Kebangkitan Nasional Sebagai Momentum Menggalang Langkah Bersama Mengakhiri Pandemi Covid 19

momentum_01
Generasi muda Indonesia sebagai generasi milenial diharapkan bisa secara sadar memaknai peringatan kali ini sebagai momentum untuk berubah dengan mengambil hikmah dari wabah yang menjadikan kita serba terbatas dalam bergerak dan berkreasi.

Kebangkitan nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo, sedangkan kebangkitan pemuda Indonesia ditandai dengan adanya peristiwa Sumpah Pemuda. Kedua peristiwa itu merupakan bagian dari peristiwa-peristiwa yang menjadi tonggak sejarah kemerdekaan negara Indonesia. Keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka membuahkan berbagai gerakan untuk bangkit, dan dengan bersatunya beberapa tokoh kunci pergerakan maka terjadilah Indonesia berbangkit.

Momentum hari kebangkitan nasional mestinya bisa menjadi awal bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan akibat adanya pandemi Covid-19. Apabila dikaitkan dengan keadaan pada saat Indonesia merebut kemerdekaannya saat itu, sangat mungkin bagi bangsa Indonesia untuk bisa kembali bangkit. Merebut kemerdekaan jauh lebih berat daripada membasmi Covid-19. Saat ini menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki atau meningkatkan semua aspek kehidupan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, budaya maupun pendidikan.

Pandemi Covid-19 dapat dirasakan dampak negatifnya dalam semua bidang, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada Kamis (5/3) menyatakan kurang lebih 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan dampak pandemi ini mengancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Dunia pendidikan di Indonesia juga merasakan dampaknya. Apabila kondisi seperti ini terus berjalan, bisa dipastikan dampaknya terhadap sektor pendidikan juga semakin meningkat. Dampak yang paling dirasakan adalah peserta didik di instansi atau lembaga penyelenggara pelayanan pendidikan, seperti sekolah di semua tingkatan, lembaga pendidikan non formal, hingga perguruan tinggi.

Semua orang yang terlibat dalam pendidikan terdampak oleh Pandemi Covid-19, dari mulai orang tua, guru, siswa, dosen, mahasiswa. Tidak berhenti sampai di situ, orang yang tidak terlibat langsung dengan pendidikan seperti supir angkot, supir ojol, antar jemput, pedagang makanan dan minuman, warung-warung, rumah makan, kios fotokopi dll ikut terkena dampak. Aktivitas keseharian siswa berubah total. Mereka yang biasa setiap hari berangkat sekolah dengan diantar orang tua atau dijemput ojol atau naik motor sendiri berubah kebiasaannya. Perubahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya yaitu berdiam di rumah. Meskipun ada banyak waktu yang bisa mereka manfaatkan, proses pembelajaran tidak lebih baik dari yang biasa berlangsung. Sebagian warga masyarakat, terutama orang tua, mereka mengeluhkan besarnya dana untuk penggunaan paket data karena pembelajaran online, dan hal itu membuat mereka kalang kabut secara ekonomi.

Keluhan dari berbagai kalangan masyarakat terus meningkat, tetapi ada juga orang-orang yang dapat memanfaatkan keadaan ini dengan baik dan melakukan hal-hal yang produktif. Dalam masa pandemi yang masih berlangsung bulan suci ini dan entah sampai kapan, mestinya kita lebih tawadhu’ lagi kembali kepada yang maha Kuasa, Dialah yang menguasai segala sesuatu, maka bagi sebagian muslim ini adalah momentum yang tepat untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya dan tetap ber-positive thinking pada Allah.

Warga masyarakat dengan kemampuan literasi tinggi akan melihat bagaimana seharusnya bersikap. Kita mestinya mampu untuk lebih adaptif dalam upaya menuju keseimbangan baru, yaitu dengan mengikuti protokol/anjuran pemerintah untuk segera terlepas dari pandemi ini. Masyarakat dengan tingkat literasi rendah dikhawatirkan akan cenderung ngeyel atau bahkan menyepelekan. Kebangkitan mindset mestinya muncul dari inidividu-individu yang sadar bahwa social distancing yang dilaksanakan dengan tertib akan berbuah manis. Kita akan segera melakukan banyak perubahan seusai berlalunya pandemi ini. Kebangkitan adalah satu kata kunci di era ini, bangkit untuk perubahan yang lebih baik dari segala sendi kehidupan. Pendidikan harus bangkit dan mampu mengambil hikmah dari masa berlelah-lelah dengan metode daring.

Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-112. Generasi muda Indonesia sebagai generasi milenial diharapkan bisa secara sadar memaknai peringatan kali ini sebagai momentum untuk berubah dengan mengambil hikmah dari wabah yang menjadikan kita serba terbatas dalam bergerak dan berkreasi. Generasi muda diharapkan lebih memahami arti kebersamaan, baik dalam keluarga, bangsa dan negara dan menyadari pentingnya perubahan sehingga akan membawa Indonesia pada masa kejayaan di pentas global. “Bangkitlah Indonesia! Bersatulah Indonesia!”

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close