Kebangkitan Nasional dan Semangat Bersenandung Anak Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tak ada yang layak direndahkan jika seseorang telah memiliki cita-cita yang tinggi.

(Kebangkitan Nasional Perspektif Seni)

“Aku adalah anak gembala selalu riang serta gembira
karena aku senang bekerja tak pernah malas ataupun lelah
Tra lala lala lala Tra lala lala lala lala…”
(Anak Gembala, karya: AT. Mahmud)

Siapa yang tak kenal lirik lagu Anak Gembala yang sangat popular ini? Dulu dalam keadaan lelah di sela-sela waktu belajar, ajakan Guru untuk menyanyikan lagu ini terasa sangat manjur menghilangkan penat berfikir para murid. Anak gembala dengan serulingnya saat itu seolah diidentikan dengan senandung kegembiraan anak-anak Indonesia. Buku-buku pelajaran atau majalah sering menggunakan ikon gambar anak gembala untuk mewakili kegembiraan akan nyanyian. Mengapa anak gembala? Apa hubungan nyanyian dengan anak gembala?.

Jawaban spontan anak-anak waktu itu mungkin karena gembala selalu meniup serulingnya saat bekerja. Haha…itulah jawaban pencitraan yang tengah dibangun untuk anak-anak, bukan jawaban realita yang mengarah pada fakta empiris (Ah…ternyata lagu pun bisa digunakan sebagai alat membangun pencitraan yah…). Namun apakah memang demikian faktanya? Bahwa anak gembala pasti meniup serulingnya saat bekerja? Tentu saja tidak! Dulu saya sempat jadi anak gembala dan saya tak pernah bisa meniup seruling bambu yang menjadi ikon anak gembala di buku-buku pelajaran dan majalah itu.

Kontradiksi Anak Gembala dan Serulingnya

Secara makna fisik, anak gembala atau lare angon (Jawa) adalah wajah kesengsaraan yang mewakili masyarakat kelas menengah ke bawah. Kaum buruh kecil yang senantiasa tampil sederhana kalau tak bisa disebut kekurangan. Teringatlah saya dimasa lampau bila seorang teman menyebut, “Kana angon wae…!” (Sana menggembala saja!) itu adalah kalimat ejekan dengan maksud merendahkan lawan bicaranya. Seolah telah mafhum bahwa angon atau menggembala adalah pekerjaan rendah kalangan masyarakat bawah. Dan oleh karenanya seolah buruh kecil seperti penggembala tak layak memiliki impian.

Sementara disisi lain lagu dan kegembiraan berlagu adalah wajah kebahagiaan yang sering mewakili citra kalangan atas untuk mengekspresikan kenyamanan hidupnya. Bersenandung dan menikmati tembang adalah barang mewah yang hanya pantas dilakukan oleh kalangan terhormat. Buruh kecil seperti gembala cukup bekerja keras menyenangkan hati majikannya, bukannya mencari kesenangannya sendiri seperti bersenandung atau bernyanyi. Itulah sebabnya saat itu lirik lagu yang diajarkan lebih banyak menggunakan bahasa kolonial, bukan bahasa pribumi yang dimengerti rakyat jelata.

Lalu sejak kapan dan bagaimana awal mulanya sehingga gembala tiba-tiba saja dilekatkan dengan seruling dan kebiasaan bersenandung atau berlagu? Bahkan seolah diidentikkan, sehingga jika ada gambar anak gembala tak lengkaplah bila ia belum memegang atau meniup serulingnya. Inilah sumbangsih luar biasa para seniman dan pemikir serta pujangga kita tempo dulu dalam mengemas pesan kebangkitan bangsa. Sebuah kontradiksi yang sengaja dimaksudkan sebagai pelecut motivasi kebangkitan kaum bumi putera yang termarjinalkan alam kolonial.

Spirit Senandung Gembala

Pencipta lagu anak-anak seperti Pak AT Mahmud dengan lagunya Anak Gembala dan ratusan lagu karya beliau lainnya adalah seorang seniman pejuang dengan idealisme dan nasionalisme yang tinggi. Sebagaimana para seniornya seperti Ibu Soed, C Simanjuntak, Ismail Marzuki, Kusbini dan lainnya mereka adalah patriotik sejati yang bejuang melalui lagu-lagu yang diciptakannya. Bukan pencipta lagu yang berkarya hanya untuk ketenaran diri dan kemewahan hidup duniawi semata.

