Ditulis oleh 4:57 pm KALAM

JUJUR

Marilah kita belajar untuk senantiasa jujur karena Allah SWT tetap mengetahui meskipun kita berusaha untuk membohongi-Nya.

Jujur merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan yang semakin kompleks, materialistis, dan hedonistis seperti sekarang ini. Tidak jarang manusia terseret ke dalam nafsu ketidak-jujuran karena sedemikian kuatnya persaingan kompleksitas kehidupan, perlombaan materialistis kehidupan, serta hedonisme kesenangan duniawi. Padahal, pada hakikatnya jujur merupakan suatu perbuatan mulia yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Jujur juga merupakan akhlaqul karimah yang senantiasa dijaga dan dilakukan oleh Rasulullah SAW selama kehidupannya. Bahkan Rasulullah SAW dikenal oleh seluruh penduduk Makkah sebagai orang yang sangat jujur sejak beliau masih muda. Karena kejujurannya itulah, oleh penduduk Makkah, beliau diberikan julukan “Al-Amin”, yang artinya dapat dipercaya.

Karena kejujuran beliau pula, ketika pada waktu penduduk Makkah bersengketa memperebutkan untuk menempatkan kembali Hajar Aswat, dan hampir terjadi pertumpahan darah, maka fihak-fihak yang bersengketa itu mempercayakan kepada beliau, yang pada waktu itu masih muda, untuk mengambil keputusan secara adil. Kepercayaana itu diberikan karena pada waktu itu tidak ada penduduk Makkah yang tidak mengenal kejujuran beliau. Bahkan Abu Jahal yang selalu memusuhi beliau pun mengakui kalau beliau adalah orang yang sangat jujur.

Dikisahkan dalam suatu riwayat bahwa pada suatu saat Abu Sofyan bertanya kepada Abu Jahal: “Ya Abu Jahal, apakah engkau tidak tahun kalau Muhammad itu seorang yang pintar? Jawab Abu Jahal: “Aku tahu kalau Muhammad itu pintar. Apakah engkau tidak tidak tahu kalau Muhammad itu orangn yang sangat baik? Jawab Abu Jahal:Aku juga tahu kalau Muhammad itu itu orangnya sangat baik. Apakah engkau tidak tahu kalau Muhammad itu sejak masih muda dikenal sebagai orang yang jujur. Jawab Abu Jahal: Aku juga sangat tahu kalau Muhammad itu memang orang yang sangat jujur. Maka Abu Sofyan kembali bertanya: Tapi kenapa engkau selalu memusuhi Muhammad? Jawab Abu Jahal: Yang aku tidak bisa menerima adalah kenapa mesti Muhammad yang jadi Nabi dan Rosul? Dia itu anak yatim piatu, sedangkan aku ini pemimpin Quraisy.

Berdasarkan perbincangan dua pemimpin Quraisy tersebut tampak jelaslah bahwa bertapa tingginya kejujuran Rasulullah SAW sehingga orang-orang yang selalu memusuhi beliau pun mengakui akan kejujuran beliau.

Karena jujur senantiasa diperlihatkan oleh baginda Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, maka sesungguhnya jujur merupakan sikap ketaqwaan kepada Allah SWT. Kejujuran juga merupakan kekayaan moral yang sangat penting bagi kehidupan kita pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Kejujuran haruslah kita jadikan sebagai moral dan perilaku sehari-hari dalam berbagai bidang kehidupan karena kejujuran akan menimbulkan dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Sedemikian pentingnya kejujuran ini, Rasulullah SAW bersabda: “Kejujuran adalah kunci atau pintu gerbang menuju surga.”

“Kejujuran adalah kunci atau pintu gerbang menuju surga.”

