Ditulis oleh 8:14 am KALAM

Kebangkitan Nasional dan Lingkungan Hidup

Kesadaran manusia Indonesia akan pentingnya merawat lingkungan adalah juga untuk menuju kemerdekaan lingkungan. Artinya, lingkungan akan memiliki keberlanjutan dari generasi sekarang kepada generasi-generasi selanjutnya agar tetap dapat dimanfaatkan dan mencukupi kebutuhan.

UU No. 32 Tahun 2009 menyatakan bahwa lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Unsur-unsur ingkungan hidup saling berinteraksi satu sama lain dalam suatu hubungan timbal balik membentuk ekosistem. Contoh ekosisitem yang memiliki pengaruh penting bagi kelangsungan banyak makhluk hidup diantaranya, hutan hujan tropis, sabana, pegunungan, serta lautan.

Pada ekosistem kini banyak dijumpai ketidakseimbangan. Hal ini berarti menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan lingkungan hidup. Wujudnya berupa kerusakan lingkungan di mana-mana. Contohnya adalah rusaknya ekosistem laut, rusaknya terumbu karang, kerusakan serta kebakaran hutan, polusi dan pencemaran limbah, rusaknya mata air karena penambangan, menipisnya sumber daya alam (SDA), juga punahnya keanekaragaman hayati. Dari hari ke hari, kerusakan lingkungan hidup sebagaimana disebutkan terus bertambah.

Pemicu terjadinya kerusakan tersebut terutama adalah faktor manusia. Jauh-jauh hari hal ini juga sudah disinggung dalam al-Quran, surat Ar-Ruum: 41, yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Faktor manusia menjadi aktor utama kerusakan lingkungan adalah karena ketiadaan kesadaran manusia. Hal ini senada dengan banyak pakar yang menyebut kerusakan lingkungan atau krisis ekologis terkait dengan aspek spiritualitas. Llywellyn Vaughan-Lee, pakar ecology spiritual, menyebut kerusakan lingkungan sebagai cermin atas krisis spiritual. Di sini, manusia kehilangan rasa hormatnya terhadap kesakralam alam. Karenanya pemulihan keseimbangan ekosistem diawali dengan membangun kesadaran manusia akan kesakralan alam.

Kebangkitan Kesadaran Lingkungan

Bangkitnya kesadaran dalam memperbaiki dan melestarikan lingkungan selaras dengan spirit kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional yang identik dengan lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 adalah cermin bangkitnya kesadaran masyarakat untuk merdeka. Dalam persoalan bangsa khususnya yang semakin kompleks, kesadaran diperlukan dalam arti luas. Krisis ekologis berdampak pada kehidupan manusia secara luas. Karenanya persoalan ekologi menjadi pokok persoalan yang tak kalah pentingnya di banding hal-hal lain bagi bangsa Indonesia.

Dewasa ini, terkait kesadaran untuk menghormati kesakralan alam telah berkembang dalam tataran wacana ekologi spiritual (spiritual ecology). Vaughan-Lee menyebutkan bahwa di dalam ekologi spiritual terkandung beberapa dimensi seperti ekologi, environmentalisme, kesadaran, sakralitas, dan spiritual. Pemaknaan ini tidak merujuk pada agama maupun jalur spiritual tertentu akan tetapi tetapi lebih menekankan bahwa semua ciptaan memiliki sifat suci.

Kesadaran manusia Indonesia akan pentingnya merawat lingkungan adalah juga untuk menuju kemerdekaan lingkungan. Artinya, lingkungan akan memiliki keberlanjutan dari generasi sekarang kepada generasi-generasi selanjutnya agar tetap dapat dimanfaatkan dan mencukupi kebutuhan. Kesadaran ini tentu bukan dengan prinsip eksploitasi yang seolah menunjukkan kuasa manusia atas alam. Melainkan kesadaran bahwa lingkungan juga memiliki hak untuk tetap lestari. Dengan kelestariannya itu akan terjadi hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan sehingga terjaga kelangsungan ekologis.

Kebangkitan kesadaran manusia terhadap lingkungan adalah syarat terciptanya manusia ekologis (ecological man). Manusia ekologis ini memiliki pikiran dan perilaku yang ramah pada lingkungan. Pikirannya adalah tidak untuk merusak lingkungan dan ini akan berimbas pada perilaku yang tetap menghormati alam. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, tidak menebang pohon serampangan, juga melakukan penghematan dalam penggunaan beragam energi.

Kesadaran dalam Ekoliterasi

Ekoliterasi merupakan bentuk upaya ‘melek lingkungan’. Fritjof Capra dalam Ecoliteracy: The Challenge for Education in the Next Century, mempopulerkan ekoliterasi sebagai suatu upaya penumbuhan kesadaran ekologis bagi masyarakat, yang kelak berkembang menjadi eco-design. Capra adalah seorang direktur pendiri pusat ekoliterasi di Berkeley, California sejak tahun 1995. Banyak periset yang kemudian mendukung pandangan Capra, salah satunya berupa pandangan yang mengatakan bahwa ekoliterasi terbukti efektif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan cara tentang pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan berdasarkan pertanian lokal.

Penumbuhan ekoliterasi juga dapat dilakukan di lembaga pendidikan. Sekolah merupakan lembaga terstruktur yang menerjemahkan ekoliterasi melalui adanya Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Pada mulanya, PLH berdiri sebagai bidang studi terpisah dari bidang studi lain. Saat ini dengan dihapuskannya PLH sebagai bidang studi di sekolah, spirit PLH terintegrasi pada setiap bidang studi yang diajarkan sesuai kurikulum yang berlaku. Dengan demikian setiap bidang studi memiliki peran yang sama dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan. Sebagai contoh, membiasakan siswa menggunakan alat makan sendiri saat membeli makan di sekolah, membawa tempat minum sendiri pada saat membeli minuman di sekolah, serta aktivitas menanam dan merawat tanaman.

Dalam praktik pembelajaran, penerapan ekoliterasi juga bisa dengan membuat poster hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global. Poster yang telah dibuat tersebut lalu dipresentasikan untuk mentransfer kesadaran lingkungan kepada banyak orang. Hal sederhana tersebut memberikan pengalaman pada anak untuk berlatih melakukan kampanye kepada publik dalam kaitannya dengan lingkungan. Dengan itu juga nilai-nilai pelestarian lingkungan hidup dapat terinternalisasi dalam diri siswa. Kebangkitan nasional yang identik dengan kebangkitan kesadaran relevan dengan tumbuhnya kesadaran lingkungan sebagai titik tolak dalam mengatasi ketidakseimbangan ekologis (baca: krisis ekologis). Spirit kebangkitan nasional adalah spirit untuk mencari strategi baru dalam perjuangan untuk melestarikan lingkungan hidup. Ekoliterasi menjadi salah satu jawabannya yang diselenggarakan melalui praktik pembelajaran terpadu di sekolah. Kalangan terpelajar sudah semestinya melek lingkungan yang ditandai oleh tumbuhnya kesadaran lingkungan. Semakin terpelajar seseorang maka semakin melek lingkungan, yang berarti pula semakin memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

(Visited 33 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close