Ditulis oleh 8:26 am COVID-19

Kasus Pertama Infeksi Ulang Virus Corana di AS

Pasien tersebut kerkena dua kali dari dua virus yang memiliki sedikit perbedaan pada gennya dan bukanlah perpanjangan dari virus lama yang pertama kali mengenai pasien.

Dikabarkan bahwa di Nevada, terdapat seseorang yang telah dipastikan terkena virus corona kembali atau mengalami reinfeksi atau infeksi ulang. Kasus ini merupakan kasus pertama yang telah dikonfirmasi di AS, dan merupakan kasus keempat di dunia.

Dalam laporan NBC News, beberapa minggu terakhir peneliti melaporkan terdapat kasus reinfeksi pada seorang pasien di Hongkong, dan dua orang lainnya di Eropa. Namun dalam ketiga kasus tersebut, para pasien hanya menunjukkan gejala ringan dari COVID-19 atau tidak menunjukkan adanya gejala ketika terinfeksi untuk yang kedua kalinya.

Akan tetapi menurut sebuah studi terbaru, pasien dari Nevada yang berumur 25 tahun tersebut menunjukkan gejala yang jauh lebih parah dari pada saat pertama kali terinfeksi. Kasus tersebut baru dipublikasi pracetak dalam Social Science Research Network (SSRN) dan belum mendapat tinjauan ulang. Para peneli studi tersebut telah mengirimkan makalah studi tersebut di jurnal The Lancet Infectious Diseases.

Hal yang perlu diperhatikan dan dicatat, menurut Mark Pandori, direktur Laboratorium Kesehatan Masyarakat Negara Bagian Nevada dan rekan penulis studi, adalah bahwa temuan ini adalah temuan tunggal dan tidak memberikan informasi kepada para peneliti berhubungan dengan generalisasi fenomena tersebut.

Pasien dari Nevada tersebut pertama kali dinyatakan positif COVID-19 pada pertengahan bulan April setelah mengalami gejala-gejala virus tersebut, seperti sakit kepala, batuk, sakit tenggorokkan dan lainnya. Setelah 10 hari, gejala dari penyakit telah hilang dan dirinya dinyatakan negatif terhadap virus pada tes selanjutnya.

Namun pada akhir bulan Mei, pasien tersebut menyalami deman, sakit kepala, pusing kembali. Dan dalam waktu seminggu kadar oksigen dalam darahnya mengalami penurunan sehingga dirinya dirawat di rumah sakit untuk mendapat bantuan oksigen. Setelah 48 hari sejak pasien tersebut pertama kali dinyatakan positif virus corona, kini dirinya dinyatakan positif untuk kesekian kalinya.

Para peneliti telah menganalisa genom virus corona dari dua kali kasus terinfeksinya pasien tersebut. Mereka menemukan bahwa virus tersebut memiliki berbedaan di dalam gennya. Melalui temuan tersebut dapat dikatakan secara hampir pasti bahwa pasien tersebut kerkena dua kali dari dua virus yang memiliki sedikit perbedaan pada gennya dan bukanlah perpanjangan dari virus lama yang pertama kali mengenai pasien.

Temuan ini juga mengindikasikan bahwa bagi mereka yang telah terkena virus corona tidaklah 100% memiliki kekebalan imunitas pada virus tersebut. Namun demikian, penulis mengatakan bahwa hal penting yang perlu diperhatikan bahwa hanya dari kasus tunggal ini bukan berarti akan sama pada semua orang dan terdapat kemungkinan fenomena ini adalah suatu fenomena langka.

Kasus semacam ini sangatlah sulit untuk ditemukan, baik di AS maupun di tempat lainnya tidak adanya sekuens komprehensif genom virus corona dari setiap orang yang telah dites positif.

Pandori mengatakan jika infeksi ulang dapat terjadi dalam waktu singkat, maka mungkin terdapat implikasi untuk kemanjuran vaksin yang dikembangkan untuk melawan penyakit. Ini mungkin juga berimplikasi pada kekebalan kelompok atau herd immunity. Dirinya menambahkan bahwa untuk mereka yang telah sembuh dari COVID-19, para peneliti belum dapat memastikan seberapa besar imunitas yang telah dikembang, berapa lamakah imunitas tersebut bertahan, dan seberapa baik antibodinya untuk melindungi dari infeksi ulang. (njd/livescience)

(Visited 51 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 3 September 2020
Close