Hadits ini mengisyaratakan kepada kita bahwa kejujuran akan mengantarkan seseorang ke jalan kebaikan, dipercaya orang lain, dihargai orang lain, dan mengantarkan kita menuju tingkat kedudukan yang mulia, serta akan dimuliakan oleh Allah SWT. Sebaliknya, kebohongan akan mengantarkan kita menuju posisi yang rendah dan dihinakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW melalui sabdanya mengingatkan kepada kita kaum muslimin bahwa: “Seorang beriman boleh sekali-kali menjadi penakut, tetapi jangan sekali-kali menjadi menjadi pembohong.”

Berkenaan dengan pentingnya bersikap jujur ini, sesungguhnya Allah SWT telah memberikan peringatan kepada kita semua melalui firman-Nya dalam surah Yaasiin: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberikan kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (Q.S. Yaasiin:65).

Firman Allah SWT tersebut memberi tahu kepada kita bahwa pada Yaumul HiHHisab (hari perhitungan amal) kita di Padang Mahsyar nanti, kita tidak akan bisa berbohong lagi karena semua mulut kita dikunci oleh Allh SWT dan yang berbicara adalah seluruh anggota tubuh kita sesuai dengan apa yang telah kita lakukan selama di dunia. Ini berarti mengingatkan kepada kita semua agar selama di dunia hendaknya bersikap dan berbuat jujur sebagaimana yang akan terjadi di Padang Mahsyar nanti.

Selama di dunia hendaknya bersikap dan berbuat jujur sebagaimana yang akan terjadi di Padang Mahsyar nanti.

Sedemikian pentingnya kejujuran bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, Allah SWT dan Rasulullah SAW telah sedini mungkin mengingatkan kepada kita semua, namun kenyataan dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini, menurut Syeih Abu Yusuf Fakhruddin, justru yang banyak terjadi adalah sebaliknya. Dalam kehidupan yang semakin didominasi oleh pengaruh nilai-nilai materialisme, maka yang namanya kejujuran menjadi semakin langka dan semakin sulit dijumpai. Sebaliknya, yang begitu mudah dijumpai adalah justru ketidakjujuran. Dikatakannya bahwa dalam kehidupan dewasa ini sedemikian mudahnya orang memberikan kesaksian palsu, sumpah palsu, kwitansi palsu, ijazah palsu, dan masih banyak lagi palsu-palsu lainnya.

Fenomena kehidupan seperti ini, sesuai dengan apa yang pernah diperkirakan oleh baginda Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, kemudian beliau bersabda bahwa: “Suatu saat nanti akan ada suatu masa di mana harta benda begitu melimpah, namun masyarakatnya banyak yang resah dan merasa tidak tenteram”. Maka bertanyalah salah seorang sahabat: “Kenapa bisa demikian ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah:”Karena pada saat itu orang yang jujur sangat sedikit dan orang yang pembohong sangat banyak.” Kemudian pada kesempatan lain, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, jelsakan kepada kami apa tanda-tanda kiamat itu?” Maka Rasulullah menjawab: “Salah satu tanda datangnya hari kiamat adalah hilangnya kejujuran di tengah-tengah masyarakat.”

Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda dengan menasihati sebagaimana dikisahkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim sebagai berikut: “Biasakanlah bersifat jujur karena kejujuran itu akan membimbing ke arah kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke arah surga. Sesungguhnya seseorang yang berbuat jujur sampailah ia di sisi Allah dan ditetapkan sebagai orang yang shiddiq. Jauhkanlah sifat pembohong karena kebohongan akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan curang, buruk, dan busuk. Dosa akan membimbingmu ke neraka. Sesungguhnya seseorang yang berbuat dusta itu jangan dikira tidak sampai di sisi Allah dan mereka akan ditetapkan sebagai pembohong (H.R. Bukhori dan Muslim).

Sesungguhnya sifat jujur itu jika diperinci, menurut Syeih Abu Yusuf Fakhruddin, setidaknya ada empat. Keempat sikap jujur itu haruslah dipelihara dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, assiddiiqu fil lisaan (jujur dalam ucapan). Lisan jika tidak dipelihara dengan baik sangat mudah tergelincir kepada berkata bohong dan dapat membawa kita kepada kehancuran. Oleh karena itu, jika hendak berkata bohong, maka segeralah sadarkan diri agar tidak terjerumus kepada perbuatan tercela itu. Kekanglah lidah agar senantiasa berkata jujur dan benar. Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita melalui sabdanya: “Keselamatan manusia itu terletak pada kemampuan dalam menjaga lisannya.

