Ditulis oleh 9:03 am COVID-19

Jihad Menghadapi Pandemik Covid-19

Membiarkan diri menghampiri suatu keadaan berbahaya yang dimungkinkan terbunuh, berarti sengaja membunuh diri sendiri. Tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri, apalagi bersama keluarganya atas sesuatu keadaan berbahaya dan sengaja tidak mempersiapkan diri dan keluarga maka dapat dihukumkan sebagai membunuh diri dan keluarga.

Di mulai bulan Pebruari 2020 di Negara Tiongkok, propinsi Wuhan. Penduduk Cina itu terjangkit wabah yang ciri-cirinya mirip terkena flu, hidung berlendir, batuk pilek, demam, ngilu persendian, badan terasa lemas, lidah terasa pahit, sering bersin dan lain-lainnya. Kemudian para ahli kesehatan otoritas Cina menyebut wabah Corona Viruse Desease tahun 2019 disingkat Covid-19. Menjangkit sangat cepat dan jumlah yang meninggal meningkat secara tajam. Hanya butuh waktu kurang dari satu bulan wabah tersebut menular hingga melampaui berbagai negara di hampir semua benua. Lebih dari 200 negara terjangkit sehingga WHO, organisasi kesehatan dunia itu menyebut penularan Covid-19 sebagai pandemik.

Pelacakan penularan yang dilakukan oleh para ahli mikrobiologi mendapatkan kesimpulan bahwa virus tersebut menyebar melalui apa yang disebut “droplet”, percikan lendir yang keluar dari mulut dan hidung, terhirup melalui mulut dan hidung orang yang berhadapan. Terakhir ditengarai penyebaran juga melalui mata, sehingga diperingatkan agar tidak menyentuh bagian muka. Bersin diperketat tata caranya. Social distancing diatur jarak minimal semester, jarak aman 2 meter. Cuci tangan harus dengan sabun dan tertib, seperti yang disampaikan oleh para ahli penularan virus, agar mati virusnya. Hindarkan bersentuhan sehingga tidak perlu berjabat tangan, pakailah masker yang menutup hidung dan mulut, maskernya harus dapat menahan sebaran virus. Cairan desinfectan laris manis, dijual dalam bentuk hand sanitizer. Segera bersih-bersih setelah mempergunakan fasilitas umum, berbahaya bertemu orang lain, dikhawatirkan sebagai “viruse carier”, pendek kata jangan bertemu orang lain, dan akhirnya stay at home, work from home, lockdown, pembatasan sosial berskala besar (psbb) diberlakukan. Data statistik dikendalikan oleh pemerintah, hanya boleh satu-satunya sumber berita konsumsi publik.

Seluruh negeri pontang-panting, hiruk pikuk dan sibuk mencari cara penanganan terefisien terhadap wabah ini. Seluruh entitas kegiatan manusia dikendalikan, dilarang beroperasi, wajib tutup agar tidak lagi ada bertemu secara langsung antar manusia. Pemerintah dan seluruh lembaga membatasi kegiatan operasionalnya. Kecuali, sebaliknya semakin sibuk yakni para tenaga kesehatan, dokter, perawat, dan staf pendukungnya yang dengan sepenuh tenaga, jiwa dan raga, menjadi garda terdepan menangani wabah ini. Sejak merawat pasien hingga menguburkannya dengan batasan prosedur ketat yang ditetapkan dengan penuh pertimbangan kehati-hatian. Bukan tanpa resiko, puluhan dokter dan paramedis meski telah memakai alat pelindung diri super ketat dan ekstra standart, telah meninggal dunia menjadi korban penularan. Meninggalkan tanda tanya, lewat jalan mana atau barang apa virus masih dapat menembus pertahanan super ketat para dokter dan paramedis, orang yang paling tahu dan sadar tentang penyakit berbahaya itu.

Indonesia di akhir Mei 2020 ditengarai oleh para ahli penyakit pandemik belum akan mencapai puncak untuk melandai, tergantung grafik penularan dan klaster yang berkembang, diantaranya oleh diakibatkan oleh sikap masyarakat terhadap kesadaran disiplin menjaga diri dari bahaya penularan dan pertahanan diri. Pengambilan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah serta edukasi kepada masyarakat juga berperan sangat utama atas nasib bangsa ini akankah pandemik wabah ini berakhir atau berkelanjutan tak berkesudahan.

Dalam Islam, Allah SWT memberikan prinsip yang tegas bahwa manusia janganlah sengaja membunuh diri sendiri, membiarkan terbunuhnya diri, apalagi membunuh orang lain.

QS. An-Nisa’ (4): 29 : Janganlah engkau sekalian membunuh diri kalian. Sungguh Allah sangat sayang kepada kalian. QS. Al-An’am (6): 151 dan Al-Isro’ (17): 33 : Dan janganlah membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan jalan yang haq.

Bahkan jika satu jiwa terbunuh maka seakan terbunuh seluruh manusia semuanya QS. Al-Ma-idah (5): 32.

Membiarkan diri menghampiri suatu keadaan berbahaya yang dimungkinkan terbunuh, berarti sengaja membunuh diri sendiri. Tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri, apalagi bersama keluarganya atas sesuatu keadaan berbahaya dan sengaja tidak mempersiapkan diri dan keluarga maka dapat dihukumkan sebagai membunuh diri dan keluarga.

Oleh karenanya, Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan arahan dalam beberapa haditsnya; Apabila telah mengetahui ada suatu tempat yang dilanda thao-‘un (wabah penyakit berbahaya) maka jangan engkau datangi, dan jika engkau tinggal di dalam suatu wilayah yang sedang dilanda wabah berbahaya itu maka janganlah engkau keluar dari wilayah itu.

Arahan Rasulullah ini mengandung makna bahwa jika ada wabah penyakit maka harus diupayakan dan diikhtiari mencegah diri agar terselamatkan dari tertular hingga kematian. Bermakna bahwa jihad menhindarkan dan menyelamtkan diri dan keluarga dari terjangkitnya penyakit adalah perintah Allah dan Rasulullah. Sebaliknya bahwa teledor, tidak perduli, sikap terserah, apalagi pongah dan sombong dengan membiarkan diri terhampiri wabah penyakit merupakan tindakan bunuh diri dan membunuh keluarga yang sangat dilarang oleh Allah SWT.

Setelah diupayakan dengan maksimal jihad melindungi diri dan keluarga dari wabah penyakit, ternyata masih tertular juga, maka ibarat sedang berperang masih terkena sabetan senjata, maka matinya adalah dalam keadaan mati syahid. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim : dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : Orang yang mati syahid ada lima macam, yaitu orang yang terkena tho-‘un, orang yang mati terkena sakit perut, korban tenggelam, korban tertimpa reruntuhan, dan orang yang mati syahid di jalan Allah (berperang) (HR Bukhari-Muslim).

Hal ini dibahas di dalam Kitab Badzlu al-Ma-‘un fii Fadhli al-Tha-‘un, oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani yang menjelaskan bahwa status seseorang yang meninggal karena wabah penyakit adalah mati syahid, yang mendapatkan karunia kelak di Yaumil Hisab, mereka para syahid itu tidak perlu dihisab dan langsung dipersilahkan memasuki syurga-Nya Allah SWT.

Wallaahu a’lam bish-showaab.

(Visited 86 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 27 Mei 2020
Close