Ditulis oleh 10:34 pm COVID-19

Kebangkitan Nasional dalam Era New Normal Pasca Tanggap Darurat Pandemi Covid 19

Indonesia berbeda dengan Amerika atau negara lainnya. Baik dari sistem pemerintahan, bentang alam, kondisi ekonomi, karakter masyarakat dan lain-lain, bahkan strain virus SARS-Cov-2 yang berada di Indonesia dimungkinkan berbeda. Untuk Itu Indonesia harus mampu memahami tantangan yang dihadapi dengan modal yang dimiliki.

Catatan penulis tentang situasi “darurat Covid 19” di Indonesia hingga minggu kedua bulan April 2020, masih dipenuhi semangat ajakan mari tinggal di rumah, jaga jarak aman, rajin cuci tangan dan terapkan PHBS. Beberapa daerah di Indonesia juga telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), atau bisa saya sebut sebagai Karantina Gaya Baru melengkapi “perang” terhadap pandemi Covid-19.

Di sisi lain kasus kekurangan APD bagi tim medis dan lambannya proses tes laboratorium masih menjadi catatan. Kondisi ekonomi yang semakin lesu dan berita-berita kelaparan yang seakan membunuh lebih dulu daripada sang virus. Namun justru berita ini mampu menggencarkan aktifnya gerakan gotong royong ekonomi, dan inilah salah satu modal bangsa kita yang cukup mendasar. Di samping itu, terdapat juga suara-suara yang menyepelekan persebaran SARSCov2, yang sempat terdengar di akhir Februari 2020, sempat menurun, hingga kini kembali meningkat.

Kemudian disusul dengan memuncaknya kejenuhan dan memicu penurunan kewaspadaan bagi sebagian masyarakat, yang ditandai dengan peningkatan berbagai aktivitas di luar rumah hingga peristiwa pulang kampung di tengah masa PSBB. Dan yang cukup miris adalah silang sengkarut “aturan main” antar pucuk pimpinan negeri hingga daerah yang memperlihatkan buruknya koordinasi internal semakin menambah keriuhan situasi nasional dalam mengatasi pandemi. Bagian akhir masih belum tampak. Tren menurunnya korban baru terlihat di Jakarta. Namun masih naik di daerah lain, sehingga terlalu dini untuk mengatakan bahwa penyebaran telah berhasil ditekan. Bagaimana dan kapan pandemi ini akan berakhir masih misteri.

Hingga pertengahan Mei 2020, “semangat tempur” melawan Covid-19 sepertinya semakin diuji. Dengan munculnya tagar “Indonesia, terserah”, yang menjadi semacam viral di medsos, menunjukkan mulai ada perpecahan, muncul ketidakpercayaan satu komponen bangsa terhadap komponen yang lain. Puncaknya saat ajakan Presiden untuk berdamai dengan virus SARSCov2 yang diterjemahkan dengan berbagai pemahaman oleh banyak pihak, dari sinyal menyerahnya pemerintah hingga herd immunity.

Indonesia berbeda dengan Amerika atau negara lainnya. Baik dari sistem pemerintahan, bentang alam, kondisi ekonomi, karakter masyarakat dan lain-lain, bahkan strain virus SARSCov2 yang berada di Indonesia dimungkinkan berbeda. Untuk Itu Indonesia harus mampu memahami tantangan yang dihadapi dengan modal yang dimiliki.

Seakan melengkapi pernyataan Presiden, PBB melalui WHO pun telah menyampaikan bahwa virus SARSCov2 tersebut tidak akan pernah hilang dari muka bumi, yang artinya kehidupan tidak akan kembali normal seperti sebelum pandemi. Dengan kata lain, “Selamat datang di era normal baru – new normal”. Sebuah era dengan penerapan protokol kesehatan pada setiap kegiatan, selebihnya hampir sama. Mungkin dengan adanya protokol kesehatan tersebut akan merubah banyak kebiasaan, seperti jam / shift kerja, jarak interaksi antar personal, minimasi prosedur hand carying menjadi electronic work, tata cara pertemuan / rapat, pelaksanaan K3 dan lain sebagainya.

Seperti dipahami, dalam menghadapi pandemi ini membuat hampir seluruh negara di dunia terpuruk. Korban jiwa dan hancurnya sebagian ekonomi terjadi secara global. Bahkan negara adidaya seperti Amerika pun turut merasakannya, bahkan tercatat kasusnya termasuk terbanyak di dunia dengan tingkat kematian yang tinggi. Pun demikian dengan Indonesia, telah tercatat lebih dari 1200 orang meninggal baik dari sipil dan medis, hampir mencapai 1000 kasus baru pada 21 Mei 2020, hingga pergerakan transportasi dan ekonomi/perdagangan yang seakan terhenti.

