27.4 C
Yogyakarta
21 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Kapan Manusia Menemukan Cara Menggunakan Api?

Api merupakan jalan awal bagi manusia menuju evolusi hingga menjadi spesies kita sekarang ini. Para ilmuwan menduga bahwa tanpa api dan kendali atasnya, manusia mungkin tidak akan pernah mengembangkan otak mereka beserta manfaat yang menyertainya. Namun, kapankah kali pertama manusia menemukan cara menggunakan api?

Peneliti menganggap pertanyaan tersebut tidaklah mudah dijawab. Mereka berpendapat bahwa kemungkinan bukti untuk api tidaklah terawetkan dengan baik.

Apa yang para ahli tahu menurut sebuah artikel di jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society, bahwa sekitar 400.000 tahun yang lalu, api mulai keluar lebih sering di catatan arkeologi di seluruh Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia. Para peneliti menganggap bahwa api-api ini ada secara meluas, meski bukti akan hal ini masih relatif langka.

Peneliti mengatakan setidaknya ada dua situs terisolasi yang menunjukkan manusia awal menggunakan api sebelum 400.000 tahun yang lalu. Sebagai contoh, menurut sebuah studi di journal Science pada 2012 yang lalu, sebuah situs di Israel, yang berusia 800.000 tahun yang lalu, para arkeologi menemukan perapian, batuan api dan serpihan kayu yang terbakar.

Dari situs lain yang dinamakan Wonderwerk Cave di Afrika Selatan, peneliti menemukan bukti bahwa manusia menggunakan api sekitar 1 juta tahun yang lalu. Di gua tersebut mereka menemukan sisa-sisa tulang serta tanaman yang terbakar dan sesuatu yang nampak seperti perapian.

Peneliti mengatakan bahwa bukti ini ditemukan jauh di dalam gua. Mereka berpendapat bahwa ini bukanlah disebabkan oleh kebakaran lahan, oleh karena apinya tidak akan sampai pada ke dalam dimana bukti tersebut ditemukan. Dengan kata lain, kecil kemungkinannya bahwa data tersebut salah.

Meskipun Wonderwerk adalah situs paling awal di mana sebagian besar ahli setuju bahwa manusia menggunakan api, namun secara teori mereka seharusnya menggunakannya lebih awal. Sekitar 2 juta tahun yang lalu, usus nenek moyang manusia Homo erectus mulai menyusut, menunjukkan bahwa sebuah tindakan seperti memasak membuat pencernaan mereka jauh lebih mudah.

Sementara itu, otak mereka juga berkembang, yang dimana hal ini membutuhkan banyak energi. Hal ini membawa pada pendapat bahwa mereka telah mengenal api yang digunakan untuk memasak makanan jauh sebelum sisa api yang ditemukan disitus Wonderwerk.

Untuk mendukung argumen tersebut itu, peneliti kini sedang mencari tanda-tanda api kuno yang terkendali pada sebuah situs di Koobi Fora, sebuah wilayah di Kenya utara yang kaya akan peninggalan paleoantropologi sekitar 1,6 juta tahun yang lalu. Sejauh ini, peneliti telah menemukan tulang yang terbakar berkerumun dengan artefak lain di sana. Sedimen yang terbakar dikelompokkan secara terpisah, menunjukkan bahwa ada satu area untuk mempertahankan api dan area lain di mana manusia purba menghabiskan sebagian besar waktunya.

Meski terdapat ahli yang percaya bahwa sisa api ini dibuat oleh manusia, terdapat juga yang meragukan dan mengatakan bahwa sisa api yang ditemukan mungkin saja berasal dari kebakaran alami.

Kapanpun penggunaan api muncul, kemampuan manusia untuk menangkap dan mengendalikannya –atau membuat api mereka sendiri– berdampak besar pada evolusi spesies kita. Hal ini mungkin dapat memperpanjang masa hidup mereka, membuat manusia lebih bersosialisasi dengan memberi mereka tempat untuk berkumpul dan, bersama dengan penemuan pakaian, membantu mereka pindah ke iklim yang lebih dingin, menurut para ilmuwan.

Menggunakan api juga kemungkinan meningkatkan kognisi manusia. Manfaat dari menggunakannya memperkuat perolehan kognitif yang sudah didapatkan dan kemudian memperbanyaknya. Oleh karena api, siapapun bisa terluka parah jika menggunakannya secara tidak benar. (Disadur dari situs livescience).

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA