Ditulis oleh 9:04 am COVID-19

Kebangkitan Nasional Melawan Covid-19

Kita bisa bangkit kembali meskipun wabah Covid19 tetap bercokol dalam jangka waktu yang panjang.

Tirto.id mengabarkan pertumbuhan ekonomi Indonesia turun 50% di kuartal pertama 2020[1]. Penyebab utama adalah menurunnya konsumsi masyarakat akibat diberlakukannya protokol kesehatan menghadapi wabah Covid-19. Masyarakat dianjurkan untuk tetap tinggal di rumah. Kalau terpaksa ke luar rumah, pakai masker di ruang publik, jaga jarak, dan sering cuci tangan; kalau perlu, bawa hand sanitizer, gunakan untuk membersihkan benda publik seperti pegangan pintu atau pagar pengamanan sebelum kita pegang. Seluruh kegiatan yang melibatkan kerumunan orang banyak seperti belanja di mal pasar, konser musik, pertandingan olahraga, dan pariwisata perlu dihindari.

Orang sering berwisata makan-makan, sekarang makan saja di rumah. Akibatnya terjadi pasokan bahan makan berlebihan. Masyarakat bawah yang dalam kesehariannya hanya bisa makan saja, tidak ikut makan-makan, sedikit merasakan turunnya harga tetapi tidak berlama-lama karena produsen akan segera menyesuaikan produksinya dengan kebutuhan konsumsi. Teknik pengawetan bahan makan masih belum bisa diterapkan sepenuhnya untuk buah dan sayur. Mulai muncul berita dibuangnya dagangan buah dan sayur karena dijual murah pun sudah tidak ada bisa menyerapnya[2]. Penurunan harga ada batasnya mengingat tetap tingginya biaya distribusi.

Banyak orang senang nonton olah raga, dalam suasana wabah, kita dianjurkan berolahraga sendiri di rumah. Akibatnya, kegiatan perekonomian terkait mulai dari penjualan tiket sampai jajanan makanan terhenti. Kegiatan seputar tontonan olah raga tidak hanya terjadi pada saat pertandingan namun juga saat latihan, penentuan pemain dan sebagainya. Secara umum hanya pingpong single, bowling, dan golf saja yang dapat dimainkan dengan jaga jarak seperlunya. Olah raga lain tidak hanya penonton yang kesulitan jaga jarak namun pemain pun seperti di sepak bola dan volly tidak bisa menghindari kontak fisik satu sama lain.

Semua kegiatan kunjungan wisata baik yang alami maupun berbagai wahana permainan terhenti[3]. Pergerakan ekonomi sektor ini boleh dibilang terhenti. Tindakan pencegahan penularan antar daerah juga termasuk menghentikan transportasi darat, laut dan udara. Menteri Keuangan sempat menyampaikan keluhan pemerintah daerah yang kehilangan PAD dari berbagai retribusi.

Wabah Covid-19 juga menyebabkan perlu dihindarinya semua kegiatan sosial dan keagamaan yang menumbuhkan kerumunan. Pernikahan, sekolah, pengajian, sholat berjamaah, bahkan sampai melayat pun sangat dibatasi. Masalahnya sudah diketahui bahwa wabah ini menular melalui semburan halus cairan hidung dan mulut orang yang terinfeksi ketika dia berbicara, batuk atau bersin. Penularan hanya bisa kita cegah dengan menjauhkan orang-orang satu sama lain atau memasang tabir pemisah. Tabir bisa terpasang berupa pemisah fisik dinding ruangan atau yang paling ringan adalah masker kain penutup hidung dan mulut.

Penularan hanya bisa kita cegah dengan menjauhkan orang-orang satu sama lain atau memasang tabir pemisah.

Bagaimana kita bangkit dari keterpurukan ekonomi seperti ini? WHO telah memberi peringatan sangat boleh jadi keberadaan virus wabah Covid19 tidak akan bisa diberantas dalam waktu dekat[4]. Kita akan hidup bersama wabah ini dalam jangka waktu bertahun-tahun ke depan. Kita harus membuat persiapan agar bisa bangkit kembali di tengah-tengah kondisi baru. Sebenarnya beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan bukan hal baru. Dulu di tahun 70-an, anak-anak bebas bermain di jalan, sawah, dan lapangan olah raga. Dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor, menciutnya ruang publik, serta munculnya modus-modus kejahatan baru, anak-anak sekarang tidak lagi bebas bisa bermain bersama tetangga.