Indonesia berbeda dengan Amerika atau negara lainnya. Baik dari sistem pemerintahan, bentang alam, kondisi ekonomi, karakter masyarakat dan lain-lain, bahkan strain virus SARSCov2 yang berada di Indonesia dimungkinkan berbeda. Untuk Itu Indonesia harus mampu memahami tantangan yang dihadapi dengan modal yang dimiliki. Artinya kita harus bangkit dengan kemampuan sendiri. Saatnya kembali menyatukan tekad dan mengembangkan sistem Hankamrata, Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta. Dengan bergerak bersama kita akan mampu bangkit kembali.

Pada saat ini kita berada dalam era transisi, dari normal menuju new normal, yakni era darurat. Beban Pemerintah akan menjadi sangat berat jika masa tanggap darurat berlangsung terlampau lama. Di sisi lain kemadirian rakyat juga akan melemah jika terlalu lama terhenti. Beban pemerintah yang terasa besar saat ini adalah sosial ekonomi. Jika beban sosial ekonomi bisa digeser diletakkan pada porsi yang tepat maka bangsa ini diharapkan akan bangkit dengan cepat. Setidaknya ada 7 langkah yang perlu segera dilaksanakan.

  1. Perubahan pola Kebijakan Pemerintah yang parsial menjadi holistik dan sistemik.

Artinya tidak boleh lagi ada aturan / kebijakan yang tumpang tindih. Kebijakan hanya ada satu alur, yakni alur maju. Segera tetapkan roadmap yang tepat dan diterjemahkan secara mendetail bukan sekedar wacana, yakni setiap kegiatan harus detail sistem dan tatalaksananya. Perlu segera dilaksanakan PSBB Nasional dengan pelonggaran terukur sesuai perhitungan para ahli epidemiolog dan ahli-ahli terkait lainnya. mengingat pengalaman DKI Jakarta sempat berhasil menurunkan angka kasus baru. Selanjutnya kebijakan terkait transportasi, pergerakan barang bersifat nasional, sedangkan pergerakan manusia untuk sementara dibatasi hingga tingkat Propinsi. Yang tidak kalah penting pada poin ini adalah menghilangkan kegaduhan politik dengan peningkatkan koordinasi internal, perbaikan sistem data, pengawasan Keuangan Negara dan penyiapan kebijakan jangka panjang untuk masa tanggap darurat dan fasilitas kedaruratan hingga kebijakan / protokol pasca tanggap darurat termasuk persiapan menghadapi pandemi gelombang kedua.

  • Pada aspek kesehatan perlu ada peningkatan kualitas dan kuantitas faskes, proses tes laboratorium yang cepat dan akurat serta mampu mendorong terciptanya obat dan vaksin produksi dalam negeri, percepatan penyebaran protokol kesehatan mandiri kepada semua lini yang bersifat massal dan individual, sehingga tidak diperlukan lagi operasi/razia dari pemerintah (beban pengawasan pemerintah bisa dikurangi). Dengan langkah kedua ini diharapkan tingkat kesembuhan semakin meningkat dibanding yang gagal sembuh, tingkat kepanikan masyarakat menurun, yang sehat tidak mudah tertular, sedangkan yang tertular tertangani dengan baik dan bisa sembuh. Sehingga mampu bertahan jika terjadi pandemi gelombang kedua.
  • Pelonggaran kegiatan ekonomi secara normal, Operasi pasar bahan pokok dan peningkatan ketahanan pangan.

Keyakinan terhadap jaminan pelayanan kesehatan dapat meningkatkan geliat ekonomi lokal. Didukung proses distribusi barang dan kebijakan transportasi yang baik dan terkontrol, proses ini perlu dijaga dari para spekulan dan mafia perdagangan, hingga pengaturan Ekspor Impor yang lebih ketat, agar tidak merusak ekonomi kerakyatan yang berbasis ketahanan pangan.

  • Penjaminan pelaksanaan protokol pandemi area khusus pendidikan dasar dari masing-masing instansi penyelenggara. Anak-anak dan remaja sangat riskan tertular, sehingga memerlukan pendampingan dalam kedisiplinan PHBS dan protokol kesehatan khusus lainnya.
  • Penjaminan pelaksanaan protokol pandemi untuk instansi / perusahaan secara umum. Meliputi pengaturan jarak, jam dan sistem kerja, serta protokol K3 menjadi tanggung jawab masing-masing instansi / perusahaan.
  • Peningkatan kualitas JPS dan perbaikan data untuk jangka pendek menengah dan panjang dengan melibatkan koordinasi hingga lingkup RT.
  • Pengembangan kegiatan padat karya dengan protokol kesehatan untuk penyerapan tenaga kerja.

Saatnya Indonesia bangkit! Mari kita gerakkan seluruh komponen kekuatan bangsa dengan cara yang aman dan sehat menuju Indonesia yang lebih baik lagi. Salam.

(Visited 108 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 22 Mei 2020
Close