bentuk unik dari bukti fosil oleh karena mereka memberikan gambaran yang tepat dalam waktu. Bukti dengan resolusi tinggi tersebut yang tidak bisa didapat dari catatan lainnya. Selain itu, jejak kaki juga dapat memberi tahu perihal perilaku dari pembuatnya yang tidak bisa didapat dari fosil biasa.

Hal tersebut dapat membantu para peneliti untuk memahami hubungan antara manusia serta binatang-binatang besar lainnya akurat secara geologis.

Analisa lingkungan pada batuan danau menunjukkan bahwa danau tersebut memiliki air yang “dapat diminum”, serta berbagai macam jejak lainnya menunjukkan bahwa manusia, gajah, unta dan kuda menggunakan sumber air ini pada jangka waktu yang serupa. Pergerakan manusia dan hewan besar akan mengikuti pergerakan air tawar dan pola dari jejaknya menunjukkan mereka mencari makan di lantai danau. Manusia mungkin tertarik pada area tersebut oleh karena mereka melacak hewan-hewan besar yang bisa menjadi buruan mereka.

Survei serta analisis dari fosil yang diambil dari situs tersebut juga menunjukkan bahwa tidak terdapat fosil peralatan atau alat potong dari. Hal tersebut memberi indikasi bahwa para pembuat jejak tersebut hanya berhenti sebentar pada danau tersebut untuk mencari makan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Tidak ada kejelasan apa yang terjadi pada orang-orang yang meninggalkan jejak tersebut, namun berdasarkan bukti yang telah ada terdapat kemungkinan para manusia tersebut, bersama Homo sapiens penjelajah lainnya, mati atau pindah menuju ke lingkungan yang lebih baik oleh karena kekeringan kembali pada gurun tersebut.

Sumber:
Disadur dari situs livescience. Materi berasal dari The Conversation. Naskah pertama kali ditulis oleh Richard Clark-Wilson. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora