Kebangkitan Pasca Pandemi: Momentum Hari Kebangkitan Dari Indonesia Untuk Dunia

Bagaimana membawa bangsa ini kepada kebangkitan yang sesungguhnya?

Sejarah Kebangkitan Indonesia

Membaca sejarah tentang kebangkitan Indonesia, merupakan masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara, yaitu terbebasnya manusia dari belenggu penindasan yang membawa kesengsaraan dan kedzaliman diantara manusia.

Peringatan kebangkitan Indonesia digelar pertama kalinya adalah setelah 40 tahun berlalu sejak masa berdirinya Budi Utomo (Boedi Oetomo, 20 Mei 1908) yaitu pada 20 Mei 1948 di Yogyakarta. Budi Utomo merupakan  organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr.Soetomo dan teman-temannya yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908, dan digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Meskipun di awalnya organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, kebudayaan dan tidak bersifat politik, namun tidak dapat dipungkiri bahwa berdirinya Budi Utomo menjadi awal pergerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Sehingga Budi Utomo lebih kuat menjadi simbol persatuan (Wikipedia.id; Mei 2020). Meski tidak secara langsung mendeklarasikan gerakan politik tampak dari tujuan yang mereka inginkan mengindikasikan pergerakan politik untuk melepaskan bangsa dari penjajahan.

Kini 112 tahun sejak berdirinya Budi Utomo (1908-2020), dan 75 tahun sejak Indonesia menyatakan kemerdekaanya (1945-2020). Angka 75 tahun ataupun 112 tahun bukan umur yang muda untuk manusia. Meskipun Indonesia jauh lebih muda umurnya dibandingkan dengan negara besar seperti AS (merdeka 4 Juli 1776), namun Indonesia lebih tua dibandingkan Cina/ Tiongkok (merdeka 1 Oktober 1949), Rusia (merdeka 25 Desember 1991), dan lebih tua dibandingkan negara jiran kita Malaysia (merdeka 16 September 1963). Lantas, dibandingkan dengan negara-negara tersebut di atas, dimana posisi Indonesia, dibawah mereka atau di atas mereka? Dengan istilah kebangkitan yang ada, Indonesia telah bangkit atau sebaliknya?

Makna Kebangkitan

Kebangkitan identik dengan kemajuan dan ketinggian taraf pemikiran manusia. Pemikiran yang tinggi akan mewujudkan kebangkitan bagi manusia. Tentulah bukan sembarang pemikiran, ia adalah pemikiran tentang pandangan hidup dan apa yang terkait dengannya. Seperti halnya pemikiran yang berkaitan dengan upaya memperoleh makanan misalnya, itu hanyalah pemikiran instingtif (naluriah) dan rendah. Sebaliknya, pemikiran yang berkaitan dengan pengaturan upaya memperoleh makanan adalah pemikiran yang lebih tinggi.

Pemikiran yang berkaitan dengan pengaturan urusan suatu kaum atau bangsa tentulah pemikiran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengaturan urusan keluarga dan kelompok semata. Namun, pemikiran yang tertinggi adalah pemikiran tentang pengaturan urusan manusia sebagai manusia, bukan manusia sebagai individu. Karena, pemikiran inilah yang akan melahirkan kebangkitan. Lantas pemikiran seperti apa yang harus kita bangun saat ini, di saat wabah melanda dunia tidak terkecuali Indonesia. Bagaimana membawa bangsa ini kepada kebangkitan yang sesungguhnya?

Kebangkitan seorang individu dan bangsa akan menjadikan urusan pengelolaan manusia seluruhnya lebih tinggi derajatnya dibandingkan urusan pribadi dan kelompoknya. Tidak jarang semangat kebangkitan itu justru akan mengorbankan dirinya. Kita dapat pelajaran dari para pejuang negeri ini, sadarkah apa yang mereka lakukan justru akan mengorbankan dirinya sendiri?. Tentu mereka faham dan sadar. Dan mereka tetap melanjutkan dikarenakan adanya pemahaman menempatkan manusia pada posisi dan derajat dari penciptanya adalah terpenting dibandingkan diri dan keluarganya. Manusia yang bangkit akan senantiasa menempatkan pemikiran dan pemahamannya tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk masyarakat, bangsa, negara dan agama. Meskipun jiwa raga taruhannya. Pemikiran dan pemahaman semacam itu tidak akan muncul tanpa adanya dorongan yang bersumber dari cara pandang mereka tentang kehidupan atau ideologi.