Kedua, asshiddiiqu fin niyyah (jujur dalam niat). Kejujuran dalam niat ini disebut juga dengan “ikhlas.” Artinya, kita jujur dalam hati kepada diri sendiri bahwa segala tingkah laku dan perbuatan yang kita lakukan semata-mata didorong oleh niat karena Allah SWT. Pertanyaannya adalah sudahkah kita mampu menerapkan pada diri kita bahwa segala yang kita lakukan, dalam berbuat baik dan menolong orang lain, bersedekah, bekerja, dan sebagainya itu disertai niat ikhlas karena Allah SWT?

Ketiga, asshiddiiqu fil ‘azam (jujur dalam mencapai tujuan). Dalam mencapai tujuan yang diinginkan hendaknya tetap memperhatikan akhlaq dengan menempuh cara-cara yang diridhai oleh Allah SWT. Sebab, tidak jarang terjadi karena terlalu bernafsunya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, akibatnya seseorang menghalalkan segala cara, yang penting tujuannya tercapai.

Keempat, asshiddiiqu fil hal (jujur dalam berbuat). Hakikat perbuatan jujur adalah perbuatan yang sejalan antara niat, ucapan, dan perbuatan, serta tujuan semula yang ingin dicapai. Keselarasan unsur-unsur ini yang sering dikenal dengan istilah “satunya kata dan perbuatan”. Agar dapat dapat menjaga satunya kata dan perbuatan itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa kepada kita, yang juga seringkali beliau panjatkan kepada Allah SWT yaitu sebagai berikut:

“Ya Allah jadikanlah jiwaku lebih baik daripada lahiriahku dan jadikanlah lahiriahku yang shalih.

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, kepada hati kecil kita masing-masing: Sudahkah kita bersifat jujur dalam kehidupan sehari-hari? Sudahkah kita jujur dalam ucapan? Sudahkah kita jujur dalam niat? Sudahkah kita jujur dalam perbuatan? Dan sudahkah kita menempuh cara-cara yang jujur dalam mencapai tujuan? Untuk dapat menjawab semuja pertanyaan itu, Sayyidinia Abu Bakar Asshiddiq, yang dikenal sebagai sahabat Nabi yang sangat jujur sehingga dijuluki “Asshiddiq” mengajarkan kepada kita agar dalam menjalani khidupan sehari-hari kita tidak terlalu bersandar dan terlalu mengandalkan akal, melainkan dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi yakni yang oleh beliau disebut dengan istilah “ainul bashiiroh (mata hati)”. Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq pernah berkata bahwa: “Kalian adalah hijab bagi dirimu sendiri karena kalian terlalu bersandar pada akal. Tanggalkanlah akal dan gunakanlah ainul bashiiroh (mata hati) dalam melihat setiap persoalan dalam hidup ini. Niscaya kalian akan mampu menemukan kejujuran dan menemukan sesuatu yang hakiki. Sebab, akal terlalu dekat dengan keduniaan, akal terlalu dekat dengan kebendaan, dan akal terlalu dekat dengan nafsu.”

Marilah kita belajar untuk senantiasa jujur kepada diri sendiri, jujur kepada keluarga, jujur kepada orang lain, dan jujur kepada Allah SWT karena Allah SWT tetap mengetahui meskipun kita berusaha untuk membohongi-Nya. Mudah-mudahan kita bisa termasuk ke dalam golongan orang-orang yang jujur sehingga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dicintai baginda Rasulullah SAW, dan akhirnya kita juga termasuk orang-orang yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk mengantarkan diri kita ke dalam surga-Nya karena kejujuran kita tersebut.***

(Visited 122 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 11 Mei 2020
Close