Dalam sebuah kesempatan Ibu Soed pernah menuturkan motivasinya mencipta lagu anak-anak, “Saya prihatin melihat anak-anak Indonesia yang tampak kurang gembira saat itu. Hal itu membuat saya berpikir untuk menyenangkan mereka dengan bernyanyi lagu ceria. Lagu-lagu berbahasa Indonesia yang bersifat ceria dan patriotik untuk anak-anak Indonesia.” Perhatikanlah pernyataan Ibu Soed yang luar biasa dan visioner tersebut. Anak-anak Indonesia haruslah gembira karena kegembiraan membangun imunitas tubuh, membangun semangat dan optimisme yang pada akhirnya akan menyalakan inspirasi pengabdian terbaik kepada negeri. Saat itu untuk bernyanyi pun anak-anak Indonesia tak punya pilihan, mereka menyanyi hanya dalam bahasa kolonial. Seolah menyiratkan bahwa kegembiraan dan kebahagiaan tak layak bagi kalangan pribumi atau bumi putera.

Melihat kondisi yang demikian itu bukanlah hal yang bersifat kebetulan belaka jika anak gembala dipilih sebagai simbol yang tepat untuk melantunkan senandung kebahagiaan. Lebih jauh gembala kecil yang menjadi wajah kesengsaraan itu sebenarnya adalah personifikasi bangsa Indonesia sendiri. Melalui lagu-lagu yang diciptakannya para seniman mencoba membangunkan kesadaran dan rasa nasionalisme bangsa Indonesia dari tidur panjangnya sejak berakhirnya perang Diponegoro (1830). Mereka menyentak kesadaran putra bangsa, bahwa gembala kecil pun layak bersenandung. Layak memiliki lagu bahagia. Layak memiliki harapan dan membangun cita-cita masa depannya yang indah.

Pesan tersirat yang mereka inginkan adalah tumbuhnya semangat bersenandung para putra-putri Indonesia. Semangat bersenandung ini bukan saja bermakna aktivitas bernyanyi atau bermusik semata, namun semangat bersenandung juga memiliki makna spirit bumiputera untuk menata masa depannya yang lebih indah. Tak ada yang layak direndahkan jika seseorang telah memiliki cita-cita yang tinggi.

Harapan Besar di Pundak Gembala

Anak gembala atau lare angon dalam hasanah literatur Jawa memang buruh kecil yang menjaga binatang ternak yang dipercayakan majikan pada dirinya, namun secara filosofi gembala adalah sosok calon pemimpin yang tengah melewati masa laku dan penggemblengannya. Dalam fragmentasi kisah-kisah utama yang terdapat pada Al Qur’an maupun Hadits banyak kita dapati masa muda para nabi pilihan dilalui dengan menggembalakan domba. Masyarakat Jawa pun sangat mengenal tembang “Lir Ilir” karya Sunan Kalijaga di awal abad ke 6 yang menggambarkan perjuangan anak gembala (Bocah Angon) dalam memanjat dan meraih buah belimbing walau pohonnya sangat licin. Bocah angon adalah gambaran seorang imam atau pemimpin yang berjuang menegakkan rukun Islam yang lima (digambarkan sebagai buah belimbing bersisi lima).

Gembala kerap digambarkan tampil di belakang ternak gembalaannya mengisyaratkan ia benar-benar memerankan falsafah tut wuri handayani. Dari belakang kawanan ternaknya itu seorang gembala menjaga dan berusaha memastikan keamanan dan kesejahteraan semua binatang yang digembalakannya. Seorang gembala tidak akan membiarkan ternaknya berkeliaran tanpa pengawasan, menghabiskan makanan tanpa kendali, mati kelaparan, atau terserang penyakit dan tidak terurus.[1]

Maka dibalik penampilan sederhana seorang gembala sebenarnya tersimpan harapan besar padanya. Harapan hadirnya sosok pemimpin, penjaga, pelindung yang mengayomi secara adil seluruh rakyatnya. Pemimpin yang mampu memainkan senandung indah yang menenteramkan kegelisahan rakyat yang dipimpinnya sekaligus memotivasinya untuk mengambil peran terbaik bagi tanah air dan bangsanya.