Ketika anak-anak tidak lagi bisa bebas bermain di halaman tetangga, teknologi menawarkan kesibukan baru: nonton TV, akses Internet, komunikasi SMS serta video chatting dan sebagainya. Sudah barang tentu kita harus selalu melakukan evaluasi baik buruknya dampak kehadiran kesibukan baru tersebut. Kadang kita tidak bisa membalik akibat buruk menjadi baik tetapi setidaknya kita bisa sampaikan ke generasi berikut pengalaman kita agar bisa dipertimbangkan untuk mengambil keputusan mereka.

Batas kegiatan yang bisa kita lakukan dalam lingkup ancaman wabah Covid-19 adalah menghindari bertemu tatap muka dengan orang lain dalam jarak lebih dekat dari 2 meter. Batas ini sederhana tetapi dampaknya cukup besar. Dalam kondisi normal sebelum wabah, kita hidup berdesak-desakan di kendaraan umum. Kondisi normal baru harus melanjutkan kebijakan darurat kerja di rumah untuk bidang-bidang pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah. Lalu lintas diprioritaskan untuk pekerja yang tidak bisa dikerjakan dari rumah seperti satuan pengamanan dan kebersihan bangunan, serta pemeliharaan infrastruktur fisik jaringan listrik dan komunikasi data. Dengan demikian penggunaan kendaraan umum dapat dilonggarkan.

Keramaian pasar modern maupun tradisional dapat dikurangi dengan lebih mengutamakan pemanfaatan home delivery service. Hai ini dapat sekaligus menyerap tenaga kerja ojek pengantar penumpang yang layanannya tidak bisa diterima di era normal baru[5]. Kebanyakan transaksi di pasar tradisional berurusan dengan kebutuhan dasar makan. Secara umum para pedagang di sana tidak kehilangan konsumen kecuali beberapa pedagang kelas menengah yang melayani hotel dan restoran[6]. Awal masa pembatasan aktivitas pergerakan masyarakat terbukti dengan cepat dapat menumbuhkan kreativitas pemasaran langsung ke konsumen dirumah-rumah. Hai ini dimungkinkan oleh sebaran infrastruktur komunikasi data dengan SMS maupun sistem komunikasi teks berbasis Internet sudah cukup merata sampai kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

Pedagang pasar tradisional telah bangkit melompat ber transformasi digital. Pemerintah harus cepat tanggap memfasilitasi mereka dengan fasilitas micro payment yang menyeluruh sehingga tidak diperlukan lagi pengalihan uang digital ke dalam bentuk tunai tradisional. Di saat pelaku pasar tradisional tingkat ujung terbawah telah siap dengan transformasi digital, tingkat di atasnya belum sepenuhnya menerima pembayaran uang tunai sehingga pada akhirnya konsumen harus menyediakan juga uang tunai untuk belanja sehari-hari.

Kita bisa ikuti kebangkitan perekonomian Indonesia dengan cepatnya perusahaan besar menyesuaikan diri menuju hidup dalam tatanan sosial baru. Sritex, salah satu produsen garmen terbesar di Indonesia cepat tanggap dengan inovasi produk masker kain anti bakteri, APD, dan jaket anti mikroba[7]. Sejumlah hotel siap mengantar suasana kemewahan ke rumah[8].

Di tata sosial baru, perusahaan transportasi darat, laut, dan udara tidak lagi bisa mengandalkan tingginya volume penumpang sebagai strategi mendapatkan keuntungan dengan menjual tiket murah. Antisipasi volume perjalanan jarak jauh perlu disesuaikan hanya bagi mereka yang punya kepentingan esensial saja. Keuntungan masih bisa didapat dengan memberlakukan tarif normal baru. Berkurangnya volume perjalanan darat, laut dan udara sangat baik bagi lingkungan hidup kita[9].

Berkurangnya volume perjalanan darat, laut dan udara sangat baik bagi lingkungan hidup kita.

Di tata sosial baru, peran operator jaringan komputer data akan mendapatkan posisi yang utama sejajar dengan penyedia pasokan listrik, air bersih serta pengembangan dan pemeliharaan jalan raya. Sudah waktunya negara kembali menguasai kendali atas layanan jaringan komunikasi data karena sudah masuk kategori menguasai hajat hidup orang banyak. Karena telekomunikasi telah menjadi sarana vital, pemerintah perlu memprioritaskan pengembangan industri pendukungnya seperti kabel serat optik, router, dan komputer-komputer server[10].

