Ditulis oleh 9:12 am COVID-19

Kebangkitan Nasional 2020, Bangkit di Tengah Pandemi

Kiranya 20 Mei 2020 merupakan momentum yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk bersatu dan bangkit.

Bulan Mei tahun ini merupakan bulan yang penuh dengan momentum yang baik yang sudah tercatat dalam sejarah maupun yang akan tercatat dalam sejarah. Budi Oetomo merupakan organisasi pergerakan pertama yang melihat perjuangan bangsa Indonesia tidak akan mencapai titik kulminasi jika tidak terorganisir, sehingga Gerakan Boedi Oetama menjadi cikal bakal munculnya pergerakan nasional di Indonesia. Untuk itu menjadi catatan sejarah bahwa lahirnya organisasi pimpinan Dr. Wahidin Sudirohusodo menjadi moment kebangkitan nasional, yang diperingati tanggal 20 Mei. Kebangkitan Nasional pada periode itu merupakan bentuk usaha menanamkan dan menumbuhkan rasa kesadaran nasional menjadi manusia Indonesia serta menumbuhkan sense of belonging rakyat terhadap bangsanya sendiri.

Tahun ini tepat untuk ke 112 kalinya bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional, kebangkitan nasional tahun ini tentu akan menjadi catatan dalam sejarah perjalan bangsa. Covid 19, selama 3 bulan terakhir merupakan pandemic yang memporak-porandakan lini kehidupan bangsa. Sektor ekonomi, sosial, budaya, Pendidikan dan beberapa sektor lain seakan mati suri. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan jawaban pemerintah untuk mengatasi tantangan pandemik COVID 19, walaupun resiko lain dari kebijakan ini juga merupakan dampak yang menimbulkan permasalahan baru. Lesunya daya beli masyarakat, para pekerja/karyawan yang harus dirumahkan bahkan Pemutusan Hubungan Kerja, para orangtua yang mulai mengeluh karena mempunyai pekerjaan baru sebagai guru di rumah masing-masing, para penyedia jasa pariwisata dan layanan-layanan transportasi seakan menjadi kaum pesakitan ditengah wabah pandemik ini. Euforia sosial spiritual di bulan Ramadhan juga tak nampak seperti ramadhan tahun sebelumnya. Work From Home (WFH), social distancing, physical distancing bak perangkat perang yang dibagikan pemerintah untuk masyarakat dalam upaya bertahan dari musuh.

Tanpa disadari bahwa sejatinya bangsa Indonesia sedang berperang. Bedanya pada zaman pergerakan bangsa Ini berperang dengan penjajah yang nampak dengan jelas tapi saat ini bangsa Indonesia berperang melawan virus yang tidak nampak. Perang akan berhasil jika strategi dan taktik dijalankan dengan baik, tapi akan menjadi boomerang jika startegi dan taktik diabaikan. Rakyat merupakan prajurit yang siap menerima perintah pimpinan. Srategi dan taktik perang pun akan berhasil jika perintah pimpinan bisa diterima dengan jelas serta menjaga konsistensi dalam pengambilan kebijakan. Disamping itu rakyat selaku prajurit harus memiliki kesamaan persepsi dalam menerjemahkan dan megaktualisasikan perintah pimpinan.

Begitulah kiranya menyikapi kondisi bangsa di tengah pandemik Covid-19. Penerapan PSBB dengan segala konsekuensi logisnya merupakan bentuk ikhtiar pemerintah sebagai stategi dalam mengahadapi permasalahan ini. Segala bentuk keterbatasan dan kekuarangan dalam menerapkan strategi merupakan suatu kewajaran yang harus ditutupi dengan kesamaan dan kekuatan bersama oleh rakyat selaku prajurit. Akan menjadi sebuah ancaman yang membahayakan jika kedua elemen, baik pimpinan selaku pemegang strategi maupun rakyat selaku prajurit perang tidak memiliki derap langkah yang sama dalam melawan musuh yang bernama COVID.