Kenapa Umat Islam Di Indonesia Tidak Bisa Bangkit

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim, jumlah sebaran penduduk muslim Indonesia terbesar diantara negara-negara dunia. Indonesia juga negara yang memiliki SDM berlimpah, baik dari kalangan intelektual, ahli dan profesional, ulama’, hingga pekerja kasar. Indonesia juga merupakan negara yang berlimpah akan sumber daya alam, namun anehnya kekayaan alam yang kita miliki saat ini belum bisa dinikmati oleh bangsa ini. Bagaimana tidak, disaat harga minyak dunia turun drastis, harga minyak di Indonesia tetap mahal melebihi harga produksi yang berlipat bahkan dibandingkan negara-negara lain, Indonesia menerapkan harga BBM tertinggi di Asia Tenggara. Indonesia juga berlimpah dengan barang-barang tambang lainnya dari jenis logam mulia dan bahan bakar seperti emas, perak, batubara, nikel, gas alam, bauksit dana banyak lagi sumberdaya alam yang ada di negeri ini.

Ironi negeri ini, negara luas, kaya akan sumber daya alam, kaya akan sumberdaya manusia, namun kehidupan rakyatnya dalam kekurangan, kemiskinan, ketidakmampuan, dan berbagai problem hidup lainnya. Di sisi lain, besarnya kekuatan umat Islam belum mampu memberikan gerakan kebangkitan yang nyata kepada umat dan dunia. Sebaliknya, umat Islam justru pada kondisi dicurigai, didzalimi, diadudomba, dimanfaatkan, tertindas, lantas kemana jiwa Islam? Kemana pemikiran Islam? Kemana pemahaman Islam? Kenapa umat Islam di Indonesia tidak bisa bangkit? Kenapa umat Islam di Indonesia makin terpuruk dan tertindas? Hal itu karena umat Islam telah lepas dari identitasnya, umat Islam telah dilanda penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), sungguh sabda Rasulullah tentang wahn telah nyata.

Sekarang kita berada pada masa dimana negara seluruh dunia diuji oleh Allah dengan pasukan kasat mata yang membawa penyakit menular dan diberi nama COVID 19. Bermula dari Wuhan Cina pada akhir 2019 dengan cepat menyebar ke seluruh dunia tanpa terkecuali Indonesia. Wabah Covid 19 menunjukkan derajat ketidakmampuan kita sebagai manusia di hadapan penciptaNya Allah SWT. Lima bulan berlalu sejak awal 2020, hingga sekarang ini (Mei 2020) belum ada negara yang menyatakan sukses melawan pandemi Covid 19. Bahkan negara adidaya seperti AS dan China kuwalahan dan angkat tangan dengan pasukan corona virus ini. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Di saat wabah melanda, ketidakadilan di negara ini tetap nyata. Peraturan-peraturan yang dibuat hanya menyenangkan kelompok elit dan berdampak peluh dan air mata pada kelompok rakyat kecil tak berdaya. Di saat kebijakan penyelesaian wabah pandemik belum menunjukkan hasil yang nyata, rakyat justru disuguhi rencana kebijakan peraturan kontroversial dan penuh masalah sejak awal munculnya; Perpu Corona, Perpres BPJS, omnibus law, UU minerba, belum lepas dari ingatan pengebirian tugas dan fungsi KPK yang semakin menjauhkan dari prestasi dan komitmen pendiriannya. Lantas untuk siapa semua kebijakan itu dibuat? Untuk rakyat, atau untuk kelompok dan golongan tertentu saja?.

Faktor Apa yang Membuat Umat Bisa Bangkit?

Berbicara tentang kebangkitan, ada beberapa faktor yang dapat mengantarkan umat dan bangsa pada suatu kebangkitan. Kebangkitan bisa hadir bersamaan dengan adanya ikatan yang kuat dari suatu masyarakat atau golongan untuk bersama-sama dan bekerjasama dalam mencapai tujuan. Contohnya adalah persamaan rasa, persamaan derita, dan persamaan tujuan; seperti rasa terjajah, rasa tertindas, dan sejenisnya merupakan faktor yang dapat mengantarkan pada kebangkitan. Setelah mereka terlepas dari penindasan dan penjajahan, maka kebangkitan yang ada pada mereka akan memudar dan hilang. Ikatan yang kuat adalah ikatan berdasarkan pada ideologi. Yaitu keyakinan/ akidah yang memancarkan aturan. Dimana manusia yang bangkit akan terikat dengan pemikirannya, dan akan membentuk pemahamannya selanjutnya akan membentuk prilakunya.

Barat bangkit karena ideologinya, yaitu Sekularisme-Kapitalisme. Umat Islam dulu bangkit karena ideologinya, yaitu Islam. Sebaliknya, Indonesia yang mengklaim bukan negara sekular dan bukan pula negara agama (Islam) tidak pernah bangkit. Disebabkan landasan kebangkitannya tidak ideologis. Sehingga, ekonomi amblas, dikuasai oleh segelintir orang dan pihak asing. Akidah umat Islam tidak terjaga. Pihak-pihak yang merusak dan mengacak-acak Islam malah dilindungi dan dilestarikan. Umat Islam dengan mudah dimanfaatkan, diadudomba, bahkan dirusak, dihina, dan fitnah dengan kejam.