Semangat Bersenandung, Semangat Kebangkitan Bangsa

Tak perlu disangsikan lagi, selama beberapa dekade para seniman khususnya pencipta lagu, para pendidik dan pemimpin bangsa ini bahu-membahu membangun semangat bersenandung putra-putri pertiwi. Lagu-lagu Nasional yang membakar semangat dan lagu-lagu daerah yang menunjukkan kekayaan budaya bangsa yang luar biasa masih kita jumpai masuk dalam kurikulum pendidikan kita secara masif, hingga tahun-tahun 90-an. Efeknya semangat kebangkitan 1908, optimisme dan nasionalisme relatif terjaga di dada setiap putra bangsa ini. Lalu apa yang terjadi dengan bangsa ini kini? Tiba-tiba saja semangat bersenandung itu seolah pergi. Berganti rintihan, keluhan derita dan caci maki. Bangsa besar nan kaya raya akan sumber daya alamnya ini seolah terpuruk dalam kubang pesimisme yang dalam dan menyesakkan. Terhimpit puing-puing keserakahan dan egoisme pribadi. Sementara para pemimpinnya kembali ‘menyenandungkan’ lagu-lagu kolonial yang tak dimengerti rakyatnya sendiri.

Terdorong kesadaran menjaga semangat bersenandung untuk kelestarian semangat kebangkitan nasional inilah sekumpulan anak muda di Yogyakarta mendirikan SCLA Indonesia (Sekolah Cipta Lagu Anak Indonesia). Melalui komunitas ini ratusan lagu baru telah mereka ciptakan untuk anak negeri. Melalui lagu-lagu tersebut, mereka mencoba mengikuti para pendahulunya seperti Ibu Soed, Pak Kasur dan Pak AT Mahmud berjuang mengembalikan dunia kebahagiaan anak Indonesia yang saat ini telah teracuni selera musik industri. Bagaimana mungkin kita akan mewujudkan generasi emas 2045, jika senandung anak-anak kita saat ini hanya berkutat masalah perselingkuhan, cinta dan patah hati yang kadang bahkan diekspresikan dengan bahasa sarkas penuh caci maki.

Dibutuhkan dukungan penuh semua pihak dan lapisan masyarakat untuk mengembalikan semangat bersenandung anak negeri ini. Dunia industri musik semestinya didorong tak sekedar mencari keuntungan. Peran dunia media khususnya pertelevisian tak kalah penting dengan peran penyiaran. Terlebih para pemegang kebijakan di pemerintahan dan para wakil rakyat anggota dewan. Saat ini para pendidik khususnya di tingkat dasar dan anak usia dini sebagai ujung tombak pendidikan bangsa seolah dibiarkan berjuang sendiri. Mereka mengenalkan dan membentuk karakter anak melalui senandung kegembiraan yang positif, sementara kebanyakan orangtua di rumah cuek, dunia industri musik meracuni, media terlalu asyik mengejar ratingnya, dan pemerintah tak memberi dukungan berarti.

Saat ini, setelah seabad lebih momentum pertama kebangkitan nasional berlalu. Kita sangat merindukan karakter pemimpin yang total menjaga, melindungi dan ikhlas berkorban di tengah terik dan hujan. Kepemimpinan anak gembala. Pemimpin sejati tak pernah takut menderita. Sebagaimana kata-kata KH Agus Salim, “Memimpin adalah menderita.” Kita rindu senandung dan alunan serulingnya yang menyejukkan hati. Pemimpin sejati pasti tahu senandung yang disukai dan dibutuhkan rakyatnya, bukannya bersenandung untuk kesenangan dirinya sendiri. dan segelintir pemodal yang telah nyata membeli bangsa ini dengan harga murah. Bung Karno pernah berseru lantang, “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.” Dan hari ini kita menjadi kuli di negeri sendiri. Tak berani bersenandung dan lantang menyuarakan mimpi lagi.

Mari kembalikan semangat bersenandung yang telah hilang. Mari songsong kembali kebangkitan nasional demi terwujud Indonesia Emas 2045 mendatang!


[1] Lare Angon, https://belajar.kemdikbud.go.id/PetaBudaya/Repositorys/lare_angon/

Setyoadi Purwanto (Kak Adi Kitana)

Setyoadi Purwanto (Kak Adi Kitana)

Dosen tetap di STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta. Pengurus-penggiat dakwah dan pendidikan di Yayasan SPA Indonesia. Pendiri SCLA Indonesia (Sekolah Cipta Lagu Anak Indonesia) dan pencipta lebih 450 lagu anak Indonesia.

Terbaru

Ikuti