Semangat kebangkitan nasional harusnya dihadirkan kembali dalam situasi darurat seperti ini. Bukan terletak pada seremonial dan jargon-jargon yang aduhai dalam setiap tahunnya. Akan tetapi ruh dan semangat membangun kesadaran bersama untuk mencapai tujuan utama Indonesia merdeka. Dalam kontek saat ini momentum kebangkitan nasional harus memberikan kesadaran pada masyarakat bahwa Covid-19 merupakan common enemy yang hanya bisa dibinasakan dengan kesadaran kolektif masyarkat dalam mentaati protokol kesehatan dan peraturan pemerintah. Work From Home, social and phycical distancing serta aktivitas sesuai protokol kesehatan merupakan upaya penyusunan kekuaatan dan pertahanan sekaligus senjata ampuh untuk melawan wabah ini.

Semangat kebangkitan nasional harusnya dihadirkan kembali dalam situasi darurat seperti ini.

Tapi perlu diingat dalam catatan sejarah, kelemahan atau hancurnya sebuah strategi bahkan sebuah zaman keemasan (kerajaan) bisa disebabkan karena faktor internal berupa rongrongan dari dalam, bukan karena faktor eksternal. Dalam konteks ini, perjuangan bangsa dan rakyat akan menjadi percuma, jika terjadi rongrongan dari rakyat atau pejabat-pejabat sebagai panglima perang. Membangun kesadaran masyarakat bukan perkara mudah. Hal ini secara faktual terjadi, social & physical distancing belum sepenuhnya terlaksana, tidak sedikit upaya-upaya “pembangkangan” pun terjadi sehingga dengan leluasa musuh yang bernama Covid menusuk pertahanan yang sudah dibangun bersama. PSBB yang diterapkan pemerintah yang belum jelas sampai kapan, bak pisau bermata dua. Sisi yang satu sebagai senjata untuk melawan musuh, sisi lain bisa menjadi alat untuk menusuk pertahanan sendiri. PSBB yang berlarut-larut tanpa ada kejelasan seakan-akan menebar racun yang akan melumpuhkan sektor ekonomi bangsa.

Kiranya 20 Mei 2020 merupakan momentum yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk bersatu dan bangkit. Bersatu untuk melawan dan mencegah wabah, serta bangkit untuk menata kembali kehidupan berbangsa bernegara. Persatuan merupakan senjata ampuh untuk melawan musuh, tak terkecuali wabah Covid-19 ini. Bersatu dengan konsep yang sama, bahwa mencegah dan melawan virus corona merupakan tanggung jawab bersama. Perjuangan para tenaga medis harus disambut dengan bersatunya perilaku masyarakat yang sesuai dengan protokol yang dianjurkan. Perjuangan pemerintah baik pusat maupun daerah dalam mengatasi permasalahan sosial ekonomi yang muncul akibat pandemik [walaupun belum maksimal] harus disambut dengan kesadaran berpikir bahwa mencari solusi lebih utama daripada mengkritisi. Lahirnya gerakan-gerakan sosial di daerah baik secara kolektif maupun individu merupakan bentuk sadar rakyat terhadap permasalahan bangsa. Untuk itu harapan besar di bulan kebangkitan ini adalah, membangun kesadaran bersama untuk bangkit melawan wabah corona. Akan menjadi catatan sejarah kebangkitan nasional tahun ini adalah kebangkitan nasional tanpa upacara, tapi akan menjadi prestasi dalam sejarah bahwa kebangkitan nasional tahun 2020 adalah kebangkitan nasional untuk mengakhiri perang terhadap virus corona.

Wacana relaksasi atau kelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berharap merupakan indikasi positif yang mengarah pada bangkitnya kondisi sosial ekonomi bangsa yang sudah beberapa bulan mati suri. Akan tetapi perlu juga disadari dan diwaspadai, jangan sampai wacana ini justru menjadi titik frustasi segenap elemen rakyat. Pemerintah harus mengkaji secara matang wacana tersebut, jangan sampai segala daya upaya yang dilakukan oleh seluruh rakyat untuk mengakhiri wabah menjadi sia-sia akibat kebijakan yang tergesa. Second wave merupakan ancaman yang lebih membahayakan jikalau relaksasi PSBB akan dilaksanakan. Untuk itu perlu kiranya pemerintah mengkaji ulang wacana tersebut. Kebangkitan nasional tahun ini berharap menjadi kebangkitan bangsa Indonesia untuk mengakhiri Covid-19. Tapi apabila salah dalam mengambil keputusan bisa menjadikan momentum kebangkitan nasional menjadi Kejangkitan Nasional.

Wallahu’alam bishawab.

(Visited 143 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close