Di dunia hiburan, kegiatan yang menarik kerumunan penonton perlu ditutup. Ini tentu mengecewakan penyelenggara beserta sejumlah tenaga kerjanya serta masyarakat penggemarnya. Kita pernah mengalami penutupan tempat hiburan ketika perjudian dan pelacuran dinyatakan melanggar hukum di Indonesia. Bila memang sudah tidak bisa disesuaiakan lagi dengan tata sosial baru, kita harus merelakan penutupan aktivitas-aktivitas tertentu.

Beberapa pelaku ekonomi sektor hiburan sudah terbantukan oleh inovasi industri berbasis jaringan Internet dengan terbentuknya kebiasaan nonton melalui jaringan komunikasi data. Dari sisi penyelenggara, konser musik pada umumnya tidak melibatkan banyak pemain dan relatif mudah mengatur jaga jarak. Sebaliknya, kebanyakan tontonan pertandingan olahraga populer seperti sepak bola dan volly tidak mudah menghindari sentuhan antar pemain. Mungkin hanya pingpong single saja yang menjamin terjaganya jarak antar pemain. Di tata sosial baru barangkali tontonan olahraga dapat dialihkan ke bentuk-bentuk perlombaan yang lebih mudah mengatur jaga jarak antar pemainnya.

Di sektor pendidikan, konsep home schooling yang mulai banyak diterapkan masyarakat di Indonesia perlu dimatangkan agar dapat dijadikan alternatif pendidikan untuk menghindari kerumunan di sekolah[11]. Dengan rancangan yang tepat, home schooling akan berpadu dengan kebijakan work from home  meningkatkan ketahanan nasional berbasis keluarga. Tentu saja perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan terus menerus mengingat mulai muncul laporan-laporan seputar peningkatan kekerasan dalam keluarga pada masa PSBB saat ini[12]. Kegiatan Institusi pendidikan dapat difokuskan pada kegiatan-kegiatan praktik yang memerlukan peralatan yang tidak dimungkinkan untuk diadakan di rumah serta memerlukan pendampingan dari pendidik profesional dengan menerapkan protokol kesehatan berlaku.

Kita bisa bangkit kembali meskipun wabah Covid19 tetap bercokol dalam jangka waktu yang panjang. Yang penting kita terus berusaha menemukan celah untuk dapat melakukan hal-hal baru dalam batasan protokol jaga kesehatan yang baru. Manusia sudah terbiasa menemukan kesibukan baru kala terdesak perkembangan teknologi yang selalu berusaha mengambil alih kesibukan kerja manusia. Kali ini, kita bekerjasama dengan teknologi untuk mengatasi masalah baru.


[1]    https://tirto.id/ekonomi-kuartal-i-2020-tersungkur-indonesia-terancam-resesi-fpp5

[2]    https://bisnis.tempo.co/read/1343112/viral-petani-bagikan-sayur-gratis-di-jalan-ini-kata-kementan

[3]    https://nasional.kontan.co.id/news/industri-pariwisata-terpukul-wabah-corona-ini-yang-diminta-phri

[4]    https://www.antaranews.com/berita/1447828/who-ingatkan-pandemi-covid-19-masih-jauh-dari-selesai

[5]    https://bisnis.tempo.co/read/1328865/dilarang-angkut-penumpang-pendapatan-ojek-online-turun-50-persen

[6]    https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20200504152240-33-156107/corona-bikin-81-juta-pegawai-hotel-restoran-ri-dirumahkan

[7]    https://market.bisnis.com/read/20200518/192/1241917/setelah-masker-dan-apd-sritex-sril-luncurkan-jaket-antimikroba-berapa-harganya

[8]    https://highend-magazine.okezone.com/read/daftar-hotel-mewah-yang-siap-mengantar-menu-iftar-spesial-ke-rumah-anda-4M2qK1

[9]    https://www.liputan6.com/global/read/4217965/udara-bersih-saat-pandemi-corona-jadi-bukti-aktivitas-manusia-merusak-lingkungan#

[10]  https://theconversation.com/menuju-indonesia-4-0-pentingnya-memperkuat-infrastruktur-dan-kecakapan-memakai-internet-112870

[11]  https://cantik.tempo.co/read/1320670/libur-sekolah-efek-corona-ini-tips-belajar-di-rumah-ala-praktisi-homeschooling/full&view=ok

[12]  https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/05/09/kekerasan-rumah-tangga-saat-pandemi-covid-19/

(Visited 24 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 19 Mei 2020
Close