Ditulis oleh 6:11 am KALAM

Kau Adalah Umat Terbaik

“Khairunaas anfa’uhum linnaas”, sebaik-baik di antara manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” – (QS Ali ‘Imran:110)

Manusia adalah makhluk yang terbaik yang dilengkapi dengan instink, nafsu, akal, dan hidayah. Kita patut mensyukurinya. Sayangnya bahwa di antara kita banyak yang tahu tetapi tidak mampu mensyukuri. Buktinya bahwa tidak sedikit hidupnya selalu bermasalah. Hidup yang seperti ini tidak seharusnya terbiarkan. Kita sudah saatnya untuk bisa back to nature. Menjadi hamba Allah yang terbaiki.

Mungkin di antara kita suka rendah hati, atau alasan apa tidak begitu jelas bahwa kita banyak belum merasakan sebagai ummat terbaik. Karenya itu kita tidak perlu harus menganjurkan atau mengajak kebaikan (amar ‘ ma’ruf), dan melarang berbuat kejelekan (nahi munkar). Yang menarik, kadang-kadang ada gerakan kebencian yang ditujukan kepada orang atau kelompok yang berjihad melawan orang-orang melakukan hal-hal terlarang. Fenomena ini yang menarik. Padahal tidak sedikit, para kiai hanya lebih berani melakukan amar ma’ruf, tapi tidak berani melakukan nahi munkar.

Semula yang di-claim sebatas ummat terbaik hanya generasi yang hidup bersama Rasulullah saja. Kemudian bergeser ke generasi Sahabat. Namun akhirnya yang bisa masuk sebagai ummat terbaik adalah ummat Muhammad dan seterusnya. Asal ummat itu mampu tunjukkan keimanannya yang benar dan amal perbuatan yang dilandasi dengan iman yang benar juga. Hal ini berlaku bagi semua ummat Muhammad, tanpa membedakan rasa, suku, keturunan, dan sebagainya.

Selain itu ummat terbaik itu harus bisa memberikan manfaat. “Khairunaas anfa’uhum linnaas”, yang artinya bahwa sebaik-baik di antara manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Manfaat yang bersifat duniawiyah dan ukhrawiyah. Yang selalu menghadirkan kesejukan dan kedamaian, bahkan kesejahteraan.

Ummat yang terbaik itu memiliki tanggung jawab moral untuk mengajak ke arah perbuatan yang baik, bukan perbuatan yang jelek didasarkan pada pertimbangan syariah dan akal sehat. Selain itu juga melarang perbuatan yang jelek, bukan perbuatan yang baik didasarkan pada pertimbangan syariah dan akal sehat. Dalam prakteknya, tidak sedikit godaan syaitan itu mengajak ke perbuatan jahat, sebaliknya melarang dan menghilang-halangi perbuatan yang baik.

Memang tidaklah mudah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, karena Allah swt telah memperingatkan dengan keras kepada orang-orang yang tidak mampu berperilaku sebagaimana yang telah diucapkan. Sebagaimana firman Allah swt, yang artinya sebagai berikut : “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan, apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaaf:2-3). Karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang memadai, maka Rasulullah menganjurkan “ballighuu ‘annii walau aayah”, yang artinya sampaikan dariku walau satu ayat. Ini memperjelas bahwa kita tidak perlu khawatir untuk memenuhi tugas. Apalagi diperkuat dengan “Addiinu annashiihah”, yang artinya, Agama itu memberikan nasehat”.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan, apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaaf:2-3).

Hal ini jangan dipandang sebagai beban, tapi sebagai kebutuhan. Memenuhi kebutuhan untuk menjadi ummat terbaik. Kalau memang tidak memiliki keinginan menjadi ummat terbaik, ya kita bebas berbuat. Mau apa saja, misalkan dengan mengajak orang lain ke arah kejelekan, terjun ke perbuatan maksiyat. Atau melarang orang berbuat baik, dengan menghilang-halangi atau mengganggu orang lain menjalankan ibadah. Karena itu perlu disadari bahwa untuk menjadi ummat terbaik, kita perlu bekerja dan beramal dengan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, kita perlu berjihad. Bisa dengan ilmu, harta, tenaga, atau jiwa. Ini sebagai konsekuensi bahwa hidup itu ibadah. Hidup itu mengabdi kepada sang Khaliq. Hidup itu untuk Allah, bukan ilah-ilah lain. Jika demikian kita bisa menjadi umat terbaik.

Demikianlah beberapa hal yang patut kita renungi. Bahwa kita patut bersyukur diciptakan oleh Allah swt sebagai makhluk yang paling sempurna dan terbaik. Kita semua idealnya bisa mengakhiri hidup ini juga dalam posisi terbaik, husnul khatimah. Untuk bisa husnul khatimah kapan saja dipanggil Allah, maka selama hidup ya harus dijalani dengan perilaku-perilaku yang baik, tidak mungkin yang lainnya. Kita wajib berikhtiar hal-hal yang baik dengan cara yang baik, yang bisa diterima secara syar’iyyah dan akal sehat, walau sering kali harus menghadapi ujian yang berat, baik itu muncul dari diri kita sendiri maupun dari luar. Semoga Allah swt menjaga hati kita untuk istiqamah berbuat kebaikan yang diridloi-Nya. Aamiin. (Yogyakarta, 06 Mei 2020/13 Ramadan 1441, Rabu, pk 07.17)

(Visited 323 times, 3 visits today)
Tag: Last modified: 7 Mei 2020
Close