Umat Islam yang memegang amanah urusan rakyat seolah lupa dengan agama yang mengatur seluruh urusan kehidupanya. Maka wajar justru banyak koruptor yang beragama Islam, banyak departemen-departemen korup yang dipimpin oleh orang Islam. Dan banyak penguasa muslim yang memutuskan kebijakan-kebijakan yang justru menyengsarakan rakyatnya, berlindung dengan jabatannya untuk mendapatakan keuntungan pribadi dan golongan, bahkan mereka tidak malu bermesraan dengan asing yang merupakan musuh nyata dan garang terhadap rakyat sebangsa karena dianggap beban semata. Kesalahan pemikiran, mengantarkan pada kesalahan pemahaman, kesalahan pemahaman akan mengantarkan pada kesalahan prilaku dan sikap. Ujung dari problem tersebut adalah problem ideologi yang mereka emban.

Momentum Pandemik Covid-19 Membangun Kesadaran Umat

Seorang muslim hendaklah memiliki pemikiran dan sikap yang berbeda dalam menghadapi masalah dan ujian dibandingkan umat lainnya. Wabah haruslah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk bangkit dan kembali pada Rob nya. Wabah semakin menguatkan bukti bahwa hanya Allah sang pencipta yang harus ditakuti dan ditaati melebihi segalanya. Ketaatan dan rasa takut pada Allah diwujudkan dalam berprilaku, membuat keputusan, hingga kebijakan bagi pemegang kekuasaan. Ketaatan pada pencipta manusia, akan menjadikan kita manusia yang tepat dalam bersikap dan membuat keputusan atas konsekuensi dari kepemimpinan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sikap muslim yang taat adalah selalu sadar bahwa Allah sang pencipta senantiasa memantau kita dan melihat apa yang kita kerjakan dari kebaikan ataupun kejahatan yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Kebangkitan hakiki adalah berpindahnya umat dari pemikiran rendah tentang urusan makan semata kepada pemikiran tertinggi dihadapan pencipta, yaitu taubat yang sesungguhnya. Allah berfirman: “Sungguh telah tampak kerusakan di bumi dan lautan, yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia”. Kemunculan virus corona dan penyebarannya, hingga jatuhnya banyak korban sakit hingga meninggal dunia sungguh dikarenakan ketidaktaatan manusia pada aturan RobNya. Islam telah datang menjadi petunjuk, nasehat, hingga peringatan bagi orang-orang yang berfikir. Islam mengatur hingga kehidupan manusia pun urusan wabah. Rasulullah SAW telah bersabda: “Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad)”.

Tidak ketinggalan pengaturan hubungan sosial kemanusiaan, saling membantu dan meringankan beban sesama dengan berbagi dengan apapun yang bisa kita berikan untuk turut meringankan beban korban. Dan yang lebih utama adalah menyeru mengingatkan penguasa akan tanggungjawabnya memenuhi kebutuhan rakyat. Seorang muslim yang memegang amanah urusan rakyat hendaklah mengaitkan setiap kebijakan yang diambilnya berdasarkan petunjuk yang Allah berikan. Seorang muslim hendaklah senantiasa yakin bahwa aturan yang bersumber dari sang pencipta adalah yang akan menjadi solusi setiap permasalahan yang ada, termasuk solusi menghadapi musibah wabah saat ini.

Pengaturan urusan kehidupan manusia bagi seorang muslim hendaklah didasarkan pada pemikiran mendasar tentang hakikat hidup dan kehidupan, yaitu pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan dan manusia, yaitu akidah Islam yang memancarkan pandangan hidup Islam. Dengan Ideologi tersebut kebangkitan hakiki akan terwujud, karena tingginya taraf perekonomian dan tingginya akhlak tidak akan melahirkan kebangkitan hakiki.

Penutup

Jadi, kebangkitan hakiki bagi Indonesia adalah terhimpunnya umat Islam di Indonesia dengan pemikiran (syariah) Islam, mengarahkan hidup mereka pada pemikiran (syariah) Islam, dan siap diatur dan menerapkan aturan berdasarkan pemikiran (syariah) Islam. Kebangkitan model ini akan mendatangkan kemaslahatan dikarenakan pemikiran dan penerapan syariah Islam, sebagaimana qaidah fiqh: dimana ada syariah, di situ ada maslahah. Kebangkitan Islam ini akan membentuk karakter unggulan manusia yang berkepribadian Islam; stay at home, bantusesama, buat kebijakan yang adil dan solutif dalam menyelesaiakn urusan rakyatnya, Sehingga terwujud pemimpin yang dipercaya dan dihormati, rakyat yang dilindungi. InsyaAllah.

Wallahu A’lam bis-showab

(Visited 42 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020